Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 73 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Ternyata kedatangan Rayhan ke rumah yang ditempati oleh Asa dan Altair tidak lain untuk membawa keduanya kembali ke kota.


Asa mungkin tidak keberatan akan hal itu, tapi berbeda dengan Altair yang sepanjang perjalanan pulang hanya cemberut. Bahkan ketika papahnya melayangkan candaan ia tidak menyahut sekalipun.


Sedangkan Asa tampak menikmati perjalanan yang ternyata sangat indah jika di lewati saat malam hari. Ah ia jadi teringat ketika dirinya diculik oleh Altair tanpa di duga.


Mengingat hal tersebut ia memicingkan matanya pada sang kekasih yang tengah memejamkan mata. Beberapa menit kemudian ia malah tersenyum.


"Nggak jadi marah deh, soalnya tampan," celetuk Asa, menyandarkan kepalanya di pundak Altair.


Siapa sangka pria itu langsung merengkuh tubuh Asa, mendaratkan bibirnya di kening Asa diam-diam agar tidak ketahuan oleh sang papah yang berada di jok depan.


"Ak-aku ...."


"Sssttttt," desis Altair.


Asa membeku, tatapan ada desisan Altair seakan mantra untuknya. Gadis itu hanya mampu menikmati pelukan dan elusan Altair tanpa bisa menolak. Sakin nyamannya ia sampai tertidur dalam dekapan pria yang sangat ia cintai.


Jam 11 malam, barulah mobil yang ditumpangi Asa sampai di depan rumah. Tepat saat Altair turun dengan mengendong Asa yang telah terlelap, pintu rumahpun terbuka sangat lebar.


Bunda Asa bersama Ayana yang sejak tadi menunggu terlihat berdiri di ambang pintu.


Berpisah kurang lebih satu minggu membuat Ara begitu merindukan putri sulungnya.


"Langsung ke kamarnya aja, kak," ucap Ayana mengekori Altair yang tampak acuh.

__ADS_1


Sementara bunda Ara berbicara dengan papah Rayhan yang menolak untuk masuk ke rumah.


"Makasih buat semuanya," ucap Ara.


"Nggak gratis."


"Huh?" Bunda Ara kebingungan akan ucapan Rayhan.


"Bayarannya, Asa harus jadi menantu aku. Pertunangan tetap terjadi dan akan dilaksakan dalam waktu dekat," cengir Rayhan terkesan memaksa.


Bukannya tertekan Ara malah mengangguk sambil tersenyum lebar. "Oke banget. Oh iya, sekarang abang di mana? Dia nggak pernah kerumah setelah aku usir."


"Habis semedi dia. Besok telpon aja dia pasti balik. Tau sendiri suami kamu gengsian."


Ayolah Rayhan pernah muda, apalagi masa mudanya ia habiskan dengan perempuan di luar sana. Modus tinggal di dalam kamar, berduaan di gelepan sering kali Rayhan lakukan. Jadi tidak salahkan jika ia terus mencurigai putranya?


"Altair nggak kayak papah!" kesal Altair yang menyadari tatapan papahnya. "Kita musuhan, Altair tidur sama mamah!"


"Turun!"


"Nggak!" sahut Altair.


"Dasar anak durhaka. Turun dan tidur di jalan!" Mendorong Altair turun dari mobil.


"Papah!" teriak Altair, tapi Rayhan telah pergi bersama mobil yang ia tumpangi tadi.

__ADS_1


Pria tampan itu menghembuskan nafas kasar ketika melihat lampu telah padam dan pintu rumah Asa sudah tertutup rapat.


"Lama-lama aku pecat tuh si Rayhan jadi papah," gurunya.


Duduk di teras rumah setelah menghubungi Jihadi. Altair berteman dengan nyamuk betina yang kagatelan terus menggodanya.


"Bisa berhenti nyanyi nggak sih? Suara lo jelek anj*ing!" bentak Altair pada nyamuk yang terus mengeluarkan suara bising di telinga.


"Itu nyamuk kak, bukan anji*ng," ralat Ayana yang ternyata berdiri tepat berada di belakang Altair.


"Belum tidur lo?" tanyanya tanpa menoleh.


Ayana mengeleng, ikut duduk di samping Altair. Memberikan liotin anti nyamuk pada pria yang sampai saat ini masih dia cintai.


Hanya saja ia berusaha melupakan demi kakaknya, terlebih setelah tahu kakanya sudah menderita sejak lahir dengan penyakit bawaan.


"Makasih udah bawa kak Asa kabur. Berkat kak Altair, ayah bisa sadar dari kesalahannya. Berkat kakak aku bisa tahu kalau selama ini kak Asa nggak benar-benar bahagia."


"Hm." Altair sibuk mengoleskan liotin pada tangan dan kakinya.


"Maafin Ayana karena udah buat hubungan kalian sempat kacau. Aya nggak tau kalau kakak suka sama kak Asa. Aya sering nanya kek kak Asa, apa dia suka sama kakak, tapi jawabannya nggak."


Altair tertawa sumbang, entahlah tapi sampai saat ini ia masih kesal pada Ayana.


"Dia kan emang gitu, mendahulukan kebahagiaan orang lain ketimbang diri sendiri."

__ADS_1


__ADS_2