
Asa, gadis itu terus berlari di koridor sekolah menuju rooftop tempatnya selalu bersembunyi jika tidak kuasa menahan air mata dan memperlihatkan senyuman pada semua orang.
Gadis itu menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangan, pipi Asa terasa kebas, kepalanya sakit, jantungnya terasa nyeri dan bercampur menjadi satu seakan ingin membunuh Asa detik itu juga.
Hinaan yang Iren lontarkan, tamparan dan dorongan dari teman-temannya telah Asa dapatkan karena mengira yang menggoda Altair adalah dirinya.
Asa meremas dadanya yang terasa sesak, ternyata resiko mencintai pria yang menjadi public figure sangatlah besar. Asa ingin menyerah mencintai Altair, tapi kebahagiannya ada pada pria itu.
Matahari terik yang menerpa tubuh Asa perlahan-lahan menghilang tergantikan bayangan seseorang yang seakan menghalangi cahaya matahari.
Asa yang penasaran mendongakkan kepalanya, terkejut melihat Mark berdiri tanpa dosa menghalangi matahari yang menerpa.
Dia buru-buru menghapus air matanya, tersenyum pada Mark dan bersikap seolah-olah baik-baik saja.
"Ngapain lo di situ? Minggir, gue mau berjemur Mark!" bentak Asa mendorong kaki Mark, tapi pria itu bergeming di tempatnya.
Marks memberikan satu botol kecil berupa pil yang dia temukan dibawah meja Asa.
"Obat lo bukan?"
"Bukan!" Merebut botol kecil tersebut. "Gue nggak sakit ngapain minum obat."
Bukannya marah, Mark malah tertawa. "Gengsi banget sih. Kalau sakit bilang sakit aja kali, nggak ada yang bakal ngasih hadiah kalau pura-pura kuat," ledeknya.
Pria itu menunduk itu mengelus pipi Asa yang memerah. "Kenapa nggak ditampar balik? Kenapa nggak ngehina balik atau seengaknya membela diri?" Berbagai pertanyaan keluar dari mulut pria bertindik itu.
__ADS_1
Asa melengos. "Bukan urusan lo."
"Terlalu baik juga nyiksa kali. Elah."
"Lo kenapa sih Mark selalu ganggu gue?"
"Suka kali." Cengir Mark.
Tidak ingin membuang waktu lebih lama Asa akhirnya berdiri, menatap Mark.
"Maaf tapi gue nggak bisa temanan sama lo lagi!" ucap Asa dan berlalu pergi.
Asa membenci Mark, karena pria itu telah menyaksikannya menangis, Mark mengetahui bahwa selama ini dia minum obat yang entah untuk apa.
Asa membenci orang yang tahu titik sedihnya.
Sepulang sekolah, Asa menghabiskan waktunya hanya di dalam kamar. Membaca novel ataupun belajar agar tidak larut dalam kesedihan.
Gadis itu menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Ini sering kali terjadi jika Asa sengaja melewatkan obatnya selama satu hari.
Dia berlari ke kamar mandi untuk membersihkan darah yang ternyata mengalir di hidungnya. Setelah selesai dan berniat untuk melanjutkan membaca, Asa malah mendapati adiknya tengkurap di atas ranjang.
Mau tidak mau Asa memaksakan senyumnya.
"Eh, sejak kapan ada di kamar kakak?" tanya Asa basi-basi, ikut naik ke ranjang. Bedanya dia telentang sebab jantungnya tidak kuat jika harus tengkurap seperti yang Ayana lakukan.
__ADS_1
"Kakak udah liat berita itu? Ayana tahu itu kakak, soalnya kakak pakai hodie agak coklat kemarin. Kok aku kesal ya?"
"Kesal sama kakak?"
Ayana mengeleng cepat. "Ish, ngapain Ayana kesal sama kakak? Ayana tuh kesal sama fans-fans yang nyumpahin cewek di foto nggak bahagia, itu sama aja dia nyumpahin kakak. Lagian kalian cuma temenan."
Asa tertawa, mengusap pipi Ayana yang mengembung. Merasa senang adiknya sayang padanya.
"Udah resikonya kalau jadi terkenal Aya, apa-apa pasti dipermasalahkan termasuk pacar."
"Tapi Ayana takut kalau ada yang tau dan macem-macem sama kakak!" Ayana membalik tubuhnya dan memeluk Asa cukup erat.
Gadis berusia 15 tahun itu sangat menyayangi kakaknya lebih dari apapun. Ayana tidak akan tega jika ada yang menyakiti Asa.
"Aduh sesak Ayana," canda Asa.
Ayana malah semakin mengeratkan pelukannya dan tertawa bersama. Sampai atensi keduanya teralihkan pada notifikasi ponsel masing-masing.
Asa dan Ayana saling pandang, setelahnya memeriksa ponsel dan terkejut melihat postingan berupa pernyataan dari Agensi TB.
Pernyataan tentang foto yang tengah beredar di sosial media.
Terkait foto Altair Evando semalam, gadis yang ada di dalam foto hanyalah Staf. Mohon bijaksana dalam berkomentar.
Terimakasih.
__ADS_1
Mata Ayana membulat melihat pernyataan tersebut, ada sedikit tidak terima Asa dianggap hanya seorang staf.
"Apasih Agensinya kak Altair, kok ngatain kakak Staf? Harusnya kan ngomong jujur aja kalau teman atau sepupu," kesal Ayana melempar ponselnya, berbeda dengan Asa yang terdiam usai membaca kalimat tersebut.