
Setelah sarapan bersama, Asa diajak oleh Altair jalan-jalan di sekitar taman rumah sakit. Terlebih alat-alat yang membuat Asa kesusahan bergerak telah dilepas sebab kondisinya jauh lebih baik.
Dokter mengatakan Asa adalah pasien yang sangat kuat sehingga penyakit mematikan seperti jantung tidak membuatnya terlihat lemah meski penyakitnya mulai parah.
Senyuman gadis itu mengembang sempurna saat merasakan semilir angin bersama anak-anak yang berlarian di taman tersebut.
Apalagi yang menemaninya saat ini adalah Altair, pria yang sangat dia cintai.
"Sayang, mau makan sesuatu nggak?" bisik Altair di telinga Asa. Pria itu dengan setia mendorong kursi roda tanpa merasa lelah ataupun risih.
Asa menganggukkan kepalanya cepat. "Aku mau makan es krim rasa coklat, boleh ya? Dokter nggak bakal marah kok," bujuk Asa mengedip-edipkan matanya, sehingga Altair tidak kuasa menolak.
"Gemes banget dah pacarnya Altair. Tunggu di sini, aku bakal balik dalam 2 menit," ujar Altair dan berlari keluar dari lingkungan rumah sakit untuk mencari es krim.
Sakin semangatkan, pria itu tidak memperdulikan dirinya yang mungkin akan bertemu dengan fansnya di rumah sakit.
Karir? Altair sudah tidak peduli hal itu setelah tahu kekasihnya mengidap penyakit mematikan. Altair hanya ingin membahagiakan Asa di sisa hidupnya.
"Maaf Altair, aku egois karena mikirin kebahagiaan diri sendiri," gumam Asa ketika Altair tidak lagi terlihat dari pandangannya.
Merasakan kursi roda yang ia duduki bergerak, Asa menoleh ke belakang dan terkejut melihat bunda Ara dan ayah Samuel tengah berdiri.
"Sendirian?" tanya Samuel.
__ADS_1
"Uuummm, tadi sama Altair om. Tapi dia lagi beli es krim," jawab Asa gugup.
"Sama pacarnya ternyata, kita ganggu nggak nih?" canda bunda Ara mencolek dagu Asa, membuat pipi Asa memerah seperti kepiting rebus.
"Kalau gitu kita tunggu di sana!" Samuel menunjuk pohon yang terlihat rindang.
Asa mengangguk cepat, menikmati dorongan demi dorongan yang dilakukan oleh ayah Samuel.
Jika boleh jujur hati Asa berbunga-bunga karena ayah Samuel mulai perhatian padanya.
Sesampainya di bawah pohon yang rindang, Senyuman Asa semakin melebar ketika kedua tangannya di genggam oleh bunda Ara dan ayah Samuel.
"Asa pasti sembuh secepatnya, iya kan Bang?" tanya Ara.
"Jadi gini rasanya dilibatkan dalam pembicaraan?" batin Asa bertanya-tanya.
Sementara di sisi lain, Altair berdiri tidak jauh dari Asa dan orang tuanya. Di tangan pria itu ada dua es krim dengan rasa yang berbeda.
Altair bukan takut mendekat, melainkan kesal karena melihat ayah Samuel begitu perhatian pada Asa sebab misi tersendiri.
Jangan mengira Altair tidak tahu apapun, pria itu jauh lebih dulu tiba di rumah sakit dibandingkan ayah Samuel. Namun, urung masuk sebab ingin mendengar pembicaraan Asa dan ayah Samuel.
Sebenarnya Altair kecewa pada keputusan Asa yang rela melepaskannya demi sebuah kasih sayang dari ayah yang tidak pernah menghargai pengorbanan Asa, tapi Altair tidak bisa marah pada Asanya.
__ADS_1
Ia tahu Asanya dilema dan merasa bersalah meski berdiri di sisi manapun.
"Dasar om-om bau tanah! Nyesel gue jadi ponakanya," gerutu Altair.
Pria itu melangkah mendekat setelah selesai mengatur emosi dan ekspresi layaknya tidak tahu apa-apa. Jangan mengira Altair tidak memiliki rencana apapun. Ia hanya menunggu kondisi Asa membaik dan menjalankan rencananya.
"Es krimnya udah datang tuan putriku!" seru Altair langsung berlutut di hadapan Asa, menyerahkan dua es krim seakan memberi Asa kesempatan untuk memilih.
Setelahnya ia beralih pada bunda Ara yang tersenyum lebar, berbeda dengan Samuel yang tampak datar.
"Ada ayah dan ibu calon mertua," celetuknya, sehingga mendapatkan cubitan diperut oleh Asa.
"Jangan dengerin Altair, Yah, Bunda," ucap Asa merubah panggilannya pada ayah Samuel agar Altair tidak curiga.
"Kalian habiskanlah waktu berdua, bunda sama ayah mau pergi dulu." Ara mengecup pipi Asa sebelum pergi.
"Ayah pergi dulu," ucap Samuel dan mengikuti langkah istrinya.
"Kenapa tiba-tiba baik? Bukannya benci banget sama Asa?" tanya Ara sedikit ketus.
"Bukannya kamu yang nyuruh?"
"Sejak kapan Abang dengerin aku kalau itu tentang Asa? Awas aja kalau Abang misahin Asa dan Altair!"
__ADS_1