Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 69 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Jarum jam telah menunjukkan angka 11 pagi, perut Asa mulai kembali kosong karena hanya memakan roti bersama Jihadi tadi pagi.


Gadis itu mengigit bibir bawahnya setelah memeriksa kulkas, tidak ada bahan yang bisa dimasak untuk makan siang nanti, sementara Altair tidak kunjung bangun.


Asa bingung harus meminta bantuan pada siapa untuk saat ini. Dengan langkah pelan dan berat hati, Asa memutuskan untuk menghampiri Altair.


Ia menoel-noel pipi Altair yang sedikit mengembung karena tidur seperti memakan sesuatu.


"Altair, ayo bangun! Aku lapar," pinta Asa dengan suara lirihnya.


Namun, yang dibangunkan tidak kunjung bergerak.


"Altairnya Asa, ayo bangun ih! Nggak ada stok bahan makanan. Aku lapar, kamu juga belum makan siang." Kali ini Asa bukan menoel-noel pipi Altair, melainkan menguncang lengannya.


"Hm."


"Bangun!"


"Bentar lagi, Sa. Aku ngantuk banget," gumam Altair dengan kesadaran belum sepenuhnya. Pria itu sangat mengantuk karena sampai di rumah jam 4 pagi.


"Kamu biarin aku lapar? Katanya mau jagain dan nggak mau aku ...."


"Iy Sa, iya ini udah bangun." Altair langsung merubah posisinya menjadi duduk tapi belum juga membuka mata.


Rambut yang acak-acakan bukannya terlihat jelek, malah Altair semakin tampan di mata Asa.


"Tampan banget pacarnya Asa," pujinya tanpa sadar. Duduk di samping Altair, merapikan rambut yang sedikit berantakan.


Sementara yang dipuji merebahkan tubuhnya pada Asa, menyembunyikan wajah diceruk leher sang kekasih.


"Sepuluh menit lagi ya, kepala aku sakit."

__ADS_1


Asa mengangguk mengerti, sebenarnya ia tidak tega membangunkan Altair. Tapi ia lapar begitupun dengan Altair yang pasti lapar setelah bangun tidur nanti.


"Bobo yang nyenyak bayi besarnya Asa. Terus setelahnya kita jalan-jalan ya. Beli bahan makanan di pasar dan bermain di pantai. Janji nggak bakal lari-larian lagi." Mengusap kepala Altair tanpa sadar hal itu semakin membuat kekasihnya semakin terlelap.


***


"Lapar banget," keluh Altair yang baru saja masuk ke mobil setelah bersiap-siap.


Asa yang mendengarnya hanya bisa mengeleng. Gadis itu telah siap dengan celana jeans dan baju kebesaran Altair. Mau bagaimana lagi, ia dibawa kabur tanpa membawa apapun.


"Aku udah ingetin tadi, tapi lanjut tidur," omelnya.


"Maaf Sayangku. Oh iya, dedeknya nggak papa kan?" Mengelus perut rata Asa setelah berada di dalam mobil.


Lantas saja Asa menjauhkan tangan Altair dengan mata melotot.


"Apansih Altair, yang hamil siapa coba!"


"Sekolah dulu!"


"Iya sekolahnya pas hari senin-jum'at. Jadi suami kamu sabtu-minggu."


"Halu."


Altair terkekeh, mejawil hidung Asa sebelum melajukan mobil menuju pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah.


Perjalanan menuju pasar ditemani oleh ombak dari laut yang memantul pada bebatuan yang tidak terlalu besar.


Laut itu terlihat sangat cantik dinikmati dari jalanan.


"Segar banget pasti," gumam Asa.

__ADS_1


"Nanti jalan-jalannya kalau sore, sekarang lagi terik."


Asa mengangguk antusias. Memandangi tangannya yang terus digenggam oleh Altair.


Tidak terasa keduanya sampai di pasar yang tidak terlalu ramai, mungkin karena sudah siang. Hal tersebut membuat Altair dan Asa leluasa memikih sayur dan daging untuk stok beberapa hari.


Keduanya tampak bahagia, terlihat seperti pengantin baru yang sedang belanja bulanan.


"Masih ada nggak?" tanya Altair, tangganya telah penuh oleh belanjaan dari sang kekasih.


"Telur sama berasnya aku liat di dekat tempat perkiran ada. Kita ke sana dulu," usul Asa berjalan lebih dulu.


"Udah ngerti urusan rumah dan makanan, fiks Asanya Air idaman!" pekik Altair tanpa mempedulikan perhatian beberapa orang. Untung saja di sana Altair tidak terlalu dikenal oleh masyarakat.


"Jangan teriak-teriak!" tegur Asa.


"Terserah akulah!"


"Ish nyebelin. Ayo buruan Altair!"


"Iya istriku!"


"Belum Altair!"


"Nanti kan bakal jadi istri, kenapa nggak dibiasain dari sekarang aja?"


"Maybe!" sahut Asa. Menyerahkan dua lembar uang yang baru saja dikeluarkan dari dompet Altair. Ya dompet Altair ada pada Asa.


"Sok inggris," ledek Altair.


"Ish nyebelin, mentang-mentang pintar!"

__ADS_1


__ADS_2