
Asa, gadis itu mengerjap-erjapkan matanya secara perlahan karena cahaya lampu sangatlah terang menyilaukan mata.
Gadis itu mengeliat perlahan, terkejut mendapati dirinya ada di sebuah kamar yang terlihat sangat menarik.
Kamar yang berada di lantai bawah dengan dinding kaca di sebelah kiri, membuat Asa dapat menikmati kolam dan taman bunga secara bersamaan tanpa keluar dari kamar tersebut.
Namun, bukan itu yang menjadi fokus Asa, melainkan pikirannya yang bertanya-tanya di mana ia sekarang.
Asa merengut ketika pria yang sedang berdiri di pinggir kolam membalik tubuhnya lalu tersenyum tanpa dosa.
Asa turun dari ranjang, memijakkan kakinya pada lantai marmer yang membentuk ukiran kayu hingga terlihat sangat indah.
Desain kamar tersebut terasa sangat nyaman untuk Asa.
"Akhirnya pacar aku bangun," sapa Altair bersandar pada daun pintu sambil bersedekap dada.
"Mau makan apa nyonya?"
"Kita di mana dan sekarang jam berapa?"
"Jam 7 malam, dan kamu ada di rumah kita," jawab Altair. Berjalan mendekati Asa yang rambutnya tampak berantakan.
Salahkan Altair karena memberikan obat tidur pada air minum yang ia berikan pada Asa saat di mobil. Salahka Altair juga karena telah lancang menculik gadisnya yang berencana pergi dari hidupnya.
__ADS_1
"Aku mau pulang!" Asa menyambar ponsel dan tasnya yang berada di atas meja. Berjalan cepat keluar dari kamar.
Pikiran gadis itu langsung tertuju pada ayah Samuel, Asa tidak ingin dibenci oleh pria yang sangat ia inginkan kasih sayangnya.
"Pulang aja kalau kamu tahu akan kemana!" teriak Altair, berhasil menghentikan langkah Asa yang berada di ambang pintu.
Rumah berlantai satu dan tidak terlalu besar itu cukup untuk tinggal berdua hingga hari tua.
Altair menghampiri Asanya masih dengan senyuman. Jika Asa bisa Egois maka ia akan lebih egois lagi.
"Aku mau pulang Altair! Jangan bertingkah atau aku bakal benci sama kamu!" bentak Asa dengan nafas memburu.
Merasa kesal karena Altair semakin menjadi.
"Egois!" bentak Asa, menyentak tangan Altair lalu berlari keluar dari halaman rumah.
Berjalan seorang diri di kegelapan malam tanpa ada satupun kendaraan yang lewat di jalan yang ia tapaki sendiri. Sesekali Asa menoleh ke belakang untuk menatap rumah minimalis bertemakan kayu tersebut.
Lututnya bergetar, air matanya luruh. Ia takut sekarang, takut semuanya akan kacau padahal Asa mulai mendapatkan kasih sayang dari ayah Samuel.
"Asa berhenti! Kenapa kamu egois hah? Kenapa kamu lebih milih ninggalin aku dibandingkan dia yang bukan siapa-siapa? Om Samuel bahkan benci sama kamu!" pekik Altair dari kecajuahan, berlari dengan jaket bulu di tangannya.
Sementara Asa tengah terpaku di depatnya. Berjongkok di tengah jalan dan mulai terisak pilu.
__ADS_1
Altair datang, menutupi tubuh Asa dengan jaket tebal agar tidak kedinginan.
"Nggak ada yang bakal sayang sama kamu melebihi rasa sayang aku, Sa," bisik Altair. "Maaf aku lancang ngambil kamu dari mereka, aku nggak mau kamu hancur di rumah yang seharusnya menjadi tempat istirahat." Altair memeluk tubuh Asa yang masih saja menunduk.
Membelai rambut Asa secara perlahan. Menenangkan tanpa meminta agar Asa berhenti menangis, sebab menangis bagi perempuan adalah obat yang paling ampuh.
Terlebih baru kali ini Altair mendengar kekasihnya terisak pilu.
"Jangan korbanin kebahagiaan kamu demi orang lain. Jangan mengemis kasih sayang pada siapapun yang nggak mau beri kamu kasih sayang, karena yang bakal kamu dapatkan hanya kepalsuan," bisik Altair lagi.
Merasa tidak ada penolakan, Altair memutuskan untuk mengendong kekasihnya kembali ke rumah.
Duduk di sofa, di depannya ada sebuah api unggun kecil yang dikhususkan di dalam rumah.
"Aku mau pulang, bunda pasti nyariin."
"Bunda udah tahu kamu sama aku. Jadi kamu nggak punya alasan apapun buat pergi dari sini."
Altair menangkup pipi Asa yang basah akan air mata. "Pantesan sering nangis sembunyi-sembunyi, ternyata kalau nangis cantiknya makin nambah," godanya untuk mencairkan suasana.
"Tunggu ya, aku nyiapin makan malam dulu."
"Pintar masak?" tanya Asa dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Sekalian belajar biar bisa menjain Asa."