
"Mark, kamu mau kemana?" pekik Fely ketika melihat Mark berlari setelah mendengar berita tentang hubungan Asa dan Altair yang resmi berpacaran.
Langkah pria bertindik itu semaki lebar agar sampai dengan cepat di kelas. Mengatur nafasnya yang memburu sambil berdiri di ambang pintu, memperhatikan gadis cantik yang beberapa hari ini dia rindukan kehadirannya di sekolah.
Gadis itu datang, sayangnya malah membawa kabar yang menyakitkan untuk Mark. Dia mengerjap-erjapkan matanya, senyum penuh luka melihat bagaimana Altair mengenggam tangan Asa cukup erat. Keduanyapun tampak tertawa tanpa beban.
Tatapan itu, tatapan penuh cinta yang hanya tertuju pada Altair saja. Kenapa Mark baru menyadarinya sekarang?
"Yang sabar ya?" ucap Fely mengelus tangan Mark yang terkepal. Gadis itu tahu rasanya cinta sepihak, sebab dia telah mengalaminya sekarang.
"Tau nggak sakitnya gimana?" tanya Mark pada Fely tanpa menoleh.
"Taulah, kan aku sekarang ada di posisi itu." Senyum Fely semakin lebar ketika Mark meliriknya sekilas.
Ah sudahlah, Mark tidak akan tahu betapa besar cinta Fely padanya, karena mencintai Asa. Begitupun sebaliknya, Asa tidak akan bisa menyadari sedalam apa cinta Mark, karena cinta Asa hanya untuk Altair saja.
"Fely, Mark?" panggil Asa yang baru menyadari keberadaan temannya di ambang pintu.
Gadis ceria itu langsung merentangkan tangannya, menunggu Fely dan Mark untuk memeluk.
"Kangen sama kalian," ucapnya setelah Fely memeluk, sementara Mark memeluk Altair yang langsung memasang badan agar kekasihnya tidak disentuh.
"Kita juga kangen tau, tapi katanya kamu pergi sama Altair. Oh iya, berita itu beneran ya?" tanya Fely.
"Berita?" Kening Asa mengerut.
"Benar, gue sama Asa pacaran." Mengambil tangan Asa dan mengecup punggung tangannya di depan teman-teman yang berada di dalam kelas.
Sorakan seketika mengelegar di ruangan itu, membuay pipi Asa bersemu merah. Ah sungguh dia sangat malu karena hubungannya benar-benar telah diketahui semua orang.
"Cie-cie pacaran," goda Fely.
"Gais, gue ke ruang guru dulu ya!" pamit Mark dan berlari meninggalkan kelasnya.
Pria itu bukan menuju ruang guru, melainkan roftoop untuk merokok dan menenangkan diri.
__ADS_1
"Sial, gue keduluan sama cowok sombong itu!" teriak Mark melempar puntung rokoknya ke tengah lantai, untung saja tidak ada sampah di sana.
***
Bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa menit yang lalu, semua siswa mulai meninggalkan sekolah satu persatu, begitupun dengan Asa.
Rencana untuk menemani Altair latihan sepulang sekolah harus sirna ketika mobil silver berhenti tepat di depan Asa. Terlebih ketika sosok ayah Samuel turun dengan wajah datarnya.
"Ay-ayah? Ayah udah pulang? Kata bunda, ayah ada penerbangan," ucap Asa dengan mata membola.
Samuel terdiam sebentar, sebelum mengiyakan pertanyaan Asa. Mungkin pria itu mengerti kenapa istrinya berbohong.
Pria paruh baya itu mengacak-acak rambut Asa pelan.
"Ayo pulang, ayah sengaja jemput kamu," ucapnya.
"Uhm, bisa tunggu Altair bentar nggak? Asa udah janji pulang sama dia," sahut Asa sedikit gugup.
Tapi siapa yang menyangka ayah Samuel malah menganggukkan kepalanya, setia berdiri hingga Altair datang dengan wajah masam.
"Altair, aku pulang sama ayah ya?"
"Lah kan udah janji sama aku, Sa."
"Bareng Altair aja, tapi langsung pulang. Asa nggak boleh lelah."
"Hm."
"Makasih ayah." Asa tersenyum lebar, senang ayah Samuel benar-benar telah berubah.
***
"Obatnya jangan lupa diminum, istirahat yang cukup. Jangan lari-larian," ucap Altair mengusap pipi Asa yang bersemu.
Asa mengangguk cepat.
__ADS_1
"Sun dulu," pinta Altair yang belum rela untuk berpisah dengan kekasihnya.
"Nanti sunnya sebelum tidur aja. Sana berangkat, pasti kak Jihadi udah nunggu. Latihannya jangan sampai kebablasan."
Asa melambaikan tangannya, mengusir halus Altair yang masih ingin menempel bagai perangko di sekitarnya.
Dia berjalan sambil bersenandung memasuki rumah. Sepertinya jika meninggal dalam waktu dekat, Asa tidak akan menyesal sebab telah mendapatkan semuanya.
Kasih sayang bunda, cinta Altair dan perhatian ayah Samuel. Bukankah hidup Asa telah sempurna? Lalu apa lagi yang akan dia sesali?
"Asa pulang!" pekik Asa setelah mengucapkan salam.
Langsung bergabung bersama orang tua angkatnya di ruang keluarga. Namun, ada yang berbeda dari gelagat keduanya, seperti orang asing yang baru bertemu.
"Ayah dan Bunda kenapa?" tanyanya bingung.
"Bunda? Bunda nggak papa Sayang. Gimana sekolahnya? Ada cerita apa hari ini?" Mengelus rambut sebahu Asa.
"Sekolah Asa kayak biasa Bunda, tadi ayah juga jemput Asa di sekolah, tapi pulang bareng Altair. Asa senang banget karena ayah sayang sama Asa," antusiasnya, membuat bunda Ara dan Samuel saling pandang.
Samuel dengan tatapan penuh cinta juga penyesalan, sementara bunda Ara penuh selidik dan curiga. Takut terjadi kesepakatan yang tidak dia ketahui seperti sebelumnya.
"Rayhan dan Giani bakal datang buat bicarain pertunangan," ucap Samuel akhirnya.
Kening Asa dan bunda Ara sontak mengerut.
"Siapa yang bakal tunangan?" tanya Ara.
"Asa dan Altair, siapa lagi?" tanya Samuel balik. Pria paruh baya itu berdiri dari duduknya. "Ayah ke kamar dulu," ucapnya dan berlalu pergi.
Sementara Ara masih bingung dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berubah setelah pulang kerumah.
"Ayah kamu kenapa, Sa? Dia ada ngomong sesuatu sama kamu?" tanya Ara karena penasaran.
Asa mengangguk cepat. "Ayah minta maaf sama Asa, sebelum dijemput sama om Ray semalam."
__ADS_1