Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 79 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Hari yang telah ditunggu-tunggu oleh Asa dan keluarga besar Adhitama akhirnya tiba juga.


Hari di mana pertukaran cincin antara Asa dan Altair tepat di hari ulang tahun Asa. Para keluarga besar yang berada jauh telah datang sejak kemarin.


Membuat rusuh di mansion yang hanya akan dihuni jika ada pesta keluarga seperti sekarang ini.


Mansion Adhitama, bukti pernikahan Alana, Rahyhan dan pertunangan Ara dan Samuel. Dan sekarang mansion tersebut akan menjadi saksi cinta antara Asa dan Altair.


"Aduh cantik banget sih ponakan mommy," ucap Alana, sepupu Samuel. Wanita itu tidak henti-hentinya memuji kecantikan Asa, membuat gadis itu tersipu malu.


Setelah terbangun dari koma, ini pertama kalinya Asa bertemu dengan keluarga besar ayahnya. Ini semua karena ayah Samuel tidak pernah mengajak Asa ikut serta jika ada acara keluarga.


Karena tahu diri dan tidak ingin membuat bunda dan ayahnya bertengkar, Asa selalu mengalah. Asa akan pergi ke rumah orang tua bunda Ara jika Ayana berkunjung ke keluarga ayahnya.


"Akhirnya bentar lagi cucu oma bakal nikah," bisik Oma Fany, mami Samuel.


Keributan masih saja terjadi di mansion, berbeda di rumah Rayhan.


Pria yang akan melakukan pertunangan tidak kunjung memunculkan batang hidungnya, padahal satu jam lagi pesta pertunangan akan dimulai.


"Kak Altair mana sih?" gerutu Sabira, yang sudah tidak sabar bertemu dengan sepupunya yang lain.


"Tunggu bentar, mamah telpon managernya," ucap Giani.


Segera meninggalkan ruang tamu untuk menghubungi putranya. Altair berjanji akan datang jam 8 pagi, tapi sampai sekarang belum memunculkan batang hidungnya.


"Akhirnya dijawab juga." Giani menghela nafas lega ketika panggilan keempatnya dijawab oleh Jihadi.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Jihadi.

__ADS_1


"Kira-kira Altair sama kamu nggak? Tante ada acara keluarga tapi dia belum datang ini!"


"Oh Altair masih tidur, Bu. Tunggu saya bangunin."


Setelah sambungan telpon terputus, Jihadi lantas mengunjungi kamar Altair, kebetulan semalam Jihadi tidur di apartemen atas perintah Altair.


Keduanya sedang menyiapkan kejutan untuk Asa yang ulang tahun hari ini. Sepertinya Altair akan sulit dibangunkan, karena tidur jam 3 dini hari.


"Altair!" panggil Jihadi tanpa menyentuh.


Tapi yang dibangunkan tidak kunjung bergerak, bahkan suara dengkurannya semakin terdengar jelas.


"Altair, kebakaran!" teriak Jihadi tepat di telinga artisnya, tapi tetap saja tidak ada sahutan apapun.


Senyuman Jihadi mengembang sempurna, ketika ide gila melintas di kepalanya. Pria itu semakin mendekati Altair, meremas dadanya yang terekspos di atas ranjang.


"Altair Sayang, aku mencintaimu," ucap Jihadi penuh sensasi, tangannya terus bergerak di tubuh seksi Altair.


"Ban*gsat! T*aik! Banci lo Jihadi!" bentak Altair menendang perut Jihadi. Menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.


Bersikap seolah-olah dia adalah anak perawan yang sedang dilecehkan. Sementara Jihadi tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri karena tendangan Altair.


"Mau gue pecat lo hah? Keluar dari kamar gue!" usir Altair dengan dada bergemuruh. Membayangkan Jihadi meraba tubuhnya sangat menjengkelkan.


Sepertinya Altair harus mandi bunga kembang 7 rupa untuk mensucikan dirinya kembali.


"Bu Giani telpon, katanya di tunggu di rumah. Ada acara keluarga," ucap Jihadi masih tertawa.


"Tau!" cetusnya.

__ADS_1


Altair segera beranjak dari ranjang, memperhatikan jarum jam yang telah menunjukkan angka 8 lewat 40 menit, yang artinya dia telah melanggar janji pada mamahnya selama 40 menit.


"Bodo amat." Mengambil ponsel di atas nakas, lalu menghubungi mamahnya.


"Halo Mah? Altair kayaknya nggak ikut ke mansion, Altair ada urusan lain," ucap Altair setelah sang mamah menjawab panggilannya di seberang telpon.


Bagaimana mungkin Altair akan pergi bersama mamahnya, sedangkan dia sudah mempersiapkan kejutan untuk sang kekasih.


"Lah, semalam kamu udah janji bakal ikut Altair! Mamah nggak mau tau, kamu harus ikut sekarang! Kalau nggak, kamu bukan anak mamah lagi!" tegas Giani di seberang telpon.


"Mah, hari ini tuh Asa ulang tahun, Altair nggak mau lewatin momen sekecil apapun sama dia." Mulai merengek pada mamahnya.


Tanpa tahu di seberang telpon Giani sedang panik bercampur senang. Panik Altair tidak ingin datang padahal dia adalah mempelai prianya. Senang, sebab Altair begitu antusias memberikan kejutan pada Asa.


"Pokoknya mamah nggak mau tau, jam 9 kamu nggak ada di rumah ... kamu bukan anak mamah lagi, titik nggak pakai koma!"


"Mah ...."


Altair menghela nafas panjang ketika sambungan terputus begitu saja. Tidak ingin dicoret dari hati sang mamah, Altair akhirnya ke kamar mandi. Bersiap-siap untuk kerumah dan membujuk mamah tercintanya.


Setelah dari kamar mandi, Altair kembali mengecek ponselnya dan mendapat pesan dari sang kekasih.


Altair, maaf ya, aku nggak bisa jalan sama kamu hari ini. Ayah sama Bunda tiba-tiba ngajak ke mansion.


Kamu tau kan kalau aku nggak pernah ketemu keluarga besar kalian? Hari ini aku nggak mau terlewat.


Maaf Altairnya Asa, besok aja ya kita jalannnya.


Altair menghela nafas panjang membaca sederet pesan dari kekasihnya. Meski begitu dia tidak keberatan Asa tidak jalan dengannya, sebab Asa akan lebih bahagia bertemu para keluarga besar.

__ADS_1


"Sekalian aja dah ketemu di mansion. Tunggu aku Asa!" ucap Altair, segera bersiap-siap. Tiba-tiba dia jadi bersemangat ke mansion. Ini karena Asanya juga ada di sana.


__ADS_2