Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 68 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Di tinggal bersama penjaga rumah oleh Altair, membuat Asa sedikit merasa kesepian.


Gadis itu sejak tadi hanya menghabiskan waktunya duduk di ayun-ayunan bersama kucing dan ponsel Altair di tangannya. Menonton beberapa vlog tentang makanan maupun liburan.


Sebenarnya Asa ingin menghubungi bundanya, tapi ia tidak menghafal satu nomorpun di kepala. Sedangkan ponselnya disembunyikan oleh Altair entah di mana.


Merasa udara semakin dingin dan sudah tengah malam, Asa memutuskan untuk masuk kerumah. Membaringkan tubuhnya pada ranjang empuk.


Baru saja akan memejamkan mata, deringan ponsel di atas nakas terdengar. Ia mengembangkan senyumnya mendapat telpon dari kak Jihadi, ya tentu pemiliknya adalah Altair.


"Gimana syutingnya?" tanya Asa setelah menjawab panggilan dari Altair.


"Kayak biasa, cape nunggu giliran. Di suruh ngatain cinta sama cewek yang nggak aku suka."


Asa mengulum senyum mendengar curhatan sang kekasih.


"Namanya juga akting, anggap aja lawan main kamu itu aku."


"Nggak bisa, soalnya kamu tuh terlalu cantik."


Pipi Asa tiba-tiba merona mendengar gombalan receh Altair. Keduanya saling bertukar kabar hanya beberapa menit sebab pria itu akan melajutkan syutingnya padahal sudah tengah malam.


***

__ADS_1


Jam 7 pagi, Asa meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat kaku setelah tidur semalaman, melirik sinar matahari yang berusaha masuk melalui kaca tebal yang terhalang horden putih.


Senyumnya mengembang melihat burung-burung beterbangan saat ia membuka dinding kaca tersebut hingga langsung berada di pinggir kolam.


Merasakan perut yang mulai berbunyi, Asa keluar dari kamar. Terkejut melihat Altair tiduran di sofa dengan posisi tidak nyaman.


"Pasti capek banget," gumam Asa.


Ia kembali ke kamarnya untuk mengmbil selimut. Menutupi tubuh Altair dan tidak lupa mengangkat kaki panjang pria itu agar keduanya berada di sofa.


Asa berjongkok tepat di depan wajah Altair. Mengelus pipi dan memandangi kantung mata yang menghitam.


"Tidur yang nyenyak kesayangannya Asa. Aku bakal berusaha menjaga kesehatan demi hidup kita berdua dan masa depan yang indah," bisiknya. Mencuri kecupan sebelum berdiri.


Asa terkesiap, pipinya tiba-tiba merona ketika berbalik, mendapati Jihadi berdiri tidak jauh darinya.


"Sebelum kamu cium Altair."


"It-itu nggak kayak kak Jihadi liat kok. Aku tadi cuma ...."


"Nggak usah malu kali. Oh iya, kalau Altair udah bangun, jangan lupa suruh hubungin saya ya," pinta Jihadi membereskan barang bawaan yang ada di atas rak sepatu.


Asa menganggukkan kepalanya. "Kakak ada jadwal pagi ini?"

__ADS_1


"Kenapa?" Salah satu alis Jihadi naik, mungkin heran Asa tiba-tiba bertanya demikian.


"Nggak, cuma mau ngajak sarapan bersama. Ayo!" Menarik tangan Jihadi tanpa sungkan menuju meja patri.


Gadis itu langsung menyibukkan dirinya dengan mengoreng telur mata sapi setengah mateng, setelahnya meletakkan di atas roti berserta mayonaise dan beberapa sayuran yang telah di rebus.


Hanya dua, untuk dirinya dan Jihadi sebab Altair masih tidur.


"Makasih sarapannya." Jihadi mulai menyantap roti ala Asa, begitupun dengan gadis yang duduk di hadapannya.


Sesekali Jihadi mencuri pandang pada gadis manis yang selalu terlihat ceria di setiap kesempatan. Ada kebimbangan dalam hati Jihadi untuk mengatakan apa yang menjadi keputusan Altair.


Di tengah-tengah nama yang sedang melambung tinggi, Altair ingin hiatus dengan banyak alasan yang menyertainya. Bahkan rela membayar pinalti lumayan besar karena membatalkan kontrak sebelum masa berakhir.


"Kak Jihadi mau ngomong sesuatu?" tanya Asa yang menyadari tatapan Jihadi. "Ngomong aja, apalagi itu tentang Altair yang mungkin nyusahin kakak. Kalau bisa, aku bakal bantu."


"Saya nggak yakin kamu bisa bantu kali ini."


"Ceritain aja kak." Asa semakin memperbaiki posisi duduknya. Bersiap mendengarkan cerita manager sang kekasih.


"Altair mutusin kontrak sama Agensi TB dan sekarang sedang proses pembayaran pinalti. Syutingnya selesai semalam, dan drama itu akan menjadi drama terakhir Altair."


"Kakak serius? Kok tiba-tiba?"

__ADS_1


"Alasannya saya nggak tau pasti kamu bisa tanyain ke dia. Oh iya, kalau Altair debut sebelum hiatus kayaknya dia nggak bakal bayar pinalti sepeserpun. Tolong bujuk ya, seengaknya untuk dua bulan ke depan," pinta Jihadi.


Pria itu tidak ingin Altair menghabiskan banyak uang karena berakhirnya kontrak, terlebih pria itu telah menghasilkan pundi-pundi rupiah yang sangat banyak untuk TB.


__ADS_2