Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 64 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Kedatangan orang tua Altair secara tiba-tiba membuat Asa dan Altair tentu kelabakan sendiri. Terlebih tadi keduanya kedapatan saling berpelukan di taman sambil basah-basahan.


Altair yang kini telah berganti baju tengah duduk di hadapan orang tuanya sambil menyengir tanpa dosa, sementara Asa sedang berada di dapur untuk menyiapkan minum.


Sebenarnya Giani dan Rahyan sudah melarang Asa agar tidak perlu repot-repot, tapi Asa terlalu keras kepala jika menyangkut melayani orang tua.


Asa sangat patuh karena besar dari didikan bunda Ara yang penuh kelembutan.


Gadis yang mempunyai penyakit tersebut meletakkan 4 gelas teh hangat di atas meja lalu ikut duduk di samping Altair. Keduanya tampak seperti pengantin baru yang kedatangan mertua.


"Bisa pergi nggak sih? Altair mau istirahat," celetuk Altair merentangkan tangannya tepat di belakang pundak Asa.


Rayhan yang melihatkan segera memelototkan mata.


"Dasar anak nakal! Kabur bawa anak orang nggak ngabarin papah!" omel Rayhan.


"Papah nggak setuju."


"Ck," Rayhan berdecak, hendak melayangkan bantal sofa ke wajah putranya, tapi urung ketika Giani mengenggam tangannya.


"Altair, yang kamu lakukan salah Nak! Tinggal berdua sama Asa bukan pilihan yang tepat. Mungkin sekarang kamu masih bisa buat nggak tergoda, tapi kita nggak tau nanti. Apalagi kamu bibitnya Rayhan," celetuk Giani sengaja menyindir suaminya.


Meski setelah menikah tidak pernah macem-macem lagi, tapi bukan perempuan jika tidak mengenang masa lalu untuk dijadikan bahan perdebatan di saat ruma tangga baik-baik sana.

__ADS_1


"Memangnya kenapa sama bibit aku? Bibit aku itu ungul, tampan, pintar dan ...."


"Pemaksa!" Potong Giani.


Rayhan hanya bisa menghela nafas panjang, berdebat dengan Giani bukanlah pilihan yang tepat. Sementara Altair sama sekali tidak mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya.


Pria itu sibuk memilin-milin jari Asa yang tampak pucat sehabis mandi. Terlebih wajahnya tidak dipolesi apapun.


"Altair, mana setifikat papah!"


"Nggak, sebelum papah dan mamah nikahin Altair sama Asa!" jawab Altair tegas.


"Bakal dinikahin tapi nggak sekarang Nak!"


Harus kalian tahu, sebelum merencanakan semua ini. Altair pernah meminta pada papah Rayhan agar segera menikahkan dirinya dengan Asa, tapi jawaban papahnya sangat menyebalkan.


"Nggak ada nikah-nikahan sampai lulus sekolah!"


Itulah mengapa Altair membawa kabur Asanya berserta sertifikat rumah. Sebenarnya bukan hanya itu, di dalam map sertifikat rumah, ada berkas penting perusahaan teknologi yang Rayhan sangat butuhkan.


"Gimana, tawaran dterima?" Altair menaikkan alisnya.


Rayhan tetap mengeleng, berbeda dengan Giani yang menganggukkan kepala cepat. Wanita paruh baya itu tidak ingin anaknya melakukan kesalahan dengan menodai anak gadis orang lain. Bagaimanapun mereka mempunyai seorang putri.

__ADS_1


"Mamah setuju kalian nikah. Altair ninggalin karirinya dan hidup bahagia sama Asa, tapi syaratnya sekolah tetap jadi prioritas!"


"Nggak, Mah!" sanggah Rayhan.


"Jangan dipotong dulu omongan aku, Ray! Lama-lama ***** kamu, aku potong!" Ancam Giani dengan mata melotot, membuat Rahyan kicep seketika.


"Kalian bicarain tentang pernikahan Altair dan Asa, tapi kok sejak tadi nggak ada yang nanya keputusan Asa gimana?" Asa bersuara setelah lama terdiam.


"Karena orang tua aku yakin kamu nggak bakal nolak, Sayang." Menguyel-uyel pipi Asa gemes.


"Tapikan om Ray dan tante Gia belum tahu kalau aku anak yatim. Aku bukan anak kandung ayah dan bunda, padahal om Ray maunya besanan sama ayah Samuel," jawab Asa penuh senyuman.


Berbeda dengan Altair, Rayhan dan Giani yang dadanya tiba-tiba merasa sesak mendengar penuturan Asa.


Giani lantas berpindah tempat, mengelus pipi Asa sambil tersenyum.


"Tante sama om nggak peduli kamu dari mana, latar belakangnya gimana. Yang penting kalian saling cinta dam hidup bahagia, itu udah cukup, Sayang."


"Asa tahu?"


Asa mengelengkan kepalanya, membuat Giani semakin melebarkan senyum. "Pernikahan itu hal sakral dan bakal dijalani seumur hidup. Kalau dimulai dengan paksaan, tante takutnya ada kata percerain ataupun perselingkuhan. Jadi, jangan pernah berpikir buat maksa Altair suka sama Ayana ya? Dan jangan pernah mundur dan menekan perasaan kamu sama Altair."


"Ayah sama bunda kamu dulu di jodohin, ayah nyiksa batin dan fisik bunda kamu sampai akhirnya berpisah dan ... Hmmmpppp." Rayhan tidak dapat melajutkan kalimatnya karena bekapan dari sang istri.

__ADS_1


Pria paruh baya itu menyengir kuda saat sadar tidak seharusnya membicarakan masa lalu Samuel dan Ara yang sangat kelam.


__ADS_2