
Tidak kunjung sadarkan diri setelah diberi pertolongan pertama oleh Salsa, akhirnya Asa kembali terbaring di rumah sakit. Padahal seharusnya gadis ceria itu tengah menikmati momen terindah bersama kekasihnya.
Sudah terhitung lima jam Asa tertidur dan tidak ada tanda-tanda untuk bangun, selama itu pula Altair dengan setia duduk di sisi brangkar.
Bahkan para anggota keluarga telah pergi satu persatu, yang tersisa hanya ayah dan bunda Asa yang menemani Altair di ruangan tersebut.
Samuel yang sejak tadi sibuk menelpon sana-sini belum juga mendapatkan kepastian dari temannya tentang pengobatan lebih lanjut untuk Asa.
Pria paruh baya itu menghampiri Altair yang sejak tadi mengelus punggung tangan Asa.
"Sebaiknya kamu pulang, di sini ada om dan tante yang jagain Asa," ucapnya, tapi Altair bergeming.
Pria itu hanya mengeleng sekali, kemudian merebahkan kepalanya di sisi brangkar. Tidak terasa air mata Altair keluar tanpa ada yang tahu.
Melihat Asa tertidur dengan jantung berdetak saja rasanya sangat sakit, apalagi jika Asa terbaring tanpa detakan jantung lagi, mungkin saat itu seluruh dunia Altair akan runtuh.
Gadis yang sejak dulu menjadi teman kecilnya, selalu menerima sikap yang suka seenaknya dan manja kini terbaring tanpa ada pergerakan apapun.
"Asayang? Kepala aku sakit," lirih Altair dengan nada manja.
Biasanya jika berkata demikian, Asa akan mengelus kepalanya, tapi kali ini. Tangan itu tidak bergerak sama sekali.
"Kalau misalnya Asa kemungkinan bisa sembuh, apa yang bakal kamu lakuin?" tanya Samuel yang masih berdiri di belakang Altair.
"Apapun, asal Altair bisa hidup sama Asa lebih lama lagi. Asalkan Asa nggak ngerasain sakit kayak sekarang."
"Berpisah?"
Hening.
Altair tidak bisa menjawab hal tersebut, Samuel yang mengerti segera menjauhi tunangan putrinya. Duduk di sofa, menarik tubuh bunda Ara agar bersandar di dadanya.
__ADS_1
Sejak Asa jatuh pingsan, Ara tidak banyak bicara. Hanya meremas jari-jari tangannya yang mulai memerah.
"Aku harus apa Bang? Aku bunda dan dokter yang nggak berguna. Aku bisa nyembuhin banyak orang, tapi nggak bisa nyembuhin anak kita," lirih Ara.
"Bukan salah kamu," gumam Samuel. Mengusap kepala istrinya pelan.
Bukan hanya Ara dan Altair saja yang merasa khawatir, Samuel pun sama. Hanya saja pria paruh baya itu tidak memperlihatkannya pada siapapun.
"Semoga ada kabar baik nantinya," lanjut Samuel.
***
Malam semakin larut, malampun mulai sunyi, hanya angin yang berhembus menambah dinginnya udara malam.
Dalam kesunyian itupun, Asa terbangun setelah memimpikan hal indah tentang masa depannya. Seulas senyum di wajahnya terlihat, seiring rasa sakit mengerogoti tubuhnya.
Hanya jantung yang bermasalah, tapi kini tubuhnya seakan lemah. Seakan tidak mampu hanya untuk berjalan lagi.
"Asa pengen sembuh, Asa nggak mau nyusahin siapapun. Apa Asa bisa sembuh?" Kalimat-kalimat acak itu mulai bermunculan di hati Asa, seiring air mata berjatuhan dipelupuk matanya.
"Asayang? Kamu udah bangun?"
Asa terkesiap ketika Altair terbangun karena usapannya. Gadis itu lantas tersenyum, menghapus bulir bening di sudut matanya.
"Aku kira kamu nggak bakal bangun. Aku kira kamu bakal tega ninggalin aku sendiri," ucap Altair.
Dokter tadi mengatakan bahwa, jika Asa tidak bangun selama 24 jam, artinya gadis itu mengalami koma dan tidak tahu akan terbangun kapan.
Namun, sepertinya Tuhan masih mengizinkan Altair untuk melihat senyuman kekasihnya.
"Jangan banyak gerak Sayang!"
__ADS_1
Asa mengeleng, gadis itu ingin menyuarakan isi hatinya, tapi tidak bisa karena terhalang alat Ventilator.
"Aku tau, pasti kamu kangen kan sama aku? Kamu senang karena hubungan kita udah lebih dari pacarana. Kita udah tunangan, sama-sama pakai cincin." Antusias Altair.
Tidak ingin menatap manik Asa yang berembun.
Karena keterbatasan bicara, Asa hanya bisa memberikan syarat pada kekasihnya. Menunjuk orang tuanya yang berada di sofa.
Sedikit mengerti akan keinginan Asa, Altair segera membangunkan ayah Samuel, lalu kembali ke brangkar.
"Kamu manggil ayah Nak?" tanya Samuel yang telah bangun.
Asa menganggukkan kepalanya, menarik ujung baju ayah Samuel agar mendekat padanya. Air mata gadis itu luruh karena kesal tidak bisa bicara seperti biasa.
Asa mulai mengerakkan bibirnya, berusaha menyampaikan apa yang dia inginkan. Altair yang berada di samping ayah Samuel dengan setia memperhatikan.
Kening Altair mengerut ketika melihat ayah Samuel menganganggukkan kepalanya.
"Asa ngomong apa, Om?"
"Di-dia pengen sembuh, katanya dia lelah nahan sakit," ucapya dan berlalu pergi, tidak bisa membendung rasa sakit yang bersarang di hatinya.
Sekarang penyesalan semakin mengerogoti jiwa Samuel untuk saat ini. Mendengar putrinya mengeluh dan memohon kesembuhan, membuat Samuel merasa bersalah.
Merasa bersalah karena telah menyakiti hati putrinya selama bertahun-tahun. Menyiksa batin Asa, padahal gadis itu telah tersiksa dengan penyakitnya sendiri.
"Aaaakkkhhhh!" Erang Samuel meninju dinding cukup keras sehingga tulang-tulang yang menonjol di punggung tangannya mengeluarkan darah segar.
"Aku nggak bisa diam aja, putriku harus sembuh," gumamnya, meninggalkan rumah sakit padahal jarum jam tengah menunjukkan angka 2 dini hari.
Pria paruh baya itu melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata sambil terus menghubungi Azka tanpa peduli perbuatannya menganggu tidur seseorang.
__ADS_1
Saat kacau seperti ini, hanya Azka lah yang ada di pikiran Samuel, sebab pria paruh baya itu yakin, sahabatnya bisa memberikan solusi.