Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 94 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Waktu terus bergulir seiring sembuhnya luka di hati Altair sedikit demi sedikit setelah kehilangan kekasih yang sangat dia cintai.


Hari ini tepat satu tahun Asa meninggalkannya tanpa jejak setelah kabar duka yang dia terima dari ayah Samuel dan Bunda Ara.


Satu tahun yang lalu, Altair ingin menyusul dan melihat jasad kekasihnya secara langsung, tapi keberadaan Asa dan orang tuanya menghilang bagai detelan bumi.


Hati Altair sakit, drop beberapa bulan hingga akhirnya bangkit kembali satu bulan yang lalu. Bukan mudah untuk melupakan Asa, tapi dia dipaksa untuk berlapang dada menerima takdir yang tidak ingin mempersatukan mereka.


Mungkin mereka tidak ditakdirkan di dunia, melainkan di akhirat kelak.


"Altair!" panggil Iren.


Altair yang tadinya fokus menatap ibu kota melalui rooftop sekolah lantas membalik tubuhnya. Menatap Iren yang mendekat sambil membawa cake di tangan.


"Selamat ulang tahun yang ke 17, dan selamat atas kelulusannya," ucap Iren.


Altair senyum simpul, menerima cake dari gadis yang mulai dia terima dalam hidupnya sebagai pelampiasan atas kehilangan sang kekasih.


"Makasih, tapi nggak perlu repot-repot."


"Nggak sama sekali. Tadi aku kerumah lo, tapi kata tante Giani masih di sekolah padahal pengumuman kelulusan udah selesai 2 jam yang lalu."


"Gue pengen sendiri, gue kangen seseorang," gumam Altair, mendongak untuk menatap langit yang mendung.

__ADS_1


Ini adalah ulang tahun pertamanya tanpa dampingan dari Asa dan rasanya sangat hancur.


"Gu-gue nggak bisa lupain dia, Ren. Gue harus gimana?" tanyanya. Kali ini Altair menunduk.


Menitikkan air mata karena tidak sanggup menahan kerinduan di hatinya.


"Lo pasti kuat, lo pasti bisa lupain dia," lirih Iren yang langsung memeluk Altair saat ada kesempatan.


Gadis yang dulu sangat membeci Asa itu rela menjadi pelampiasan agar bisa berada di dekat Altair. Pria yang tidak bisa dia sentuh sebelumnya.


Pelukan hangat itu berlangsung cukup lama, membuat gadis yang berdiri di ambang pintu mematung tanpa kata.


Tatapan nanar gadis itu dia layangkan, cake di tangannya terjatuh tanpa diminta.


"Aku telat?" tanya Asa dengan suara lirihnya.


Benarkah ini bukan mimpi? Asanya berdiri di sana untuk menemuinya.


"Asayang?" Berlari untuk mendekat, begitupun dengan Asa yang berlari karena tidak ingin menganggu momen indah Altair dan Iren.


Langkah gadis itu berhenti dikoridor yang sepi tatkala Altair memeluknya dari belakang cukup erat.


"Beneran Asanya Air kan? Aku nggak mimpi? Tolong sadarkan aku kalau itu cuma hayalan aja," pinta Altair. Menitikkan air mata yang mengenai pundak Asa.


"Kamu nunggu aku?"

__ADS_1


"Selalu, Asayang."


Asa langsung membalik tubuhnya, memeluk Altair cukup erat dan menangis dalam pelukan pria yang selama ini dia rindukan.


Kesehatannya masih belum stabil setelah terbangun dari koma dua minggu yang lalu. Dia memaksa untuk pulang karena ingin merayakan ulang tahun tunangannya.


Tidak bertanya pada siapapun langsung berkunjung ke rooftop tempat mereka janjian dan siapa yang menyangka Altairnya ada di sana.


"Maaf karena nggak nepatin janji. Harusnya aku balik cepat dan nemuin kamu."


Asa melerai pelukannya, menyentuh pipi Altair dengan tangan bergetar. "Jangan nangis Airnya, Asa! Nanti tampannya hilang. Sekarang udah 17 tahun, harus berubah dong." Mengusap pipi Altair gemes.


"Beneran kamu, kan?"


Asa mengangguk.


"Aku nggak percaya ... aduh!" keluh Altair ketika kepalanya langsung dipukul buku oleh Mark.


"Sakit kan, artinya nggak mimpi!"


"Ck." Altair berdecak, tanpa diduga pria itu menarik pinggang Asa dan mendaratkan bibirnya di sana tanpa memperdulikan Mark dan Fely yang berada di sana.


Dia menyesap bibir mungil itu sedikit dalam, memejamkan mata menikmati permainnya sendiri.


Saat akan terlena akan suasana, seseorang menarik telinga Altair sehingga harus menjauh dari tubuh Asanya.

__ADS_1


"Anjir, ganggu aja lo Mark ...," lirih Altair di akhir kalimat mendapati orang yang menjewer telinganya adalah papah Rayhan.


"Bisa-bisanya langsung nyosor, antar Asa pulang. Dia belum pulih sepenuhnya!"


__ADS_2