
Hari-hari tanpa Asa, bagai taman tanpa bunga bagi Altair. Rasanya hampa dan tidak punya gairah hidup, terlebih tidak ada kabar tentang kekasihnya.
Altair terus memainkan cincin di jari manisnya, duduk paling pojok tanpa memperdulikan sekitarnya, padahal keributan sedang terjadi di kelas tersebut.
"Harusnya aku nggak sedih kan? Harusnya aku nunggu kamu dengan sabar. Kita udah janji bakal saling nunggu," ucapnya sambil menatap cincin petunangannya.
Seakan cincin itu adalah Asa.
"Aku tahu kamu pasti kangen banget kan? Sama aku juga, Sa. Tunggu aku ya, aku bakal nyusul setelah lulus dari sekolah, tapi aku harap kamu pulang sebelum itu."
Aksi bicara sendiri terus terjadi di pojok ruangan, membuat Mark dan Fely yang sejak tadi memperhatikan tunangan sahabatnya saling tatap.
Mark mengedikkan bahunya, memberi jawaban bahwa dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Altair.
"Pasti dia sedih banget, Mark. Kita hibur yuk?" ajaknya Fely.
"Nggak ah, ngapain coba? Mending kita ke kantin. Hari ini gue bayarin!" ajak Mark balik. Paling anti berbicara dengan Altari yang amarahnya meledak-ledak akhir-akhir ini.
Keduanya lantas meninggalkan kelas, menyisakan Altair dengan rasa sepi karena tidak mempunyai teman.
Bukan karena tidak ada yang ingin berteman dengannya, hanya saja dia yang menjauh sebab tidak cocok bersama mereka. Altair lebih suka sendiri atau bersama Asanya.
***
Satu minggu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari pengambilan keputusan untuk Samuel dan Ara tentang hidup putrinya yang tidak punya harapan hidup.
__ADS_1
Samuel dan Ara berdiri di depan ruangan berlapiskan kaca tembus pandang. Menatap wajah pucat putri mereka dengan tatapan sedih.
"Sampai saat ini nggak ada perkembangan apapun, Tuan."
"Apa nggak ada cara lain? Misalnya ramuan yang dikembangkan para peneliti?"
"Kami belum pernah mendapatkan kondisi seperti ini sebelumnya Tuan. Kompilasinya terlalu parah hingga kami tidak bisa mendeteksi kerusakannya. Awalnya tubuh Asa menerima jantung pendonor cukup baik, tapi 24 jam terjadi detakan jantung melemah."
Samuel menghela nafas panjang, mengenggam tangan istrinya cukup erat.
"Jangan hukum ayah kayak gini, Sa. Jangan buat ayah semakin merasa bersalah. Bangunlah, dan maki ayah! Salahkan ayah yang membawa kamu pergi dari Altair," batin Samuel.
Ini kedua kalinya Samuel merasakan kesedihan sangat dalam. Kesedihan pertama ketika dia ditinggal oleh Ara hingga puluhan tahun.
"Tidak ada cara selain melepas semua alatnya," ucap sang dokter dan dijawab anggukan oleh Ara meski dalam keraguan.
***
"Aku nggak boleh sedih!" pekiknya melakukan gerakan cepat lalu melempar bola ke ring. Sayangnya bola itu meleset karena dilalukan secara terburu-buru.
"Asaku baik-baik aja!" Lagi, Altair melakukan hal yang sama.
Terlalu banyak bergerak membuat tubuh Altair dipenuhi akan keringat. Rambutnya basah, nafasnya memburu. Tubuh berotot itu tumbang di atas lantai setelah bergerak hampir dua jam.
Dia memejamkan matanya, tersenyum saat bayangan Asa yang berlari memeluknya melintas begitu saja.
__ADS_1
"Rasanya aku nggak mau buka mata," gumamnya. Menikmati bayangan Asa yang terlalu indah untuk dilewatkan.
Entah itu hanya hayalan atau mimpi tanpa tidurnya. Yang jelas, Altair melihat kekasihnya menari di taman bunga dengan gaun putih membalut tubuhnya.
Rambut gadis itu tergerai, senyuman indahnya terlihat sambil memandanginya.
"Asa!" Refleks Altair membuka matanya ketika Asanya tersandung kayu saat akan menghampirinya.
Nafas pria itu memburu, mengusap wajahnya kasar agar lebih tenang.
"Altair!"
Altair bergeming, pria itu malas menyambut kedatangan papahnya.
"Kamu udah dengar tentang Asa, Nak?"
"Asa?" Rasa malas Altair seakan hilang. Pria itu langsung bangun dan menatap papahnya dengan secerca harapan.
"Apa kamu udah dapat kabar, Nak?" Ulang Rayhan dan dijawab gelengan oleh Altair.
"Om Samuel baru aja nelpon papah. Asa gagal dalam pertarugannya. Dia gugur tanpa bisa kembali buat nepatin janjinya."
"Alah, paling cuma mau ngeprank Altair." Pria itu tertawa sumbang, tapi hanya sesat saat raut wajah papahnya tidak kunjung berubah.
Raut wajah penuh kekhawatiran dan kesedihan sambil menatapnya.
__ADS_1
"Nggak mungkin!"