Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 6 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Menunggu kerumunan bubar itulah yang Asa lalukan untuk menghindari dirinya terluka maupun membuat masalah dengan Iren, yang notabenenya sangat membenci Asa luar dalam.


Gadis itu duduk di pos sekolah sambil memainkan ponselnya, bel akan berbunyi beberapa menit lagi dan sampai saat itu tiba Asa tidak akan masuk ke kelas.


Senyuman di bibirnya merekah saat mendapatkan pesan dari pria yang hari ini menjadi topik perbincangan di sekolah.



Pipi Asa langsung bersemu membaca pesan terakhir Altair. Sungguh pria itu selalu bisa membuat mood Asa membalik.


Alasan Asa selalu tersenyum adalah Altair, ketika semua orang mengejeknya saat SMP, Altair adalah orang pertama yang membelanya mati-matian.


Bel pelajaran yang berbunyi nyaring membuat Asa terpaksa meninggalkan pos jaga. Berjalan cepat menuju kelasnya yang kebetulan berada di lantai bawah.


Koridor telah sunyi, semua siswa masuk ke kelas masing-masing untuk menunggu guru, begitupun dengan kelas Asa.


Mati-matian Asa menyembunyikan senyumnya melihat Altair duduk tepat di samping kursinya. Dengan ragu dia mendekat dan duduk bersama Altair.


Hal itu membuat semua seisi kelas menatap iri pada Asa.


"Ganti tempat dong, Sa. Aku juga pengen duduk sama Altair," pinta Fely dengan bibir mengerucut.


Asa yang notabenya selalu mengalah hendak berdiri, tapi tangannya malah di genggam oleh Altari di bawah meja.


"Jangan gerak!" gumam Altair yang hanya didengar oleh Asa saja.


"Lain kali ya, Fel," cengir Asa.

__ADS_1


Untung saja Fely tidak merengek lagi, terlebih guru telah datang dan membawa beberapa lembar kertas di tangannya.


Sepertinya akan ada kuis dadakan di pagi hari padahal Asa tidak mempersiapkan apapun semalan. Ia sibuk bertelponan dengan Altair hingga tertidur.


"Lepasin," bisik Asa.


"Nggak mau, orang nyaman juga," balas Altair, engang melepaskan gengaman tangannya di dalam laci yang terbuka.


"Altair!"


"Sayang, jangan melotot gitu! Ntar aku cium masuk berita loh."


Asa menghembuskan nafas panjang, lupa kalau Altair belum berubah meski telah berpisah cukup lama. Sikap posesif dan pemaksanya masih mendominasi hingga usus.


Namun, pada akhirnya gengaman tangan keduanya harus terlepas karena harus mengerjakan soal-soal yang telah guru bagikan.


Sepanjang kelas berlangsung, Altair tidak membuka kacamata hitamnya. Karena dengan benda itu dia dapat menikmati wajah Asa tanpa disadari oleh siapapun, terlebih guru telah meninggalkan kelas beberapa menit yang lalu.


Asa sibuk mengerjakan soal-soal, berbeda dengan Altair senyum-senyum sendiri menikmati kecantikan gadis yang sudah lama dia kagumi.


Sayangnya Altair tidak pernah meminta hubungan lebih dari teman meski sikapnya pada Asa layaknya pacar sungguhan.


Ini semua untuk menjaga hati satu sama lain.


"Jangan natap aku terus!" tegur Asa.


"Kok tau?" Kening Altair mengerut.

__ADS_1


"Ikatana batin mungkin."


"Sae, lucu banget sih Asanya air." Mengambil kesempatan menguyel-uyel pipi Asa saat semua siswa fokus pada kertas kuis.


Senyuman keduanya merekah saat bel pelajaran pertama selesai. Sebelum beranjak, Altair meletakkan kertas bertuliskan ....


Di belakang gudang nggak ada orang, aku tunggu.


Itulah isi kertas Altair, di akhirnya dengan gambar bentuk love. Siapa yang tidak baper coba?


"Hayo pasti tadi pacaran kan?" tebak Fely yang lantas duduk di samping Asa usai kepergian Altair.


Asa buru-buru mengelengkan kepalanya. "Ng-nggak, kita cuma teman biasa kok. Tadi juga Altair sibuk ngisi kertas kuis terus pergi." Memperlihatkan kertas Altair pada Fely.


Kertas yang jawabannya sudah pasti 98% persen benar. Sudah tidak diragukan lagi bagaimana otak Altair, meski jarang ke sekolah pria itu tahu semuanya.


Asa mendelik mendapati pesan dari Altair yang sudah mengeluh panas di belakang gudang. Gadis itu lantas berpamitan pada Fely dengan alasan ada urusan.


Namun, sepertinya Asa tidak bisa sampai tepat waktu melihat siapa yang menunggunya di depan kelas.


"Minggir! Aku mau lewat," pinta Asa pada Iren dan teman-temannya yang menghalangi.


"Kalau gue nggak mau gimana, hah?"


"Iren?"


"Jauhi Altair! Dia itu milik gue!" tegas Iren mendorong pundak Asa hingga mundur beberapa langkah.

__ADS_1


__ADS_2