Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 36 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Asa sampai di rumah orang tuanya ketika jarum jam telah menunjukkan angka 8 lewat beberapa menit. Langit hitam kelam tanpa adanya matahari maupun bulan, mungkin pertanda sebentar lagi hujan akan turun.


Gadis itu berdiri di depan pagar sambil memperhatikan motor Altair menghilang, barulah setelahnya benar-benar masuk.


Jujur saja, tadi saat perjalanan pulang, Asa bagai terbang di atas awan melihat perlakuan Altair padanya.


Kadang saat macet, pria itu akan mendahului dan memberinya jalan. Ketika mendapat jalanan sepi, Altair akan berada di belakang dan menyeimbangkan kecepatan agar Asa tidak ketakukan.


Siapa yang tidak baper jika diperlakukan sebaik itu? Sungguh Asa ingin mengumumkan pada dunia bahwa dia adalah gadis paling beruntung sebab dicintai oleh Altair.


Senyuman Asa mengembang sempurna ketika melewati pintu utama, melihat keluarganya tengah berada di ruang keluarga.


Ayana berada di tengah-tengah bunda Ara dan ayah Samuel. Tampaknya adik Asa sedang bercerita hal yang membahagiakan jika diliat dari raut wajahnya.


Asa mempercepat langkahnya, mengucapkan salam dengan riang.


"Asa pulang, Yah, Nda!" ucapnya langsung duduk di samping bunda Ara usai mengecup punggung tangan ayahnya.


"Nah putri cantik bunda yang satu lagi hadir nih. Ada berita apa sayang? Kok raut wajahnya bahagia banget, hm?" cetus Ara berhasil mengambil atensi ayah Samuel dan Ayana.

__ADS_1


"Asa senang banget karena udah punya ...."


"Aya juga senang kak Asa, ayah sama bunda setuju buat jodohin Aya sama kak Altair," ucap Ayana yang tidak sabar membagikan kabar bahagia pada kakaknya.


"Benarkah?" Mata Asa membulat, lantaran terkejut. Dia berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya. "Selama dek, akhirnya cinta kamu tergapai!" seru Asa.


"Nah karena Ayana udah ada calon, kapan tuh kakak kenalin calonnya?" canda bunda Ara. "Oh iya, tadi Asa senang dapat apa?"


Asa buru-buru mengelengkan kepalanya. "Nggak ada Bun. Asa ke kamar dulu ya, dah!" Ia melambaikan tangannya dan berlari ke kamar, tidak lupa mengunci pintu lalu masuk ke kamar mandi sambil membunyikan keran air.


Ayah dan bunda setuju buat jodohin Aya sama kak Altair.


Kenapa harus malam ini dia mengetahuinya? Kenapa tidak hari-hari sebelumnya agar ia tidak menerima Altair sebagai pacarnya.


Ataukah kenapa tidak satu atau dua bulan kedepan saja? Biarkan Asa menikmati bahagia sesaatnya bersama Altair.


"Kenapa harus Altair, Aya?" lirih Asa dengan suara seraknya.


Dada gadis itu terasa sesak membayangkan Ayana benar-benar akan bersama Altair. Apakah ia sanggup merelakan Altair demi kebahagiaan adiknya?

__ADS_1


Asa mengusap air matanya kasar tatkala ponselnya berdering, menampilkan nama Altair. Tidak ingin Altair mengenali suaranya yang serak, gadis itu menolak panggilan tersebut, membuat pria yang berada di seberang telpon berdecak.


Altair menatap ponselnya kesal, baru saja berbaikan Asa telah menolak panggilannya.


"Apa sih pacarnya Air? Tadi disuruh ngabarin pas udah sampai, giliran ditelpon malah ditolak," gerutunya.


Pria itu membaringkan tubuhnya di ranjang, memejamkan mata sambil senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Asa yang tersipu malu saat ia mengecup keningnya sebelum pulang.


"Aaakkkhhhhh, bisa-bisanya aku sebucin ini." Altair mengacak-acak rambutnya tidak beraturan.


Hati pria itu sedang berbunga-bunga, berbeda dengan Asa yang masih setia berada di kamar mandi, menguyur tubuhnya dengan air dingin, membiarkan air mata bercampur air biasa.


Kalau saja ini tidak tengah malam, Asa akan berlari keluar rumah untuk menikmati hujan. Hanya hujan yang bisa menyamarkan rasa sakit dan menyembunyikan air mata, sehingga semua orang tidak tahu bahwa Asa tidak menangis. Asa tidak bersedih.


Asa adalah gadis ceria yang tidak mempunyai luka dihatinya. Sosok gadis yang selalu mendahulukan kebahagian orang lain dibandingkan kebahagiaan sendiri.


Gadis baik yang selalu memikirkan perasaan orang lain sebelum bertindak. Berhati-hati melakukan sesuatu demi tidak menyakiti hati orang-orang tersayangnya.


Namun, adakah satu orang saja yang memikirkan hati dan perasaan Asa?

__ADS_1



__ADS_2