Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 86 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Hari ini, matahari terlihat begitu cerah, secara hati gadis cantik yang sedang berlarian di koridor sekolah.


Langkah kaki kecil itu terus melangkah demi mengimbagi langkah pria yang dia cintai. Gadis itu tidak lain adalah Fely. Dia tanpa lelah mengejar Mark yang hampir sampai di parkiran sekolah.


"Tungguin aku, Mark!" pekiknya dengan nafas memburu.


Tubuh Fely menengang seketika saat Mark berlalik dan mengusap keningnya yang terdapat beberapa bulir bening.


"Ngapain lari-lari? Lo jelek kalau keringetan," ucap Mark.


"Mau ikut bolos. Pengen meluk Asa buat terakhir kalinya," sahut Fely tersenyum riang, usai menguasai detak jantung yang tidak beraturan.


"Kuy!" Seru Mark.


Pria itu lebih dulu naik ke motornya, menunggu Fely menyusul.


"Ayo jalan!"


"Peluk!" sahut Mark.


"Huh?"


"Peluk Fel, lo mau jatuh, hm?"


Fely cengegesan sendiri, segera memeluk pinggang Mark. Sungguh hati Fely sangat berbunga-bunga karena mendapatkan kesempatan untuk memeluk Mark.


Gadis itu berharap cintanya segera terbalaskan, ya meski sampai sekarang Mark masih mencintai Asa. Bahkan pria itu sering kali curhat pada Fely.


Sakit? Tentu saja. Tapi Fely menahan semuanya demi bisa berada di dekat Mark.

__ADS_1


***


Helaan nafas terdengar berulang kali dari Asa setelah gadis itu menginjakkan kakinya di bandara.


Sesekali melirik pintu yang terbuka lebar, menunggu seseorang untuk mengucapkan kalimat perpisahan untuk terakhir kalinya.


Namun, keinginan Asa tidak mungkin terkabul, sebab Altair sudah menghubungi subuh-subuh buta bahwa tidak bisa hadir untuk terakhir kalinya.


"Ayo Sayang," ajak Ara.


"Masih ada setengah jam lagi Bunda, Asa masih mau di sini," ucapnya.


Bunda Ara mengangguk, segera berjalan bersama suaminya untuk mencari tempat duduk, sementara Asa dan Ayana setia berdiri di dekat pintu masuk.


"Kak Altair pasti datang," ucap Ayana.


"Semoga aja," sahut Asa harap-harap cemas.


"Kamu juga baik-baik di sini. Nurut sama Om Alvi dan tante Alana. Maafin kakak juga karena bawa bunda dan ayah pergi."


Asa mengembangkan senyumnya. Mengusap rambut Ayana penuh kesih sayang.


Selain sulit berpisah dengan Altair, Asa juga tidak tega meninggalkan adiknya sendirian.


"Asa?"


Atensi Asa langsung teralihkan pada pintu. Tersenyum melihat Fely dan Mark yang berlari kearahnya sambil bergandengan tangan.


"Aku kira kalian nggak bakal datang."

__ADS_1


"Kenapa nggak? Bolos sehari aja nggak bakal rugi, tapi lewatin kepergian kamu bakal buat kita nyesal entah sampai kapan, iya nggak Mark?" tanya Fely yang tidak sadar tangannya di genggam oleh Mark yang sibuk mengatur nafasnya.


"Hooh, teman kita bakal pergi. Ya kali nggak datang."


"Makasih udah nyempatin waktu, dan maaf harus ninggalin kalian. Doa-in aku, semoga pengotabannya lancar dan pulang dalam keadaan sehat."


Asa merentangkan tangannya. "Ayo peluk sebelum berpisah!"


Tanpa disuruh dua kali, Mark dan Fely memeluk tubuh Asa yang mulai mengurus. Fely menangis dalam dekapan Asa, sementara Mark mengelus rambut Asa diam-diam.


Sangat berat untuk pria itu berpisah dengan gadis yang berhasil mengambil hatinya. Namun, Mark tahu ini yang terbaik buat mereka.


"Harus pulang, gue nggak mau tau," gumam Mark.


"Iya benar, Asa kita harus pulang!" Tambah Fely.


Suara tawa Asa terdengar meski air matanya terus berjatuhan. Merasa senang karena memiliki teman sebaik Fely dan Mark.


"Kalian berdua jangan bertengkar selama aku nggak ada. Kalian Harus saling menyayangi dan menjaga satu sama lain, terutama kamu, Mark!" Menatap Mark setelah melerai pelukan.


"Gue?"


"Iya, jangan emosi mulu sama Fely."


"Hm."


Asa meraih tangan Mark dan Fely, lalu menyatukannya. "Semoga setelah aku pulang, ada kabar bahagia antara kalian. Jangan terlalu jauh mencari, kalau yang yang dekat bisa menjadi pasangan yang lebih baik," ucapnya mengandung makna yang tersirat.


Asa perlahan-lahan memundurkan langkahnya ketika mendengar panggilan sang bunda. Memeluk Ayana sebentar sebelum benar-benar pergi.

__ADS_1


Tatapan Asa masih saja terpaku pada pintu, tapi harapannya sirna karena yang ditunggu tidak kunjung datang.


"Aku bakal kembali buat kalian!" pekik Asa.


__ADS_2