Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 54 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Altair, pria itu duduk di sisi brangkar sambil mengusap pelan pipi Asa, tanpa memperdulikan para orang tua yang tengah duduk di sofa sembari bertukar cerita.


Sementara Asa berusaha mati-matian untuk menghindari Altair karena sadar akan tatapan ayah Samuel yang menukik tajam padanya.


Ia menyingkirkan tangan Altair di pipinya. "Geli Altair, sebaiknya kamu pulang. Udah jam 8 malam, kata kak Jihadi ada jadwal besok pagi," ucap Asa akhirnya.


Namun, Altair tampak acuh terus saja bertingkah di dalam ruang perawatan tersebut.


"Altair?" Menatap malas pria keras kepala itu.


Sudah cukup Asa merasa kesal karena semua orang telah tahu ia penyakitkan, di mana ia akan mendapatkan perhatian bukan karena tulus menyayangi, melainkan rasa kasihan.


"Bisa diam nggak sih?"


"Nggak bisa!"


"Sa, sampai kapan kamu pura-pura kuat gini? Jangan berkorban demi siapapun!"


"Aku ngantuk."


Merubah posisinya membelakangi Altair tanpa mempedulikan perasaan pria yang sedang mengkhawatirkannya.


Rasanya Asa ingin menghilang detik itu juga karena telah merepotkan semua orang. Ia benar-benar telah menjadi benalu untuk keluarga yang telah membesarkannya.


Harusnya Asa membalas budi kebaikan ayah Samuel dan bunda Ara, buka malah menyusahkan seperti ini.

__ADS_1


"Ya udah, tapi aku balik besok pagi." Dengan berat hati Altair beranjak dari duduknya, mengangguk pada orang tuanya juga orang tua Ayana sebelum meninggalkan ruang perawatan Asa.


Setelah kepergian Altair, orang tua pria itu juga pamit pulang sehingga yang tersisa hanya Samuel dan Ara saja, sementara Ayana telah pergi beberapa jam yang lalu sebab harus mempersiapkan diri untuk ujian besok.


Merasakan sesuatu yang hangat menyentuh keningnya, Asa lantas berbalik. Tersenyum pada bunda Ara yang ternyata telah duduk di pinggir ranjang.


"Maafin bunda karena ninggalin kamu sendirian di rumah Nak," sesal Ara.


"Nggak papa Bunda, Asa kuat kok. Lagian Asa nggak mau ngerepotin Bunda."


Bunda Ara mencebik. "Nggak mau ngerepotin tapi nggak minum obat, gimana sih?"


Hening, Asa lebih memilih melempar tatapannya pada dinding kaca, di sana ada ayah Samuel yang berdiri membelakanginya.


"Maafin bunda juga karena udah nyembunyyin penyakit kamu selama ini. Bunda nggak mau kamu kepikiran dan makin drop Sayang. Kamu dan Aya adalah tiang bunda, salah satu dari kalian terluka maka bunda yang bakal tumbang." Bunda Ara terus berbicara sambil mengurai rambut Asa sedikit demi sedikit.


"Om sama bunda pasti lelah, kalian pulang aja, Asa baik-baik aja kok. Lagian ada suster yang bakal nemenin!"


Samuel seketika membalik tubuhnya, menatap bunda Ara yang tepat berada di samping Asa.


"Dengar sendiri kan?" tanya Samuel pada istrinya yang tetap kekeh ingin tinggal di rumah sakit.


"Bang!"


"Aku tunggu di parkiran!"

__ADS_1


"Kenapa Abang nggak punya hati? Putri Abang lagi sakit tapi mau pulang dan enak-enakan tidur di rumah! Apa iya Abang bakal bisa tidur nyenyak ninggalin Asa sendirian di rumah sakit?"


"Bisa!" jawab Samuel tegas, setelahnya menghilang di balik pintu.


Asa yang mendegarnya tentu merasa sedih, tapi ia sadar bukan siapa-siapa dalam hidup pria yang sangat dia inginkan kasih sayangnya.


Gadis itu mengenggam tangan bunda Ara. "Bunda nyusul om gih! Om pasti lelah habis perjalanan jauh."


"Nggak, bunda bakal tetap di sini nemenin putri cantik bunda."


"Tapi bunda ...."


"Ssstttttt, sekarang istirahat biar cepat pulih dan kembali ke rumah."


"Memangnya bisa?" Asa tertawa hambar, tapi setelahnya menutup mata. Tidur membelakangi bunda Ara.


Gadis itu diam-diam meneteskan air matanya. Sejak ia mengetahui bukan anak kandung dari Ara dan Samuel. Pria paruh baya itu semakin memperjelas rasa tidak sukanya.


"Om bakal sayang sama Asa, kalau Ayana dan Altair tunangan?" tanyanya tiba-tiba.


Hening, Ara tidak menyahut. Lidah wanita paruh baya itu terasa kelu.


"Bunda, kalau Asa egois buat milikin Altair dan bahagia sampai waktu yang telah ditentukan, Om bakal benci banget sama Asa?"


"Nggak Sayang. Bunda bangga sama Asa kalau benar-benar egois untuk saat ini. Bunda bakal dukung apapun yang Asa mau, bukan karena Asa sakit, tapi karena Asa adalah anak bunda."

__ADS_1


"Lagian, Asa mau Ayana sakit hati kalau tunangan sama Altair? Altair itu keras kepala sama kayak ayah, kalau nggak suka sama orang bakal kejam. Jadi kalau kamu berpikir Ayana bakal bahagia sama Altair, itu salah besar!"


__ADS_2