Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 47 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Pagipun menjelang, tapi perasaan Ara tidak kunjung membaik sebab putri sulungnya belum keluar kamar bahkan untuk sarapan saja tidak.


Meski telah memastikan apa yang dilakukan Asa secara diam-diam saat gadis ceria itu tertidur, tetap saja perasaan Ara tidak menentu.


Wanita paruh baya itu kembali berdiri di depan kamar Asa dan mengetuknya berulang kali.


"Dia pasti baik-baik aja," ucap Samuel yang ternyata sejak tadi mengekori istrinya.


"Semoga aja, atau hubungan kita yang nggak baik-baik aja," sahut bunda Ara tanpa ingin menatap wajah suaminya yang sangat menyebalkan.


Ia terus mengetuk pintu berulang kali, hingga akhirnya pemilik kamar membuka pintu dengan senyuman yang selalu diperlihatkan pada semua orang.


"Maaf Bunda, Asa bangun kesiangan lagi," ucap Asa terlihat baik-baik saja. Tidak ada kesedihan dalam raut wajah gadis itu, tapi entah kenapa bunda Ara mengkhawatirkan sesuatu.


"Nggak papa Sayang, bunda takutnya kamu malah nggak enak badan, ayo sarapan dulu setelah itu mau main atau tidur bunda nggak masalah," ajaknya.


Menarik Asa meninggalkan kamar, sementara Asa sendiri sibuk mengendalikan diri agar sandiwaranya terlihat meyakinkan.


"Ayana ke sekolah?" tanya Asa setelah sampai di meja makan.


"Iya, tadinya mau ketemu kamu, tapi belum bangun. Oh iya setelah ini bunda mau ngomong sesuatu sama Asa berdua aja, mau ya?"


"Iya Bunda," sahut Asa.

__ADS_1


Gadis yang hatinya masih terluka tersebut sibuk menyantap hidangan lezat yang selalu tersedia di meja makan setiap harinya. Bukankah Asa sangat beruntung sebab menjadi bagian dari keluar Adhitama? Meski hanya sebagai benalu.


Ah memikirkan hal tersebut membuat hati Asa kian teriris. Gadis itu menyelesaikan sarapannya dengan cepat hanya karena ingin mendengar cerita dari bundanya.


"Asa, kunci motor kamu mana?" tanya Samuel yang tiba-tiba masuk ke ruang makan.


Asa lantas menoleh, berbeda dengan bunda Ara yang menyibukkan diri dengan piring-piring kotor di atas meja.


"Ada di kamar A- Om," sahut Asa. "Tunggu Asa ambilin.


Gadis itu berlari ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil lalu menyerahkan pada Samuel. Tidak salahkan Asa memanggail Samuel, Om? Lagi pula pria paruh baya itu tidak menginginkan keberadaanya.


Asa akan pergi, tadi ia menunggu waktu yang tepat. Waktu di mana bisa menyatukan Ayana dan Altair seperti keinginan Samuel.


Berbeda dengan Ara yang sedikit sakit hati mendengar panggilan itu keluar dari mulut putri kesayanganya. Ia menghampiri Asa yang masih tersenyum layaknya tidak terjadi apa-apa.


"Kenapa manggil om? Dia ayah kamu Nak, dan di sini ada Bunda."


Asa mengeleng. "Asa mau biasain diri, biar nanti nggak kaku manggilnya. Lagian Asakan bukan anak kandung kalian. Tapi jangan sedih Bunda, Asa nggak bakal pergi kok. Asa malah senang tahu status sebenarnya."


"Asa?" Bunda Ara tidak kuasa menahan air matanya, melihat itu Asa langsung memeluk wanita paruh baya yang berbaik hati merawatnya selama puluhan tahun.


"Jangan nangis Bunda, Asa nggak suka liat bunda nangis."

__ADS_1


"Sayang, jangan gini. Apa yang dikatakan ayah semalam itu nggak benar, ayah cuma emosi aja makanya ngomong ngawur. Kamu sama Ayana nggak ada bedanya."


"Nggak usah disembunyiin Bunda, Asa nggak papa kok."


Asa mengedip-ngedipkan matanya agar air mata tidak ikut mengalir mendengar isakan dari wanita yang sangat dia sayangi.


Asa harus tegar untuk membahagiakan semua orang sebelum dia benar-benar pergi.


Penyakitan, bukan anak kandung dari keluarga orang berada seperti Ayana dan Altair sudah cukup untuk Asa sadar diri akan posisinya di lingkungan keluarga tak tergapai tersebut.


"Kalau boleh tau orang tua Asa kemana, Bunda? Gimana ceritanya Asa bisa ketemu Bunda?"


Hening.


Bunda Ara engeng untuk menjawab pertanyaan Asa yang sangat menyakitkan hati. Wanita paruh baya itu tidak mengerti kenapa hati Asa sangat keras sampai bisa menanggung kesakitan seorang diri dan mampu mengendalikan rasa sakit sehebat apapun.


"Bunda?"


"Mereka udah meninggal Nak, bunda ketemu kamu di rumah sakit tepat setelah kamu lahir ke dunia. Sekarang kamu putri bunda dan ayah, jangan pernah berkecil hati hanya karena tahu kebenarannya. Kasih sayang bunda nggak akan pernah berubah dan pilih kasih sama kalian berdua. Satu lagi ...."


Bunda menatap Asa yang malah tersenyum dan sangat menyebalkan di matanya.


"Jangan panggil Om, ayah tetap ayah kamu."

__ADS_1



__ADS_2