Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 91 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Hujan-hujanan di tengah malam, membuat suhu tubuh Altair langsung naik seketika. Untung saja papah Rayhan dengan sigap menemukan putranya dan menyeret pulang kerumah.


Pria paruh baya itu lebih rela mukul putranya, dibandingkan harus menunggu seperti orang bodoh di tengah derasnya air hujan.


"Lepasin Altair, Pah! Papah nggak tau gimana perasaan ...."


Bugh


Bogeman kembali menghantam wajah Altair yang kini berada di rumah, memaksa untuk pergi ke sekolah tengah malam seperti ini.


"Masuk, papah nggak suka dibantah!" bentaknya dengan rahang mengeras.


Pria paruh baya itu sebenarnya harus lembur di kantor karena proyek robot yang sedang dikerjakan, tapi mendengar putranya tidak pulang. Rayhan rela meninggalkan urusan yang sangat penting.


"Rayhan!" pekik Giani yang melihat Rayhan hendak kembali melayangkan pukulan pada putranya.


"Suruh dia masuk ke kamarnya, atau aku bakal bunuh dia!" ucap Rayhan dan berlalu pergi.


Ini pertama kali untuknya memukul Altair, hanya kerena mengkhawatirkan kesehatan putranya.


"Sayang, kamu demam," ucap Giani meraba pipi putranya yang tiduran di teras rumah.


"Altair mau nunggu Asa, Mah."


"Nunggunya di dalam aja ya. Sekalian minum obat," bujuk Giani, tapi Altair mengelengkan kepalanya.


Tetap pada pendirian ingin menunggu kekasihnya. Yang membuat Altair sakit adalah, pesannya dibaca tapi tidak kunjung ada balasan apapun.


"Asa nggak bakal suka kalau kamu sakit, Nak. Ayo!" ajaknya dengan sabar.


Sementara Rayhan yang dipenuhi akan emosi, menguyur tubuhnya dengan air hangat. Berusaha merendamkan amarah karena kekeras kepalaan putranya. Ada rasa sesal menghampiri Rayhan karena berani memukul putra satu-satunya.

__ADS_1


"Sialan kamu El, bawa kebahagian putraku pergi," gumamnya.


Setelah selesai menghangatkan tubuh, Rayhan segera menghubungi sepupunya dan kebetulan ponsel Samuel sedang aktif.


Rayhan duduk sambil ongkang kaki di sofa, menempelkan benda pipih di telinganya.


"Mana Asa?" tanya Rayhan setelah sambungan telpon tersambung.


"Lagi istirahat."


"Samuel, aku harap kamu nggak nyembunyiin sesuatu yang ...."


"Dia putriku, dia baik-baik aja atau nggak bukan urusan kamu. Jangan tunggu Asa kembali, kau bisa memutuskan pertunangan dan mencarikan Altair pasangan untuk menggantikan putriku!"


"Samuel, apa yang terjadi ...."


Tut


"Kenapa Abang nggak jujur? Kenapa Abang bohongin Rayhan tentang Asa? Altair berhak tahu semuanya Bang!"


"Tidurlah!"


"Abang!" bentak Ara dengan mata memerah. Tidak tahukan Samuel bahwa sekarang dia tidak baik-baik saja?


"Aku bilang tidur Ara! Nggak ada gunanya nangis mulu! Cengen banget!" bentak Samuel tanpa sadar.


Meninggalkan ruangan di mana istrinya berada.


Samuel hilang kendali untuk saat ini. Dia kehilangan dan harus mempertanggung jawabkan kesahalannya. Tapi tidak ada yang bisa Samuel lakukan untuk mengembalikan putrinya seperti sedia kala.


Tawa itu, senyuman itu. Suara lembut dan perhatian Asa terus terbayang-bayang diingatan Samuel untuk saat ini.

__ADS_1


Samuel memandangi tubuh dingin dan sangat pucat yang berada di atas brangkar. Raga itu masih ada, tapi entah nyawanya di mana.


"Bagaimana keputusannya Tuan Samuel? Sudah lima hari berlalu, membiarkan putri Anda seperti itu hanya akan menyiksanya. Dia hidup hanya karena alat."


"Lakukan yang terbaik!"


"Maaf, kami tidak bisa menolongnya lagi, Tuan."


"Jaga ucapan, Anda Dokter!" Menatap tajam dokter yang menangani putrinya. Menarik kerah kemeja pria itu tanpa perasaan


"Tuan?" Berusaha melepaskan cengrakaman kuat itu.


"Abang, berhenti!" pekik Ara yang ternyata menyusul suaminya. "Dokter bukan Tuhan yang bisa ngabulin permintaan kamu!"


Ara beralih menatap dokter yang selama ini menangani Asa. "Beri kami waktu satu minggu, Dokter. Jika dalam satu minggu nggak ada perkembangan apapun tentang detak jantungnya, maka dokter bisa melepaskan semua alat-alat medis ditubuhnya."


"Ara, kamu gila hah?" sentak Samuel.


"Aku nggak gila Bang, tapi biarin Asa hidup dengan alat di tubuhnya bukan hal yang bagus. Dia tersiksa, dia nahan sakit dalam tidur panjangnya," jelas Ara seraya meneteskan air matanya.


*


*


*


*


*


Nulis sambil nangis nggak enak banget😪

__ADS_1


__ADS_2