Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 63 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Samuel, pria itu membantu istrinya untuk mengeluarkan air yang telah Ara telan saat tercebur ke kolam renang. Namun, balasan yang ia dapatkan malah penolakan dari sang istri yang tetap mengusirnya dari rumah.


Samuel tidak ingin pergi bukan karena takut melarat, melainkan tidak ingin berpisah dengan keluarga kecilnya, terutama Ara. Wanita yang sungguh ia cintai dengan caranya sendiri.


"Pergi, aku nggak mau liat kamu lagi Bang! Kamu bisa balik kalau Asa juga balik ke rumah ini!" ucap Ara untuk ke sekian kalinya.


Wanita itu merubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Samuel. Tidak mengucapkan terimakasih meski telah ditolong oleh suaminya.


Sementara Samuel bergeming di tempatnya.


"Ara, maafin Abang. Abang bakal bawa Asa kerumah ini lagi dan ...."


"Nggak usah bawa Asa pulang kalau Abang nggak bisa beri dia kasih sayang yang tulus! Dan jangan pernah bawa dia kerumah kalau Abang terus mendikte kehidupan dia dan Atair!"


"Kalau Abang bisa bawa Asa, Abang bakal dapat maaf?"


"Tergantung!"


Samuel menghela nafas panjang, segera keluar dari kamar utama dan benar-benar meninggalkan rumah detik itu juga. Rasanya Samuel ingin memukul orang untuk saat ini karena orang-orang tersayangnya telah acuh.


Ia mengusap wajahnya kasar setelah berada di mobil.


"Sial, jadi gini rasanya diabaikan?" Samuel meninju setir kemudi, sehingga miniatur motor bebek terjatuh dari dasbor mobil.


Seketika miniatur motor bebek itu mengingatkan pada putri angkatnya. Putri yang telah ia benci bertahun-tahun karena kecelakaan yang Samuel yakini Asalah penyebabnya.

__ADS_1


Asa pernah masuk keruangan Samuel dengan senyuman ceria, bergelayut manja di lengannya dan mengatakan ingin mempunyai motor sambil memperlihatkan meniatur.


Namun, jawaban yang Samuel berikan malah penolakan yang tidak pernah Ara tahu sebelumnya.


"Memangnya kamu pernah ngasih apa sampai harus dibeliin motor?"


Jawaban itulah yang Samuel lontarkan pada Asa, sehingga sampai detik ini ia tidak pernah lagi mendengar permintaan-permintaan kecil Asa.


Samuel mengenggam miniatur bebek itu dengan perasaan berkecamuk.


"Apa aku salah jika membencinya? Dia telah membuatku kehilangan kesempatan untuk mendapatkan putra seperti sahabat-sahabat aku yang lainnya," lirih Samuel masih belum menerima sepenuhnya tentang kenyataan yang ada.


Kenyataan di mana ia tidak akan pernah memiliki seorang putra selama hidupnya.


"Altair berhenti ih! Jahil banget dah!" pekik Asa yang terus menghindari air yang Altair semprotkan padanya.


Kedua remaja itu sedang berada di taman dekat kamar. Menyiram bunga di sore hari berakhir saling menyiram satu sama lain.


Asa berusaha menghalau hujan buatan Altair karena udara sangat dingin, sementara Altair seakan tidak punya telinga terus membuat air mancur.


"Rese banget sih!" Kesal Asa berkacak pinggang. Berlari menghampiri Altair tanpa mempedulikan air akan mengenai tubuhnya lagi, terlebih ia telah basah kuyup.


Asa berusaha mengambil selang di tangan Altair, tapi kesusahan karena tinggi yang tidak seimbang.


"Yah kasian pendek, ayo tengkap!" ejek Altair menjulurkan lidahnya sehingga Asa semakin kesal.

__ADS_1


Terjadi rebut merebut satu sama lain hingga akhirnya Altair kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke rumput imitasi.


Karena kakinya yang panjang, Asapun ikut terjatuh sebab mengenai kaki panjang sang kekasih.


Asa menutup matanya, berbeda dengan Altair yang terkekeh melihat wajah mengemaskan Asa yang menempel di dadanya. Rasa sakit pada pinggang tidak Altair hiraukan karena mendapatkan pelukan hangat dari sang kekasih.


"Nyaman banget ya dada aku?" ledek Altair.


Asa lantas membuka matanya dan tersipu melihat senyum jenakan Altair. Ah sungguh ia sibuk melafalkan doa agar tidak apa-apa tanpa sadar ternyata tubuhnya mendarat di atas Altair.


Ia buru-buru bangun dan ingin menghindar, tapi Altair malah menahan pinganggnya sehingga tidak bisa bergerak.


"A-altair ak-aku mau ganti baju dulu," lirih Asa mengigit bibir bawahnya.


"5 menit Sa, pengen dipeluk dulu!" pinta Altair.


Pria itu membimbing tangan Asa ke dadanya.


"Jantung aku mengila setiap dipeluk sama kamu."


"Ak-aku juga," lirih Asa tersipu malu.


Ia refleks menutup matanya ketika Altair mendekatkan wajah, tapi kembali membuka ketika suara seseorang terdengar dari pagar depan yang tidak terlalu jauh.


'"Bagus! Kabur dari rumah bawah cewek dan sertifikat rumah!"

__ADS_1


__ADS_2