
Sejak pembicaraan tentang pernikahan beberapa bulan yang lalu, waktu bertemu Altair dan Asa semakin sedikit. Sudah terhitung satu minggu mereka dipisahkan oleh jarak dan hanya bisa bicara lewat sambungan terlpon saja. Seperti saat ini, keduanya sedang melakukan panggilan panggilan video untuk mengurangii rasa rindu yang bersemayang di hati.
Altair tidur tengkurap di ranjangnya dan menatap layar yang sedang menampilkan sang kekasih. Bibir pria itu mengerucut, memperlihatkan pada kekasihnya bahwa dia sedang kesal. Bukan Asa yang dikurung oleh ayahnya, melainkan Altair lah yang dikurung oleh papahnya.
"Jangan cemberut gitu, Air. Nanti kita bakal ketemu kok. Tujuan orang tua kita larang buat ketemu, biar pas nikah bisa kangen-kangenan." ucap Asa menenangkan di seberang telpon, tetapi yang ditenangkan tampak tidak sabaran.
"Kamu enak ngomong gitu, lah aku?"
"Bedanya apa, Sayang? Aku juga nggak bisa ketemu kamu. Cuma aku sabar, karena tau kita pasti bakal ketemu dan tinggal di atap yang sama. Airnya Asa harus sabar. Kalau gini aja nggak sabar, gimana nanti kalau aku hamil anak kamu? Ntar ngidam aneh-aneh malah dimarahin."
"Nggaklah, yakali aku marahin kamu."
"Altair, keluar kamar buruan!"
Altair memejamkan matanya mendengar teriakan itu, dia mengepalkan tangan, kesal karena sang papah selalu menganggu setiap kali dia bertukar kabar dengan Asa.
__ADS_1
"Sana temuin om Rayhan! Lagian aku juga mau mandi sore."
Asa memutus sambungan telpon setelah mendapat persetujuan dari Altair. Segera mandi dan menemui orang tuanya yang sedang berada di lantai bawah. Pernikahan tinggal menghitung hari dan Asa sangatlah gugup, tetapi berusaha menyembunyikannya dari semua orang. Termasuk Altair yang jiwa labilnya masih meronta-ronta.
Sebenarnya Asa ragu untuk menikah di usia muda, tapi permintaan om Rayhan dan beberapa orang lainnya membuat dia akhirnya setuju.
"Calon pengantin kita makin hari kulitnya makin cerah aja deh," sambut oma Kirana, menarik Asa agar duduk di antara oma Fany dan bunda Ara.
"Obatnya udah diminum, Nak?" tanya bunda Ara.
"Udah Bunda. Sekarang Asa nggak terlalu lemas kok. Asa siap ngerjain apa aja di rumah."
Asa tersenyum canggung mendapati perhatian-perhatian kecil dari keluar angkatnya. Sampai kapanpun Asa tidak akan lupa dengan statusnya yang buka siapa-siapa di rumah ini. Jika suatu hari nanti keluarga angkatnya membutuhkan sesuatu, dia adalah orang pertama yang akan maju dan menyerahkan apa yang mereka perlukan.
"Oma, Bunda!"
__ADS_1
Atensi Asa dan yang lainnya langsung tertuju pada sumber suara. Mereka sama-sama tersenyum melihat Ayana berlari menghampiri dengan seorang pria di sampingnya.
"Siapa? Kok tampan banget?" tanya Ara, terlebih ketika pria itu menunduk dan mencium punggung tangannya.
"Pacar Aya," seru gadis itu.
Seketika perempuan yang sedang berada di ruang keluarga tampak terkejut mendengar pengakuan putri bungsu mereka yang kini telah berusia 16 tahun.
"Jangan bilang dia yang pernah kamu ceritain satu tahun yang lalu?" tebak Asa dan dijawab anggukan malu-malu dari Ayana.
Semua orang menyambut pacar Ayana dengan baik karena meninggalkan kesan sopan pada semua orang. Itupun menjadi kelegaan tersendiri untuk Asa yang masih mengkhawatirkan perasaan Ayana saat dia menikah nanti.
"Asa, ini calon suami kamu datang nyariin. Diusir apa nggak?" tanya ayah Samuel yang kebetulan berada di teras depan.
"Jangan diusir dong, Om. Altair butuh perjuangan besar buat sampai di sini." Altair memelas.
__ADS_1
Pria itu dapat keluar rumah tanpa pengawasan karena menemani Sabira belanja kebutuhan sekolah. Untung saja Sabira mau diajak kerjasama.
"Setengah jam, temuilah! Om juga kasian sama Asa, dia kangen banget sama kamu, tapi nggak berani minta dipertemukan."