Asa Di Bintang Altair

Asa Di Bintang Altair
Part 66 ~ Asa & Altair


__ADS_3

Asa yang baru saja bangun saat matahari sudah terbit, hendak melangkahkan kakinya ke dapur, tapi urung ketika mendengar perdebatan Altair dengan seseorang di ruang tamu.


Altair sedang duduk di sofa sambil ongkang kaki, sementara Jihadi berdiri di depan Altair dengan wajah lempengnya, sepertinya kembali kesal karena kekeras kepalaan Altair.


"Gue bilang nggak ya nggak!" tolak Altair tetap pada pendiriannya.


Jihadi mengambil nafas panjang dan menghebuskannya dengan kesal.


"Kamu yang udah tandatangan kontrak Altair! Pemeran utamanya juga kamu, syuting udah setengah jalan. Ya kali aktornya tiba-tiba diganti!" omel Jihadi.


Jam 1 siang, Altair ada syuting drama di ibu kota, tapi pria itu menolak untuk hadir karena tidak ingin meninggalkan Asa sedirian di rumah.


"Gue nggak bisa, ngerti nggak sih? Ya kali Asa sendirian di rumah. Kalau penyakit jantungnya kambuh gimana? Lo mau tanggung jawab?"


"Tapi ...."


"Altair bakal pergi kok kak, tenang aja," ucap Asa ikut bergabung ketika melihat Jihadi mulai frustasi.


"Nggak Asa!"


"Harus pergi! Kalau gini caranya kamu tuh nggak bertanggung jawab! Selesaikan apa yang kamu mulai baru aku ...."


"Apa?"Altair ikut berdiri dengan alis terangkat.


"Aku bakal nurutin semua keinginan kamu, janji!" ucapnya cepat, berhasil menerbitkan senyum di bibir Altair dan kelegaan untuk Jihadi.

__ADS_1


"Oke, aku bakal pergi tapi setelah penjaga rumah datang!"


***


Suasana sekolah seperti biasa, tampak ramai dan selalu saja ada topik hangat yang bisa dibicarakan satu sama lain.


Begitupun dengan Fely yang sedang menyusuri koridor untuk mencari keberadaan Mark yang menghilang secara tiba-tiba.


Langkah Fely memelan ketika melihat Mark ada di ujung koridor berdiri seperti berbicara dengan seseorang.


Ia hendak menepuk pundak Mark, tapi urung ketika mendengar dialog Mark bersama angin sambil menyerahkan setangkai mawar merah.


"Ekhem." Mark berdehem beberapa kali sebelum kembali memulai dialognya.


Senyuman gadis itu pudar seketika, ia meremas coklat ditanganya. Fely mengira cintanya akan terbalas pada Mark yang selalu baik padanya, ternyata Mark malah menyukai sahabatnya sendiri.


Melihat Mark berbalik, Fely buru-buru menyembunyikan coklat di belakang tubuhnya, lalu kembali tersenyum seperti biasa.


"Hayo ketahuan kan kamu suka sama Asa," ledek Fely mengoyang-goyangkan jari telunjuknya.


"It-itu gue ... jangan beritahu siapapun, terutama Asa," bisik Mark menarik tangan Fely.


Fely mengelengkan kepalanya. "Nggak mau, kamu harus nyatain perasaan ke Asa. Ayo kita kerumahnya!" ajak Fely. Ia beralih merangkul lengan Mark.


Bersikap biasa-biasanya layaknya tidak ada yang sakit di dalam hatinya. Yang Fely tahu Asa tidak masuk sekolah karena istirahat di rumah, itulah mengapa keduanya tidak mencari kemana keberadaan Asa.

__ADS_1


Mark yang sudah tidak bisa membendung rasa cintanya langsung menyanggupi ajakan Fely untuk bertemu Asa di rumah.


Keduanya berboncengan menuju rumah Asa setelah pulang sekolah. Fely lebih dulu mengetuk pintu, hingga dibuka oleh wanita paruh baya yang awet muda.


"Eh tante, Asanya ada nggak?" sapa Fely riang.


"As-asa lagi nggak di rumah Nak. Dia lagi pergi sama Altair."


"Kapan pulang tante?" tanya Mark.


"Tante nggak tau kapan, nanti kalau pulang tante kabarin ya. Oh iya, masuk dulu!" ajak bunda Ara membuka pintu lebar-lebar.


Tapi Fely dan Mark menolak dengan halus ajakan bunda Ara. Segera berpamitan dengan wajah cemberut karena tidak bisa bertemu Asa yang merupakan mood boster siapa saja.


"Aneh nggak sih? Kok bunda Asa kayak nyembunyiin sesuatu ya?" tanya Mark sambil mengelus dagunya.


"Emang iya?"


"Serius, apa jangan-jangan Asa keluar negeri buat berobat? Kan selama ini ponselnya nggak aktif," tebak Mark.


Fely mengelengkan kepalanya cepat, tidak setuju akan tebakan Mark.


"Nggak lah, Asa nggak mungkin ninggalin kita tanpa pamit. Tadi juga bundanya ngomong lagi jalan sama ...."


"Kak Asa emang pergi sama kak Altair, kak. Tapi nggak ada yang tau mereka pergi kemana. Ini semua karena salah Aya," ucap Ayana yang menghentikan motor pinknya tepat di samping Fely dan Mark.

__ADS_1


__ADS_2