
Menerima Altair menjadi pacar sepertinya petaka untuk Asa. Pria pemaksa tersebut semakin tidak terkendali karena Asa telah menjadi pacarnya.
Sudah jam 7 malam, tapi Asa tidak kunjung meninggalkan apartemen atas permintaan Altair. Pria itu engang bangun dari pangkuan Asa.
Tidak tahukah Altair bahwa setan selalu ada di mana-mana? Mungkin di dekat mereka juga ada untuk membujuk agar melakukan hal yang salah.
"Asayang, kitakan udah pacaran. Besok kerumah mamah yuk? Aku mau kenalin kamu sama mereka. Pasti mamah senang banget tau kamu itu calon mantunya," cetus Altair mengecup jari-jari lentik Asa sambil menatap langit-langit ruang Tv.
Berbeda dengan Asa yang mengigit bibirnya karena kesal akan tingkah Altair yang seenaknya. Kalau bukan karena membujuk dan memperbaiki mood pria itu, Asa telah mendorong Altair hingga terjerambah ke lantai.
"Sayang?" Altair beralih menatap Asa.
Asa yang menyadarinya lantas menampilan senyum secantik mungkin.
"Aku belum siap."
"Kenapa sih?"
"Ya nggak papa Altair. Cuma kayaknya terlalu dini deh buat kenalan. Lagian papah dan mamah kamu tahu kok aku siapa."
"Beda Sayang, beda! Mamah sama papah tahunya kamu sepupu aku bukan pacar!"
"Ya udahlah."
"Mau?" Altair tersenyum bahagia tapi dipatahkan oleh gelengan Asa.
"Jangan aneh-aneh, ayo cepetan tidur! Katanya tadi ngantuk!" Menyapu wajah tampan Altair dengan tangan mungilnya.
__ADS_1
Bukannya marah Altair malah tertawa, mengigit kecil jari-jari cantik milik Asa.
Apa kalian tahu bagaimana bahagianya Altair bisa memiliki Asa? Rasanya tidak bisa dijabarkan oleh apapun. Mungkin jika dipukul berulang kali Altair tidak akan merasa sakit sakin bahagianya.
Bahkan saat kedatangan sosok pria secara tiba-tiba di apartemannya tidak membuat Altair marah, padahal biasanya pria itu akan melempar sesuatu yang berada di atas meja pada managernya.
"Duduk dulu kak Jihadi!" sambut Asa. Tadi gadis itu diam-diam menghungi Jihadi agar datang membawa berkas yang harus ditandatangani oleh Altair agar tidak ada perubahan pikiran nantinya.
Asa perlahan-lahan mendorong kepala Altair agar bangun, ia merasa malu jika dalam posisi ini padahal ada orang lain.
Namun, bukannya bangun, Altair malah bergeming, menatap Jihadi yang telah duduk di sofa tepat di hadapan Asa.
"Anggap aja saya patung," ucap Jihadi yang menyadari rasa tidak nyaman Asa.
Karena tidak ingin berlama-lama pria itu menjejerkan 6 map di atas meja agar segera di tanda tangani oleh Altair.
"Nggak boleh ada Scandal selama masa kontrak."
"Lagi dan lagi?" tanya Altair tidak percaya. "Lo kira Idol itu robot yang nggak punya hati dan perasaan? Idol juga punya hati dan bisa jatuh cinta sama siapa aja dan ...."
"Katanya mau nurut kalau udah jadi pacar," sendiri Asa. "Lagian Scandalkan nggak selalu pacaran, Altair. Bisa aja kamu bandel atau buat masalah yang bikin citra kamu nggak baik yang berujung produk yang kamu iklanin juga mengalami pernurunan," jelas Asa.
"Nah benar, makasih Asa udah dibatu jelasin. Keknya kamu bisa deh jadi manager Altair, pasti nggak repot tiap hari dengar bantahan dia," celetuk Jihadi membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari Altair.
Pria itu memutuskan untuk diam, memperhatikan tangan Altair yang bergerak secara lincah di atas berkas usai membacanya bersama Asa.
Altair juga telah merubah posisinya menjadi duduk, dimana membuat perasaan Asa melega.
__ADS_1
Melihat Jihadi bangkit dari duduknya, Asapun ikut berdiri dan menyengir kuda pada Altair.
"Mau kemana?"
"Pulang," jawab Asa.
"Kalau gitu aku antar!" Altair berdiri dan berlari ke kamarnya untuk mengambil jaket, ponsel dan kunci motor.
Bukankah seorang pacar harus memastikan pacarnya sampai di rumah dengan selamat?
"Ayo Sayang!" Mengenggam tangan Asa.
"Aku bawa motor Altair. Lagian tadi katanya ngantuk.
"Nggak jadi ngantuk, ayo keburu jam 10." Menarik tangan Asa keluar dari apartemen.
Asa hanya menghela nafas panjang melihat tingkah bocil kematian yang tengan mengenggam tangannya di koridor lumayan sepi.
Diam-diam ia tersenyum lebar memperhatikan tangannya yang saling bertaut. Kali ini rasanya sangat berbeda, mungkin karena status mereka yang juga telah berubah dari sahabat menjadi pacar.
Altair baru melepaskan genggaman tangannya setelah berada di basemen.
"Ayo jalan Sa, aku bakal ikutin dari belakang sampai rumah," ucap Altair.
Asa mengangguk, segera melajukan motornya perlahan. Sesekali melirik spion hanya untuk memastikan Altair benar-benar mengikutinya atau tidak.
Hati Asa benar-benar bahagia di perlakukan layaknya ratu oleh Altair. Kalaupun sikap Altair terkesan lancang dan pemaksa, tapi pria itu tidak pernah melakukan sesuatu yang lebih selain berpelukan dan kecup kening ataupun pipi.
__ADS_1
Ya meski sesekali kecup bibir sih.