
E'ehmmm....". Jacqueline dan Melda, menghampiri dua sejoli itu.
Huda dan Jenni, menegang saat kedatangan mereka.
Brengseeekk....Kenapa, bertemu dengan Melda dan Jacqueline. Benar-benar kacau, semuanya. Habislah sudah,mana ada Jacqueline lagi.Batin Huda, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Hussssttttt....Gimana yah,kalau Tante Kelin tau? Apa lagi,sama keluarga besarnya". Melda, tersenyum smrik. Astaga, sangat menarik dan sangat berbahaya. Sudah pasti, Huda menjadi seorang pria gelandangan di jalan. Aku yakin,mana Jenni bersamanya lagi. Jenni,hanya memandang Huda karena dia kaya raya.
"Sudah pasti, perusahaan Daneen jatuh ke tangan James". Sahut Jacqueline, tersenyum. Mampus kau, Huda. Dalam sekejap, derajat hidupmu akan berubah menjadi mengerikan. Sudah pasti, Jenni meninggalkan Huda karena tidak bisa di harapkan lagi.
"Yah...karena Om Karle dan Kelin, tidak menyetujui hubungan mereka. Sudah pasti, Huda di singkirkan dari keluarga Daneen. Siap-siap, Menikmati masa-masa sulit". Kata Melda, dengan santainya. Sepertinya, sangat menarik juga. Jika aku, bekerjasama dengan James. Setauku, Huda dan James tidak akur dan selalu bermusuhan. Apa lagi,saling bersaing merebut tahta waris keluarga Daneen.
"Mel,kamu salah paham. Aku dan Jenni, tidak memiliki hubungan apa-apa. Kami,hanya berteman". Huda, yang sudah gelisah gusar karena ketangkap basah. Kurang ajar sekali, mereka berisap-siap untuk membongkar rahasia ku. Bisa gawat,mamah pasti di kucilkan keluarga besar lainnya.
"Iya, Melda. Aku dan Huda,hanya berteman. Tolonglah, jangan salah paham dulu". Jenni,juga ikut bicara untuk meyakinkan Melda. Terpaksa,aku lakukan ini. Sialan,mana Huda sempat-sempatnya mencubit lengan ku.
"Oh,tapi gak papa sih. Kalau kalian, berteman saja. Toh,gak penting banget buat aku". Ucap Melda, dengan wajah sinis. Mereka kira,aku anak kecil yang bisa di bohongi gitu. Helooo....Maaf,aku bukan sepolos yang di pikirkan kalian
"Tapi,kasian sih. Sama Tante Kelin, jika mengetahui anaknya berbohong. Melda, bagaimana kamu mendekati James. Lumayanlah,dia akan ahli waris keluarga Daneen". Sahut Jacqueline, membuat Huda langsung syok mendengarnya. Sudah pasti, Huda akan di marahi habis-habisan oleh ibunya. Om karle,juga semakin membenci Huda. Heran,kenapa sih? Huda, bertekuk lutut kepada Jenni. kayanya, terkena jampi-jampi Jenni deh.
"Jacqueline,jangan macam-macam kamu. Bukankah,kamu sudah menganggap ku sebagai kakak. Mana ucapan memanggil ku,kak Huda. Tidak berhak mengusik keluarga,Daneen". Bantah Huda, emosinya menggebu-gebu disaat ini juga. Brengsekk.... Brengseeekk...Bisa apa,aku. yang di hadapi, keluarga Fernandez. Apa lagi, Jacqueline istri V. Mana mungkin,aku melakukan hal licik. bisa saja, leherku langsung di gorok oleh V atau Frans.
"Melda, percayalah kepada kami. Karena kami, tidak memiliki hubungan apa-apa lagi". Jenni, memasang wajah sedih. Matanya, memandang ke arah Melda.
__ADS_1
"Ayo,kita pergi dari sini. Malas sekali, meladeni para pembohong". Melda,menarik lengan Jacqueline. Terserah,mau hubungan apa yang kalian jalankan. Asalkan, jangan merugikan diri ku.
Padahal Jacqueline,masih bersemangat melawan Huda dan wanita itu. "Melda,aku belum selesai". Gerutu Jacqueline, dengan wajah masam.
"Huda, bagaimana ini? Aku,gak mau kamu kalah dengan saudara tirimu itu". Decak Jenni, dengan kesal. Menyebalkan sekali, Melda. Dia, benar-benar berkuasa atas segalanya. Mentang-mentang,di bawah naungan keluarga Fernandez. Mana mungkin,aku bersama Huda. Jika dia,di singkirkan dari ahli waris keluarga Daneen.
"Kenapa,jadi menyalahkan diri ku? Bukankah,kamu yang minta temanin. Sudah aku bilang,kita jaga jarak dulu. Nyatanya, kamu malah ngelunjak". Huda, langsung membentak kekasihnya.
"Tapikan,aku lagi pengen sama kamu. Pasti, bawaan anak kita. Kapan ,kita menikah? Lama-kelamaan, perutku semakin besar". Jenni, sangat mengkhawatirkan hubungan antara mereka.
"Gugurkan kandungan mu, mumpung masih muda. Jika kamu, meragukan ku Jenni. Walaupun, kita tidak menikah sekalipun. Aku, tetap menafkahi dan memberikan kebutuhan anak kita. Untuk saat ini,maaf aku tidak bisa menikahi mu. Hidupku,akan hancur jika ketahuan keluarga. James,akan menguasai seluruh harta kekayaan keluarga Daneen. Dia, menaruh dendam besar Kepada ku". Huda, semakin frustasi karena memikirkan keadaannya. Lama-kelamaan,aku enek melihat Jenni. Kalau dia, tidak hamil. Mana mungkin,aku bersamanya lagi.
Air mata Jenni,mengalir deras. "Baiklah,kita gugurkan kandungan ini. Agar kamu,puas. Tidak perlu kamu, memikirkan keadaan ku". Sungutnya, dengan hati hancur berkeping-keping. Apa aku, mengalah saja dan menggugurkan janin ini. Tapi,aku masih ragu dengan ucapan Huda.
"Baiklah,sayang. Aku,terima dan sabar menunggu momen indah itu". Jenni, akhirnya luluh juga. Dia,mulai tersenyum sumringah dan memeluk erat tubuh Huda.
Huda,menghela nafas beratnya dan merasa lega. Ada senyum smrik, terpampang di sudut bibirnya.
**************
"Mamah,mau ke toilet. Sakit perut,tolong jaga Jeno". Pinta Sarah, menyerahkan cucunya kepada V.
Kebetulan sekali,baby sitter cuti beberapa hari dan Jacqueline masih belum pulang.
__ADS_1
"Iya,mah. Jangan lama-lama, pekerjaan ku masih banyak". Kata V, menggendong anaknya. Padahal,dia sedang meeting melakukan siaran langsung.
Semenjak Frans, mengambil jatah libur. Dia,di sibukkan dengan pekerjaan.
"Maaf, meeting kita tunda dulu". V, langsung mematikan siaran di laptop. Sang anak merengek meminta, gendong dan jalan-jalan.
"Astaga,jam berapa sudah? Kenapa, Jacqueline belum pulang saja. Pasti mamah,yang mengijinkan dia pergi". V, langsung menghubungi istrinya karena sudah lama pergi.
V, merebahkan anaknya di atas ranjang dan bermain-main. Entah, kenapa tiba-tiba rasa kantuknya datang? Dia, tertidur di samping sang anak.
Sarah,yang sudah selesai dari kamar mandi dan masuk kedalam kamar anak dan menantunya. Melihat V, tengah tertidur pulas dan sang cucu bermain sendirian.
"Astaga,baru di tinggal sebentar. Daddy nya,malah molor tidak memperdulikan cucuku". Gerutu Sarah,dia geram dengan anaknya.
Plakkkk....
Sarah, menampar wajah V cukup keras. Sontak V, langsung bangun karena terkejut.
"Mamah,kenapa menampar ku. Auuu.. lumayan perih,". V, mengelus-elus pipinya terasa perih. Rasa kantuknya, tiba-tiba hilang seketika. Matanya, memandang ke arah bayi mungil yang umurnya baru beberapa bulan.
"Mamah, pergi sebentar malah molor. Kalau anakmu,jatuh dari ranjang bagaimana? Mamah,tak segan-segan menghajar mu V. Awas saja, kenapa-kenapa dengan cucu mamah". Sarah,memarahi anaknya.
"Mah,aku hilaf dan tidak sadar. Entah, kenapa tiba-tiba ngantuk? Aku,minta maaf". Kata V, tersenyum. "Ya sudah, V mau melanjutkan pekerjaan dulu". Sialan,mana perih juga tamparan mamah.
__ADS_1
Sarah,hanya mendengus kesal menatap kepergian anaknya. Dia, membawa sang cucu keluar dari kamar.