
"Sepertinya,kita di ikuti oleh seseorang". Kata Jacqueline, melihat ke belakang. Sial, aku harus mencari aman untuk tidak terjadi apa-apa.
"Kau benar, sekali. Aku, sudah curiga dari tadi. Kita akan mencari rumah makan dan hubungi seseorang". Sahut Melda, tersenyum kecil. Semoga saja, tidak terjadi apa-apa.
Melda, memarkir mobilnya. Jacqueline dan Melda,masuk ke rumah makan di pinggir jalan.Kebetulan, sangat ramai sekali.
"Kita tunggu di sini, hubungi seseorang meminta bantuan". Pinta Melda,kepada Jacqueline."Aku,pesan makanan untuk kita. Sambil, mengulur waktu. Setidaknya,kita bisa aman di sini".
"Aku,akan menghubungi Garrix untuk datang ke sini. Tidak mungkin, meminta bantuan kepada V atau Frans". Jacqueline, langsung menelpon Garrix. Berharap, Garrix tidak sibuk. Hanya dia,yang aku harapkan saat ini. Tidak, aku bisa menghubungi yang lainnya.
Melda,juga memesan menu makanan untuk mereka. Memang benar,mobil yang mengikuti mereka. Terlihat berhenti,namun tidak ada yang keluar dari mobil tersebut.
Melda, semakin yakin. Yang mengikuti mereka adalah suruhan, Lauri. Huuff, berharap secepatnya bantuan datang.batin Melda, berusaha untuk tenang dan santai.
"Halo, Garrix! Kamu,dimana". Ucap Jacqueline, menelpon Garrix. Hanya beberapa menit, Garrix sudah mengangkat telponnya.
(Eee... Aku, sedang di kantor polisi. Kenapa? Ada sesuatu kah). Garrix
"Pokoknya,cerita sangat panjang. Aku dan Melda,di ikuti oleh seseorang di belakang. Kamu, bisa gak? Ke sini,tolongin kami. Sebenarnya,kami mau pulang ada sesuatu. Nanti deh,kami ceritain. Aku dan Melda,lagi berlindung di rumah makan. Tepatnya,di pinggir jalan. Tenang saja,orangnya ramai kok". Kata Jacqueline,menghela nafas panjang. Dia, berusaha berbicara pelan. Agar,para pengunjung lainnya tidak memperhatikan dirinya. Dia, was-was jika seseorang mengenalnya.
(Oke,Sherlock deh. Aku dan temanku,kesana. Kalian,jangan kemana-mana yah). Garrix.
Jacqueline, langsung memutuskan teleponnya. Melda,juga datang dan menghampirinya.
"Garrix,mau ke sini? Benar sekali,mobil itu memang mengikuti kita". Kata Melda,duduk di samping Jacqueline.
"Aku, sudah menghubunginya. Dia,akan ke sini bersama temannya. Ya sudah,kita tunggu kedatangan mereka". Jawab Jacqueline, calingukan melihat sekeliling.
"Buku diary nya,kamu bawakan". Tanya Melda, langsung di angguki Jacqueline. "Hemmm... Baguslah,aku curiga dengan Lauri".
"Sama, sepertinya suruhan Lauri. Kemungkinan,dia mencurigai gerak-gerik kita". Kata Jacqueline, tersenyum manis saat pelayan datang.
"Misi,mbak. Silahkan,di nikmati". Ucap seorang pelayan, wanita. Dengan menata makanan,di meja . "Permisi, Mbak". Pelayan wanita itu,pergi meninggalkan meja Jacqueline dan Melda.
"Semoga saja, Garrix cepat ke sini nya. Aku, mengkhawatirkan keadaan mu. Apa lagi, kamu hamil. Bisa jadi,nyawaku melayang. Kalau, kamu sampai kenapa-kenapa. Sedangkan kita, melakukan perjalanan ini secara diam-diam. Bahkan,ada teman kita yang ikut menjalankan rencana ini". Ucap Melda, sebenarnya dia sudah merasa was-was. Apa lagi, seseorang mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
"Iya, tenang saja. Ayo, makan dulu. Aku, sudah lapar sekali". Jacqueline, langsung menyantap makanan di meja.
Melda, mengangguk kepala. Memang benar, perutnya sudah keroncongan dari tadi.
Satu jam, berlalu. Garrix dan teman-temannya,datang dan masuk ke dalam.
"Garrix..!!". Jacqueline, memanggil Garrix.
Ada rasa lega dan tenang,saat Garrix dan temannya datang. Begitu juga, Melda. Dia,bisa tersenyum dan bernafas lega.
"Maaf, kelamaan. Tadi, tersesat". Kekehnya Garrix. "Kenalkan,dia Zeno dan Orion". Garrix, memperkenalkan temannya.
Tentu saja,Zeno dan Orion tersenyum dan berjabat tangan. Jacqueline dan Melda,senang atas kedatangan mereka.
Mereka berempat, memutuskan untuk pergi dari rumah makan. Benar sekali,mobil yang mengikuti mereka masih ada.
Garrix,menyetir mobil Jacqueline. Tak lupa ada Melda,takut jadi salah paham nantinya. Jika dia dan Jacqueline, berduaan dalam satu mobil. Apa lagi, mengenang masa-masa indah bersama dulu.
Zeno dan Orion, mengikuti dari belakang.
Mobil yang mengikuti, Jacqueline dan Melda. Akhirnya, tidak ada lagi.
Perjalanan cukup jauh,namun tidak kerasa sampai. Garrix, mengantar Jacqueline dan Melda langsung ke mansion.
"Terimakasih, sudah menolong kami". Kata Jacqueline, tersenyum manis. Hemm... masih seperti dulu, malu-malu kucing.
"Sama-sama,jika ada sesuatu. Hubungi saja aku,pasti akan membantu. Jangan sungkan, kitakan teman". Kekeh Garrix, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oke, makasih Zeno dan Orion. Jadi, merepotkan kalian juga". Kekehnya Jacqueline, tersenyum manis.
"Makasih banyak, Zeno dan Orion ". Melda, berjabat tangan dengan mereka saling bergantian.
"Sama-sama,jangan sungkan". Kata Orion, tersenyum.
"Hemmm...kami,senang kok. Bisa membantu,itu sudah kewajiban kami". Zeno, terlihat senang berkenalan dengan Melda.
__ADS_1
Jacqueline dan Melda, melambaikan tangan. Atas kepergian, Garrix, Zeno dan Orion.
Setelahnya, mereka masuk kedalam dan sudah di tunggu oleh V dan Frans. Tentu saja, tatapan mata yang sulit di artikan.
Tentu saja, Jacqueline dan Melda langsung menantang mereka. karena memiliki,senjata ampuh dan mematikan.
Prokkk.... Prokkk... Prokkk....
V dan Frans, bertepuk tangan ketika Jacqueline dan Melda duduk di sofa.
"Lihatlah, mereka bersenang-senang dengan pria lain. Sedangkan kita, mengkhawatirkan keadaan mereka". Decak V, menggulung lengan kemejanya.
"Ck, namanya juga wanita. Itu sudah, pekerjaan mereka. Membuat kita, khawatir dan kepikiran. Semua pekerjaan lainnya,jadi terbengkalai". Sambung Frans, dengan wajah datar.
"Aku dan Melda, sudah ijin mau kemana kan. Lalu, untuk apa mengkhawatirkan kami. Oh, sayangku, cintaku". Sahut Jacqueline, dengan wajah masam.
"Istriku yang tersayang,wajar aku mengkhawatirkan keadaan mu. Karena kamu, orang yang aku sayang. Begitu juga, Frans sangat mencintai Melda. Makanya,dia sangat khawatir. Bukan begitu kan, Frans". Tanya V,menjebak Frans dengan santainya.
"Iya,bos". Jawab Frans, langsung tanpa menyadari perkataan V.
Tentu saja, Melda senyum-senyum sendiri.
"Eee...bukan,bos. Salah,bos. Jangan ge'er, Mel". Bantah Frans, mengubah ekspresi wajahnya.
"Alahh...ngaku saja,napa? Dari tadi,kamu mondar-mandir gak jelas. Pasti, mengkhawatirkan keadaan Melda,aku yakin". V,mengusap wajah Frans tanpa ba-bi-bu dan permisi dulu.
"Bos,aku mengkhawatirkan keadaan nona Jacqueline. Apa lagi,dia tengah mengandung". Bantah Frans, tidak terima dengan perkataan V.
"Ngapain,kamu mengkhawatirkan keadaan istriku ha? Hamil, karena aku dan menjadi anakku. Jangan macam-macam,kamu". V, langsung meninggikan suaranya. Tidak terima, jika ada pria lain mengkhawatirkan keadaan istrinya.
Jacqueline dan Melda, langsung menggeleng kepalanya. Kemungkinan, mereka berdua akan adu mulut.
"Bos,bukan maksudku seperti itu. Aku, sebagai...se...bagai...itu,anggap saja. Aku, seperti pengawal pribadi Nona Jacqueline. Wajar aku, khawatir". Frans,nampak kebingungan dan tatapan V semakin tajam.
"Fransssss...Kamu, diam-diam mengkhawatirkan istriku ha? Awas,kamu". Ucap V, dengan geram. Dia,juga menggeretakkan giginya dengan keras.
__ADS_1
"E'ehmmm...maaf,aku melerai adu mulut kalian. Tapi,jawan pertanyaan ku. Siapa, Lauri". Kata Jacqueline, tersenyum smrik.
V dan Frans, langsung terdiam dan wajahnya berubah gelisah. Mulutnya,tak sanggup untuk berkata apa-apa lagi.