BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Sipemalu


__ADS_3

"Aku,aku sudah memberitahu orangtuaku..hemmm,tentang kamu mau menikahi ku". Ucap Jacqueline, dengan ragu.


Garrix,hanya tersenyum tipis dan tangannya gemeteran sudah. Memang sejak dari tadi, jantungnya berdegup kencang saat bertemu dengan Jacqueline.


Mereka berdua menikmati,angin sepoi-sepoi di bawah pohon besar dan di depan mata sebuah taman bunga.


"Pantesan,kakakmu datang dan menemui ku kemarin". Ucap Garrix, membuat Jacqueline terkejut.


"Maksudnya,kak V". Tanya Jacqueline, langsung di angguki Garrix. "Benar-benar yah,apa dia ingin aku jadi perawan tua. Dulu, waktu bersama Jacob. Dia, selalu mengusik dan mencari skandalnya. Lalu, hubungan kami tidak di restui. Sekarang, hubungan kita akan di usiknya".


"Yah... mungkin,dia ragu karena aku anggota kepolisian. Bisa saja,di saat kamu membutuhkan diriku dan aku tidak bisa karena tugas atau hal lainnya. Aku paham,apa yang di rasakan kakakmu itu. Eeee.. bukankah,kalian tidak sedarah". Garrix,baru sadar dan mulai menaruh rasa curiga dengan hubungan kakak beradik ini.


Jacqueline, cekikikan tertawa melihat tingkah Garrix. Dia, diam-diam melirik ke Jacqueline.


Dengan ide jahilnya, Jacqueline mengubah posisi duduknya agar lebih dekat dan bersandar pada bahu Garrix.


Jangan di tanya lagi, Garrix semakin besar gugupnya dan detak jantungnya terdengar oleh Jacqueline. "Aku tahu,kamu diam-diam melirik ku kan! Astaga, kenapa aku bertemu dengan pria pemalu seperti".


"Aku, aku mana ada pemalu. Hanya gugup,karena ini adalah pertama kalinya aku dekat dengan perempuan". Kekehnya Garrix,memang benar dia menahan rasa malunya.


"Benarkah? Aku melihat, gelagat aneh mu. Lihatlah,kedua pipimu merah merona". Ledek Jacqueline, terkekeh geli.


"Mana ada! Mana ada,kamu ada-ada saja". Alibi Garrix, tersenyum tipis. Huuuff...kenapa, Jacqueline mengetahui jika aku benar-benar sangat malu dan gugup.


"Garrix,aku mau pizza. Bisa tidak,kamu suapin aku". Cicit Jacqueline, berwajah imut.


"Eee... Iy-iya, sebentar aku cuci tangan dulu". Garrix, langsung membuka tutup botol air mineral dan mencuci tangannya. Tak lupa, tangannya di lap menggunakan tisu agar tidak basah.


Jacqueline, menggeleng kepalanya melihat Garrix malu-malu dan sangat susah payah ritual untuk menyuapi pizza ke mulutnya.


"Hemmm...enak, maksih. Apa perlu,aku juga menyuapi mu". Tanya Jacqueline, tersenyum.


Garrix, menggeleng kepalanya langsung. "Tidak,tidak perlu. Aku,aku bisa sendiri". Jawabnya, tersenyum.


Garrix,juga menikmati pizza yang di bawanya. Ada saos ,tepat di bibir Garrix.


"Garrix,ada saos tomat di bibir mu". Ucap Jacqueline, langsung saja Garrix ingin mengusap menggunakan tisu.

__ADS_1


"Jangan,biar aku saja ". Cegah Jacqueline, langsung. Bukan menggunakan tisu, melainkan menggunakan bibir dan lidah Jacqueline.


"Hemmm...manis". Kata Jacqueline, tanpa menoleh ke arah Garrix.


Garrix, mendapatkan serangan tiba-tiba. Tubuhnya, menegang apa lagi masih terasa daging kenyal menyentuh bibirnya.


Akan tetapi Jacqueline,malah tertawa terbahak-bahak melihat Garrix masih menegang. "Hahahahaha... jangan bilang,itu ciuman pertama mu". Ledek Jacqueline, tentu saja Garrix memalingkan wajahnya ke arah lain.


Tangannya menyentuh bibir,yang di sentuh oleh Jacqueline. Kedua pipinya, benar-benar merah merona.


Astaga, kenapa aku menemukan seorang perempuan bar-bar seperti nona Jacqueline. Dia, benar-benar berani melakukan hal itu. Tanpa rasa malu sedikitpun,apa karena pergaulan bebasnya? Tapi,aku mencari-cari bukti tentang Jacqueline. Sedikitpun, tidak ada skandal tentangnya. Batin Garrix, tersenyum tipis melihat Jacqueline menikmati sepotong pizza.


"Kau tahu, Garrix? Kita berdua di taman ini,tapi ada beberapa anak buah kakakku tengah mengintip kita". Bisik Jacqueline, sontak membuat Garrix syok.


Mata Garrix, langsung calingukan mencari sesosok yang tengah mengintip mereka. "Darimana kamu,tahu? Kenapa,baru sekarang memberitahu ku. Aku yakin, kakakmu melihat yang tadi kan. Bukan salahku,kamu yang sudah berani mencium dan mengambil ciuman pertama ku".


"Kenapa, tidak suka yah! Apa yang aku, lakukan kepadamu". Kata Jacqueline, mengubah ekspresi wajahnya dengan sedih.


Garrix,tak sanggup melihat wajah Jacqueline berubah menjadi sedih. "Boleh, tapi lihat situasi lah. Kan katamu,ada yang mengintip kita. Aku,aku malu dengan merek yang melihat kita sedang berciuman". Garrix,mengusap rambut panjang Jacqueline.


"Hemmm...maaf,aku salah. Seharusnya,aku tidak seperti itu. Ya sudahlah,kita pulang saja ". Jacqueline, bersiap-siap untuk pulang.


Jacqueline,hanya terkekeh geli. Baru kali ini, seorang pria mencium keningnya bukan bibirnya.


Jacqueline dan Garrix, memutuskan untuk pulang kediaman masing-masing.


****************


"Hahahhaahaha... astaga,kamu sudah menodai kesucian bibirnya Jacqueline". Melda,tak henti-hentinya tertawa. Saat mendengar cerita Jacqueline,karena Garrix benar-benar polos.


"Hahahaha...dia, sangat tepat mendapatkan diriku. Karena aku,bisa mempelajari hal-hal dewasa lainnya. Sungguh, sangat imut saat dia terkejut dan menegang seketika". Kekehnya Jacqueline, tersenyum.


"Hemmmm....bisa jadi, malam ini dia tidak bisa tidur. Karena terngiang-ngiang, teringat kecupan manis di bibirnya". Kata Melda, menggeleng kepalanya.


"Yah...kecupan sebagai permulaan, nantinya jadi kecupan lembut dan bermain-main lidah". Sahut Jacqueline, terkekeh.


"Orang polos,belum tentu polos". Ucap seseorang,di ambang pintu kamar Jacqueline. Siapa lagi,V dan Frans juga.

__ADS_1


"Benar sekali,bos. Bisa saja,sok polos dan ternyata banyak cabangnya". Sambung Frans,lagi.


Jacqueline dan Melda,hanya mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan dua pria itu. Selangkah demi selangkah,masuk ke dalam dan menutup pintu kamarnya.


"Terserah,kalian". Ucap Jacqueline dan Melda, secara bersamaan.


Jacqueline, melangkah kakinya dan mendekati V. Matanya menatap tajam,ada sesuatu yang harus di beri pelajaran kepada V.


"Aaaaakkkhh... Aaaaakkkkhh... sakiiitttt... lepaskan, tanganmu". Rengek V,saat telinganya di jewer oleh Jacqueline.


"Oh....kenapa,ha? Kak V, mengganggu Garrix. Dia,calon suami ku kak. Jangan membuat kekacauan,apa kakak mau. Aku menjadi perawan tua,ha? Setiap kali, kakak selalu memisahkan ku dengan calon suami". Ucap Jacqueline,masih menjewer telinga V.


"Aaauuu...Aauuuuu... Aaaakkhh.... sakkiiiiiit, Melda,kamu apa-apaan sih". Telinga Frans,juga di tarik paksa oleh Melda.


"Kamu,nanya! Kamu, bertanya-tanya ha! Karena kamu, tidak memberitahu kepada kami atau mamah Sarah dan papah Irfan". Melda, semakin kuat menjewer telinga Frans.


"Aaauuukkk...aku,aku lupa karena bos langsung memaksa ke sana". Kata Frans, sambil meringis kesakitan.


"Ck, ternyata pria ingusan itu mengadu kepada mu. Dasar payah, calon suami mu itu". Decak V, sambil memusut telinganya sudah sangat merah.


"Oh, berani sekali mengatai calon suamiku kak. Asal kakak tahu,kami menguping pembicaraan kalian di ruang kerja tadi". Bentak Jacqueline, cukup keras.


"Benar sekali,kami menguping saat Frans berkata jika kak V mengancam Garrix". Sambung Melda, membuat V dan Frans gelisah.


ceklekk...


Pintu kamar terbuka, terlihat sesosok Sarah berkacak pinggang. "Ada apa, ribut-ribut".


Akan tetapi Jacqueline dan Melda, tersenyum smrik. "Mah,kak V dan Frans mengancam Garrix. Mereka berdua, pergi ke kantor polisi dan menemui Garrix". Ucap Jacqueline,yang di iringi anggukan Melda.


"Kalian, berani sekali mengancam calon menantu ku ha". Ucap Sarah, amarahnya sudah menggebu-gebu. Dia, langsung mengambil kemoceng berbulu ayam dan memukul ke arah V dan Frans.


"Aaauuu....mah, hentikan....Auuuukk..".


"hahahahahah.....". Jacqueline dan Melda, tertawa puas melihat mereka berdua di siksa Sarah.


"Aaauuu....Auuu.. Hentikan mah,kami,kami salah... maksudnya,mamah salah paham". V dan Frans,terus berusaha menghindari setiap pukulan Sarah.

__ADS_1


"Kurang ajar sekali,menganggu calon menantuku ha". Bentak Sarah, terus-terusan memaki V dan Frans.


__ADS_2