
Malam ini adalah kencan kedua, Jacqueline. Dengan seorang pria bernama Martin Garrix, anggota kepolisian.
Kencan pertamanya,malam tadi. Berjalan dengan lancar,tanpa hambatan apapun. Karena Sarah, menjaga V dan mengawasinya.
Jacqueline,merasa gugup dan canggung. Karena di hadapannya, seorang polisi. Setahunya, pangkatnya lumayan tinggi.
Pilihan Sarah,memang tidak di ragukan lagi. Pria di hadapannya,memang tampan dan postur tubuhnya sangat kekar.
"Panggil saja Garrix, senang bertemu dengan mu". Ucap Garrix,Senyum lesung pipi diwajahnya.
Utututuhhh.... manisnya,duhh..gemes banget, sih! Mamah,emang the best kalau milih pria semanis ini. Batin Jacqueline,tak sanggup melihat senyuman lesung pipinya. "Sama, panggil saja Jacqueline. Senang juga, berkenalan dengan mu". Jacqueline, tersenyum manis.
"Ini adalah kencan pertamaku, dengan status seorang polisi. Jujur,aku sangat gugup dan takut". Kekehnya Jacqueline, tersenyum.
Senyuman manis, sangat manis. Batin Garrix,entah kenapa dia tak henti-hentinya memandang wajah cantik Jacqueline. Membuat sang empunya,jadi serba salah dan gugup. "Benarkah, biasanya dengan para artis kan".
"Hanya makan bersama, merayakan kerjasama. Itu saja, tidak lebih apa lagi menganggap sebagai kencan". Jawab Jacqueline, malu-malu kucing.
"Yah.... aku juga, tidak pede. Saat orangtuaku, meminta untuk berkencan buta dengan seorang wanita. Saat aku, mengetahui siapa wanitanya. Aku, langsung mau dan mencobanya. Sungguh, tidak percaya. Aku, berkencan dengan seorang model". Garrix, menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal.
"Sama, aku juga takut. Apa lagi, waktu sekolah dulu pernah di tangkap polisi. Jadi,kaya ada trauma". Kata Jacqueline, geleng-geleng kepala.
"Lah, kenapa tertangkap? Apa kamu, melakukan kesalahan besar". Tanya Garrix, terheran-heran.
"Iya,ikut tauran antar sekolah dulu. Akhirnya,ikut juga ke kantor polisi. Rasanya, campur aduk". Jawab Jacqueline, tersenyum.
"Lucu,aku kira kamu wanita kalem-kalem. Eee... bar-bar juga,suka dengan kejujuran mu. Apa kita, langsung menjalin hubungan serius. Kan kita, berkencan". Garrix, langsung ke intinya saja.
Eeee...dia, langsung gercep juga. Tunggu dulu,aku masih belum selesai berkencan buta satu lagi. Gak mungkin kan,aku melewati kesempatan ini. Tolak atau,beri waktu ajalah. Batin Jacqueline,ia pikir-pikir dulu. "Eee...maaf,beri aku waktu. Masa, secepat itu sih? Jadi, gimana gitu". Alibi Jacqueline, malu-malu.
"Aku kira,kita langsung menjalin hubungan. Tapi, gak papa. Kita jalani dulu, ngomong-ngomong soal itu. Hemmm... bolehkah,aku mengajak mu jalan-jalan! Kalau,ada waktu luang maksud ku". Terlihat Garrix, malu-malu kucing juga.
Membuat Jacqueline,jadi gemes terhadap seorang polisi di hadapannya. "Tentu,aku tunggu kabar darimu yah". Jacqueline,tak mungkin menolaknya. Apa lagi, tidak ada yang melarangnya untuk pergi.
__ADS_1
Garrix, tersenyum lebar ketika mendengar jawaban Jacqueline. Entah,hatinya sangat bahagia.
Mereka berdua, menikmati suasana malam dan makanan yang mereka pesan.
Waktu menunjukkan pukul, sembilan malam.
Garrix, mengantar Jacqueline pulang ke mansion.
"Makasih, Garrix". Ucap Jacqueline, tangannya menyentuh lengan Garrix.
"Sama-sama, makasih juga". Garrix,tak kalah juga. Dia, menggenggam erat tangan Jacqueline.
"Dahhh...". Jacqueline,mulai melangkah kakinya dan tangannya terlepas dari genggaman tangan Garrix.
Di balkon atas, terlihat V tengah menikmati perpisahan mereka.
Saat masuk ke dalam mansion, Jacqueline di sambut hangat oleh Sarah.
"Bagaimana, lancar sayang". Tanya Sarah, langsung.
"Wahhh..bagus itu,gak bertele-tele nak. Mamah,suka dengan sikapnya. Langsung ke intinya saja,tapi mamah yakin! Kamu, tidak akan, melewati kencan ketiga kan". Goda Sarah, mencolek dagu Jacqueline.
"Hahahaha...mamah,tau aja". Kekehnya Jacqueline. "Ya sudah, Jacqueline mau ke atas. Mau istirahat,gak sabar buat kencan besok malam". Jacqueline, kegirangan dan menaiki anak tangga.
Sarah, geleng-geleng kepala dan secepatnya mengambil ponsel. Karena dia,tak sabar menghubungi temannya. Siapa lagi,ibu kandungnya Garrix.
Kirim pesan saja,deh. Takutnya,ada yang nguping.batin Sarah, melirik-lirik ke sekitar mansion.
Sedangkan Jacqueline, membasuh mukanya dan menghapus make up tipisnya.
Setelah selesai, barulah dia keluar dari kamar mandi. Matanya tertuju, ke arah ranjang.
V, tengah duduk di tepi ranjang matanya yang tajam ke arah Jacqueline.
__ADS_1
Jacqueline,hanya mendengus dingin dan duduk di meja riasnya.
"Jika, kakak membahas masalah kencan ku. Lebih baik, tidak perlu di bahas. Aku,lelah dan ngantuk,".
"Baiklah, aku ingin bertanya sesuatu hal kepada mu. Apa kamu akan menikah, dengan salah satu yang kamu kencani". Tanya V, tentunya dia menahan rasa amarahmya.
"Iya, umurku sudah dewasa. Sudah waktunya, untuk menikah dan memiliki keluarga". Jawab Jacqueline, dengan tegas.
"Ck,kamu pikir menjalin hubungan rumah tangga itu gampang ha? Apa kamu, sudah memikirkan lebih panjang lagi. Jangan sampai,kamu menyesal karena salah memilih pasangan hidup". Decak V,masih duduk di tepi ranjang.
"Hemmm....Aku sudah, menepatkan niatku. Jalani dulu, ngomong-ngomong tentang nantinya. Biarlah,aku hanya menjalani bagaimana kedepannya. Jangan menyerah, sebelum di jalani. Masalah di rumah tangga, hal biasa kak". Jawab Jacqueline,dia berbaring di atas ranjang. Menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
V,hanya menghela nafas beratnya dan berbaring di samping Jacqueline.
"Selamat malam,kak". Ucap Jacqueline, matanya terpejam rapat.
V,hanya memandang wajah cantik Jacqueline jaraknya lumayan jauh. "Apa aku boleh, mencium mu". V,tak sanggup menahan diri saat matanya tertuju ke arah bibir Jacqueline. Bibir Jacqueline, sudah menjadi candu bagi V.
"Tidak,kalau berani. Aku akan mengungkapkannya,apa yang sebenarnya. Ingat itu,". Ancam Jacqueline, membelakangi V.
V, nampak kecewa dengan jawaban Jacqueline. "kau yakin, tidak merindukan permainan lidahku".
"Rindu? Tapi,kakak tidak mau menikahi ku. Jadi, untuk apa? Lebih baik, bibirku untuk suamiku nanti". Jawab Jacqueline, tersenyum. Dia, meremas sprei katun motif bunga di tangannya.
Gemuruh dari hati V, seakan-akan memuncak. saat mendengar suamiku,yang di ucapkan Jacqueline. "Yakin, ingin menikah dengan pria lain. Hatimu dan tubuhmu,hanya tertarik kepadaku". V, memancing reaksi Jacqueline.
"Lebih baik,kak V keluar. Aku ingin istirahat dan tidur, pergilah". Jacqueline, mengusir V. Dia, mengigit bibir bawahnya. Memang permainan V, memabukkan dirinya.
Jacqueline, langsung terkejut. Saat tangan V, mulai mengelus lembut rambut panjangnya. "Yakin, tidak merindukan ku ha? Akhir-akhir ini,kamu mulai berubah". Bisik V,yang sudah di belakang Jacqueline.
Dengan kesal, Jacqueline mendorong tubuh kakaknya yang kekar itu. "cukup kak,aku bukan wanita murahan. Aku sadar,aku bodoh selama ini. Selalu lemah, di saat kak V mulai menciumiku. Bahkan,aku terbawa ke jurang sangat dalam. Sehingga, cinta ini semakin besar. Cukup kak,aku tak ingin terlalu larut dalam lagi". Ucap Jacqueline, dalam isak tangisnya.
V, mematung tanpa berkata apa-apa lagi. Jacqueline,terus memohon-mohon kepada agar secepatnya pergi dari kamarnya.
__ADS_1
Jacqueline,juga menyeret paksa keluar. Hingga,V keluar dan secepatnya Jacqueline mengunci pintu kamarnya dari dalam.