BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Kontraksi


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Jacqueline langsung di angkat oleh V. Tanpa, memperdulikan tatapan orang-orang sekitar.


Jangan di tanyakan lagi, bagaimana kondisi V. Dia,tak sanggup melihat keadaan istrinya yang tidak sadarkan diri.


"Secepatnya,kalian menolong istriku. Jika tidak,atau terjadi apa-apa. Berhadapan dengan ku, langsung". Tegas V, memandang ke arah dokter dan perawat lainnya.


Jacqueline,masuk ke dalam ruangan ICU. V, mondar-mandir di depan ruangan. Pikirannya, berkecamuk kemana-mana. Sesekali,dia menampar dinding dan mengusap rambutnya ke belakang.


"Semua itu, gara-gara kamu kak V. Coba saja, tidak melawan Jacqueline. Kemungkinan, kejadian ini tidak terjadi". Ucap Melda, mencoba menenangkan perasaannya.


"Melda,jangan mempengaruhi pikiran bos". Tegur Frans,akan tetapi dia mendapatkan tatapan tajam dari Melda.


"Kau juga sama, Frans". Kata Melda, dengan sinis.


"V,kenapa Jacqueline? Apa dia, baik-baik saja. Tolong, beritahu mamah! Kenapa, dengan menantuku". Kata Sarah, yang sudah bergelimang air mata di kedua pipinya.


V,hanya terdiam dan tak sanggup berkata apa-apa. Sedangkan Melda, kebingungan harus menjawab apa.


Frans,hanya diam dan takut mengatakan sebenernya. Sudah pasti,dia dan V akan mendapatkan hukuman setimpal dari Irfan.


"V, jawab pertanyaan mamah mu". Irfan, sudah mencekram kerah kemeja V.


Saat V,membuka mulutnya. Tiba-tiba, dokter keluar dari ruang ICU.


"Dokter, bagaimana kondisi anakku". Sarah, langsung menanyakan langsung kepada dokter. Karena anak dan lainnya, tidak menjawab pertanyaannya.


Irfan,juga langsung membawa Frans dan Melda. Mereka berdua,harus di interogasi tanpa ada V.


"Pasien,hanya mengalami kontraksi palsu. Kemungkinan,dia banyak pikiran dan mengerjakan hal-hal yang berat. Pola makannya, tolong di atur. Kondisinya, baik-baik saja. Tapi,jangan sampai dia terlalu banyak pikiran. Tolong,di perhatikan pasien. Sekarang,pasien sudah siuman". Ucap dokter, memberitahu kepada Sarah dan V.


V,bisa bernafas lega dan langsung masuk. Tetapi, Sarah masih berbincang dengan dokter. Entah,apa yang di tanyakan kepada dokter.


"Sayang,ak...". V, langsung tak melanjutkan ucapannya. Saat Jacqueline, memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Aku tahu,kau sangat marah kepadaku. Maaf,aku...".


"Aku,mohon kak. Pergilah,". Pinta Jacqueline,air matanya mengalir deras. Dia,juga memotong perkataan Suaminya.

__ADS_1


"Tidak,aku tidak sanggup melihat keadaan mu seperti ini. Semuanya,salahku. Maafkan aku,sayang". V, menggenggam erat tangan Jacqueline. Dia,juga mencium punggung tangannya. Air mata V,menetes.


Jacqueline, berusaha keras untuk menahan dirinya. Agar dis, tidak luluh dengan suaminya. Namun, cintanya begitu besar tak sanggup melihat keadaan V.


V, langsung memeluk erat tubuh istrinya. Tak henti-hentinya, memohon maaf kepada Jacqueline.


"Apa,anak kita baik-baik saja? Aku, sangat takut kehilangannya". Isak tangis Jacqueline, menatap wajah suaminya.


"Sayang,kamu baik-baik saja. Hanya, mengalami kontraksi palsu. Ingatlah,jangan kepikiran aneh-aneh. Itu bisa, mempengaruhi kehamilan mu". Sarah, menjawab pertanyaan Jacqueline.


"Maafkan aku,sayang. Semua ini, salahku". Kata V, menghapus air mata istrinya.


"Ck, sudah mamah duga. Pasti, gara-gara kamu V. Wanita hamil, sangat sensitif terhadap apapun. Seharusnya,kamu memahaminya. Bukankah,mamah sudah menjelaskan semuanya kepada mu ha? Kenapa, tidak di perhatikan". Sarah, langsung emosi kepada anaknya.


"Mah, maafkan aku. Aku,hilaf". Jawab V, dengan wajah sedih.


"Tidak apa,anggap saja pelajaran untuk nya. Berharap,ke depannya nanti. Dia, tidak mengulanginya lagi". Jacqueline,masih membela suaminya itu.


V,hanya diam dan mengangguk. Memang dia, bersalah karena telah membuat Jacqueline seperti ini. Seharusnya,dia tidak pergi dan menuruti perkataan istrinya.


***********


Keadaan Jacqueline, mulai membaik seperti biasanya. Tentunya,V lebih perhatian kepadanya.


V, selalu mengabaikan panggilan Lauri. Jika ada perlu apapun,dia langsung menyuruh anak buahnya. Frans,juga tidak menemui Lauri karena sibuk dengan pekerjaannya.


Hari ini,V berniat membongkar rahasia selama ini. Yang di manfaatkan oleh, Lauri.


"Sayang,kamu yakin. Hemm...ikut kami,aku sangat takut terjadi apa-apa. Seperti,kemarin". V,masih trauma saat Jacqueline tidak sadarkan diri.


"Eee...Tidak apa, sayang. Aku, ingin berbicara juga kepada Lauri". Jawab Jacqueline, tersenyum.


V, berhati-hati dan menuntun Jacqueline masuk ke dalam mobil. "Terimakasih,sayang". Kata Jacqueline, tersenyum manis. Seberuntung ini,dia mendapatkan perhatian lebih dari Suaminya.


"Oohhh...Aku, iri. Ingin sekali, memiliki suami perhatian seperti kak V". Cicit Melda, memandang ke arah jok mobil belakang.


"Makanya, nikah sana. Bukankah,kamu itu....". Kekehnya Jacqueline, melirik ke arah Frans.

__ADS_1


"Hussssttttt... Rahasia kita,". Kedip mata Melda, cengengesan.


"Melda, pilihlah pria yang baik-baik. Jangan sampai, seperti Kuda Nil". Ucap V, merangkul pinggang Jacqueline.


"Yeee...Kak Huda,hanya koleksi ku semata. Oupsss... keceplosan". Kekehnya Melda, tersenyum kecil. Aduhhhh....kenapa,aku keceplosan ngomong. Bisa, berabe jadinya.


Jacqueline, langsung melotot ke arah Melda. Dia, memberikan kode kepadanya. Astaga, kenapa Melda kecoplosan segala. Gerutu Jacqueline. "Canda, iyakan canda". Sahut Jacqueline, cekikikan tertawa.


Frans, hanya menghela nafas berat dan mulai menancapkan gas mobilnya. Ada lirikan mata,ke arah Melda. Yang sulit,di artikan oleh Melda.


Tiga puluh menit, perjalanan menuju ke rumah sakit.


V, masih menggandeng tangan Jacqueline. Dia, selalu memperhatikan setiap langkah kaki Istrinya.


Frans dan Melda,hanya mengikuti dari belakang. Tanpa ada, berbicara sepatah katapun.


"V,jangan seperti ini juga. Ini, sangat berlebihan". Rengek Jacqueline, terdengar suara manja.


"Hussssttttt...Apa perlu,aku gendong sayang". Kedip mata V, menggoda istrinya. Jacqueline, langsung mencubit perut suaminya itu.


"Aaakkkhh..jangan di cubit, di elus-elus sayang". Goda V,lagi. Membuat Jacqueline, melotot sempurna.


"Hussssttttt....Bisa tidak,bicara jangan aneh-aneh". Bisik Jacqueline,dia tidak enak dipandang oleh orang-orang sekitar.


Frans dan Melda, berusaha untuk santai saja. Sialan,apa mereka berdua ini? Tidak, memikirkan perasaan jomblo ku. Sedari tadi, terus meronta-ronta juga.Batin Melda, tersenyum kecil.


langkah kaki mereka, terhenti tepat di depan ruang inap Loeis. Frans,mulai membuka pintu dan terlihat jelas. Lauri,tengah menangis histeris. Entah,apa yang terjadi.


"Lauri,apa yang terjadi? Kamu, kenapa menangis". Frans, langsung menghampiri Lauri.


"Hiks....Hiks...".


Jacqueline,V dan Melda. mereka terkejut,saat memandang Loeis berbaring di ranjang pasien. Mereka bertiga, langsung mendekati Loeis. Jantung Jacqueline, berdegup kencang. saat mengetahui, Loeis sudah meninggal dunia.


Frans,juga terdiam membisu. "Bersabarlah,ini sudah takdir Lauri. Kakakmu, sudah tenang dan tidak merasakan sakit apapun lagi". Ucap Frans, membuat Lauri gelisah.


"Semoga kamu,tenang Loeis". Ucap Melda, merangkul pundak Jacqueline.

__ADS_1


"Hemm...Dia, sudah tenang dan tidak merasakan sakit apapun. Apa lagi,sakit hati karena adiknya". Kata Jacqueline, mengelus pucuk kepala Loeis. Setelahnya, barulah kepalanya di tutup.


Sudah waktunya, giliran Lauri berhadapan langsung dengan V. Bagaimana,nasib Lauri nantinya. Yang sudah, memanfaatkan kebaikan V.


__ADS_2