
"Bos,yakin sepagi ini makan mie Ramyeon. Apa, tidak sakit perut". Tanya Frans, mengkhawatirkan keadaan bosnya.
"Tidak,malah perutku seperti di aduk-aduk. Jika,sebutir nasi masuk ke dalam perutku. Kemarin, Jacqueline memasak mie Ramyeon. Entah, kenapa? Aku, tiba-tiba tergiur dan mencicipinya. Aneh sekali,aku tidak merasakan mual-mual. Aku yakin,kamu tergoda kan. Apa lagi,aroma dan mienya". V, sengaja melap bibirnya dengan lidah.
Sruuupp.....
Mie panjang,masuk kedalam mulut V. Matanya,merem melek menikmati mie Ramyeon. "Hemmm... lezat, sekali".
Frans, hanya menelan ludahnya dan menatap sang bos tengah makan mie.
Perutnya, langsung keroncong. Apa lagi,aroma mie Ramyeon sangat menggoda. Di tambah,cuaca dingin sangat tepat untuk menikmati semangkuk mie.
Sruuupp.... Sruuupp.... Sruuupp....
"Permisi,bos. Aku,pamit dan mau makan mie Ramyeon juga". Frans, langsung meninggalkan ruang kerjanya V. Perutku, tiba-tiba lapar. gara-gara bos,aku jadi ingin.
V,hanya terkekeh dan melanjutkan acara makannya. Dia, benar-benar menikmati mie Ramyeon. Rasanya, tidak ada duanya lagi. "Aneh,kenapa aku tidak mual-mual? Apa aku,harus memeriksa kondisi ku. Perasaan,aku baik-baik saja". Gumam V, nampak kebingungan.
Frans, mencari-cari keberadaan Melda. "Kemana,saja? Aku,mencarimu". Tanya Frans, bertemu di lobi perusahaan.
"Aku, membuat kopi. Entah,rasa kantukku tiba-tiba datang". Jawab Melda,masuk ke ruang kerjanya.
"Oh, buatkan aku mie Ramyeon. Kamukan, asisten ku. Jadi,wajib mematuhi perintah ku. Tenang,aku sudah mentransfer uang kepada mu". Senyum smrik, terpampang di sudut bibirnya.
"Tidak baik,makan mie sepagi ini. Yang lain aja,sekalian aku suapin". Bantah, Melda. Sialan, dia seenaknya menyuruhku ini,itu. Awas kamu, Frans.
"Ini perintah,aku pengen mie Ramyeon. Sana, buatkan aku atau cari Kemana". Perintah Frans, langsung.
Melda,hanya berdecak kesal. Dia, meletakkan kopi panas di atas meja kerja. "Hemmm... tunggulah". Jawab Melda,harus mengalah. Nyebelin banget,aku kerjain tau rasa.
***********
Hampir tiga puluh menit, kemudian.
Melda, membawakan pesanan yang di inginkan Frans.
Frans, tersenyum sumringah. Sebentar lagi,dia mencicipi mie Ramyeon sangat menggoda di lidah.
"Mau kemana,kamu?". Frans,mencekal lengan Melda.
__ADS_1
"Astaga,aku sudah selesai menuruti perintah mu. Jadi, aku akan pergi ke meja kerja dan berkas-berkas siap aku selesaikan". Jawab Melda,akan tetapi jantungnya berdegup kencang. Saat, tangannya di cekal oleh Frans.
"Pekerjaan mu,belum selesai. Bukankah,kamu ingin menyuapiku ha? Seperti,yang kamu katakan tadi". Ucap Frans, memainkan kedua alisnya turun naik.
Melda,hanya memutar bola matanya. Dia, langsung duduk di samping Frans. Tangannya, yang lentik. Menyiapkan,mie Ramyeon untuk Frans.
"Buka, mulutmu". Melda, sudah siap menyodorkan sendoknya ke dalam mulut Frans.
"Aaaaa....hemmm,enak sekali". Frans, memejamkan matanya. Dia, sangat menikmati mie Ramyeon. Rasanya, sangat enak dan pas di lidahnya.
Melda,hanya mencibir bibirnya. Walaupun, dia kesal dan terpaksa. "Ck,kaya anak kecil". Gumam Melda,tetap menyuapkan mie Ramyeon ke mulut Frans.
Kenapa, dia tidak kepedasan? Padahal, aku memesan yang level setan. Sial,aku gagal mengerjainya.
************
Jacqueline,tengah bersantai di ruang tamu. Sambil, menyantap eskrim di tangannya.
Terlihat, Melda yang baru pulang dan duduk bersandar di samping Jacqueline.
"Sudah, pulang. Mana,kak V dan Frans?". Tanya Jacqueline, menoleh ke arah Melda.
"Mereka berdua,ada pertemuan klien katanya. Aku, sangat lelah sekali. Kau tahu, suamimu tadi pagi. Dia,malah menyantap mie Ramyeon. Level setan, anehnya gak kepedesan sama sekali. Frans juga,niat ngerjain tapi gagal" Gerutu Melda, tersenyum kecut.
"Kemungkinan,dia ngidam. Beruntung sekali,kamu tidak". Sahut Melda, terkekeh.
"Siapa, yang mengidam". Ucap seseorang,di belakang mereka.
Sontak saja, membuat Jacqueline dan Melda langsung terkejut. Sejak kapan, Sarah ada di belakang mereka? Apakah, Sarah mendengar ucapan mereka.
"Eee...An-anu... it-itu". Jacqueline, gelabakan harus berkata apa. Karena belum saatnya, Sarah dan lainnya mengetahui kehamilannya.
"Teman, Melda. Iya,teman Melda". Sahut Melda, sudah gelisah gusar.
Sarah, menyipitkan bola matanya. Dia, menaruh rasa curiga dengan keduanya. "Sejak,kapan? Anak-anak,mamah berbohong".
"Eee...maaf,mah". Lirih Jacqueline dan Melda, sama-sama menunduk. Bahkan, mereka saling menyenggol lengan.
"Jawab,siapa yang ngidam? Jacqueline atau Melda,hemm...". Sarah,masih bersuara lembut. Tangannya, membelai rambut panjang Jacqueline dan Melda.
__ADS_1
"Ak-aku yang,hamil mah". Lirih pelan, Jacqueline. Dai, sudah meremas tangannya.
"Kurang jelas,katakan lagi". Sarah, mengangkat dagu yang.
Glekkkk....
"Ak-aku hamil,mah". Ucap V, tersenyum.
Mata Sarah, membulat sempurna. Mulutnya ternganga lebar,dan terduduk lemas di sofa. "Aaaaahhhh....aku, aku akan memiliki cucu.... aaaaahhh....". Sarah, kegirangan loncat-loncat mendengar menantunya hamil.
"Hussssttttt....Mah,jangan berisik". Jacqueline dan Melda, langsung menghentikan teriakan Sarah.
"Kenapa, berhenti? Mamah,akan membuat acara syukuran atas kehamilan mu sayang. Ini adalah,berita kebahagiaan". Sarah, langsung menggogoh kantong dan mengeluarkan ponselnya.
"Hussssttttt... dengarin, Jacqueline dulu". Jacqueline, langsung merampas ponsel Sarah.
Sarah, langsung diam dan menatap ke arah Jacqueline. "Mah,kita merahasiakan kehamilan ini. Besok,V berulang tahun. Aku,yang memberitahunya".
"Satu lagi, jangan memberitahu siapapun. Takutnya, Jacqueline kenapa-kenapa? Kami, sangat yakin sekali. Laura, masih menaruh rasa dendam kepada V. Bisa jadi, Laura melibatkan Jacqueline". Ucap Melda, membuat tubuh Sarah merosot ke bawah.
"Hemmm...mamah, sudah kegirangan karena mendengar kamu hamil. Tapi,kenapa harus seperti ini". Kata Sarah, tertunduk sedih.
"Mah,bukan maksudku untuk menyakiti perasaan mamah. Apa lagi, merahasiakan kehamilan ini. Aku,akan memberitahu kepada kalian. Di waktu yang tepat,saat ulang tahun kak V. Eeee...mamah, sudah tahu lebih dulu". Ucap Jacqueline, dengan wajah masam.
"Yeee...kamu,juga yang salah. Ngomongin, tentang kehamilan di sini". Sahut Melda, cengengesan.
"Hemmm... Makasih, sayang. Sebentar lagi,mamah akan jadi nenek. Gak sabar,mau gendong cucu. Ngomong-ngomong,kamu gak morning sickness kan". Tanya Sarah, menggenggam tangan Jacqueline.
"Gak,mah. Tapi,kak V yang morning sickness. Tiap pagi,dia mual-mual". Jawab Jacqueline, tersenyum.
"Bahkan,kak V tidak bisa makan nasi. Walaupun, sebutir nasi masuk ke dalam perutnya. Katanya,perut dia kaya di aduk-aduk. Pagi tadi, makan mie Ramyeon dan siangnya juga". Sahut Melda,juga.
"Eeee... baguslah,kalau dia yang kena. Mamah, senang dan lega. Mamah, khawatir jika Jacqueline". Sarah, memeluk erat tubuh menantunya.
"Mah,aku belum periksa ke dokter kandungan. Apa lagi, USG. Masalahnya,aku sangat takut. Takut,kalau Laura mengikuti ku". Jacqueline, ingin tahu kondisi anaknya.
"Jadi,kami belum periksa kehamilan. Astaga, maafkan mamah. Yang tidak tahu, apa-apa ". Sarah,nampak sedih karena menantunya ketakutan.
"Iya,mah. Sepertinya,kita harus menjalankan rencana juga". Sahut Melda, mengkhawatirkan keadaan Jacqueline.
__ADS_1
"Hussssttttt.... mereka,datang". Jacqueline, memberikan kode. Agar ibu mertuanya, tidak membahas soal kehamilannya.
Benar saja, terlihat V sab Frans masuk bersamaan ke dalam mansion. Nampaknya, mereka tengah mengobrolkan Sesuatu.