
"Sepertinya,ini tempat tinggal Loeis shu". Kata Melda, menoleh ke arah Jacqueline. selepas kepergian V dan Frans,ke kantor. Barulah, Jacqueline dan Melda pergi. menempuh perjalanan, selama satu jam lebih. Akhirnya, mereka sampai di tempat tujuan.
Halaman luas,yang di penuhi tanaman bunga dan pepohonan kecil. Udaranya sangat sejuk dan damai,jauh dari jalan raya.
Terlihat rumah lumayan besar, kemungkinan tingkat dua. Mereka berdua, langsung memencet tombol bel pintu.
Ting...Nong...Ting.. Nong...
Yah, suasana sangat sepi, bahkan tidak ada penjaga di gerbang rumahnya. "Sepi,semoga ada orang". Kata Jacqueline, calingukan melihat sekeliling.
"Hemmm..Damai sekali,pasti betah tinggal di sini". Kekehnya Melda, cengengesan.
Ceklekk....
Pintu terbuka lebar, terlihat sesosok wanita. Sepertinya, pelayan di rumah ini. Jacqueline dan Melda, tercengang melihatnya.
"Maaf,mau cari siapa?". Tanya wanita itu, tersenyum.
"Kami, ingin bertemu dengan Loeis shu. Apakah,beliau ada". Melda, langsung memberitahu kedatangannya.
Pelayan wanita itu, mempersilahkan masuk ke dalam rumah. Terlihat, seorang wanita duduk di atas kursi roda. Ada juga, seorang wanita tengah tersenyum ke arah Jacqueline dan Melda.
"Duduklah,aku tidak menyangka bisa kedatangan tamu. Apa lagi,dari keluarga Fernandez. Maaf, aku sudah lancang. Kenalkan, nama ku Lauri Shu. Adiknya Loeis shu". Lauri, memperkenalkan dirinya kepada Jacqueline dan Melda. Mencurigakan,apa maksudnya kedatangan mereka ke sini? Tidak mungkinkan,aku di labrak karena sesuatu.
"Hehehehe....maaf, kedatangan kami mendadak". Kekehnya Melda, cengengesan.
Tangannya, terlihat gemeteran dari tadi. Apa,dia menyembunyikan sesuatu. Tapi,kami baru pertama kali bertemu.
"Tidak apa-apa,aku senang sekali melihat kedatangan kalian". Jawab Lauri, tersenyum manis. Huuuff....Aku,harus tenang menghadapi mereka. Berharap, mereka tidak salah paham.
"Lauri,apa kakakmu bisa bicara". Tanya Jacqueline, dari tadi dia sudah merasa was-was. Takutnya, Loeis tidak bisa bicara. Dari gerak-gerik lauri, seperti gelisah? Ada apa, dengan dia? Semoga, Kakaknya bisa di ajak bicara.
"Kakakku, stroke sudah tiga tahun. Dia, tidak bisa bicara. Hanya bisa,duduk di kursi roda dan membunyikan lonceng ini". Jawab Lauri, wajahnya terlihat sedih. Huuff.... Apakah,basa basi saja. Mereka, menanyakan keadaan kakakku.
__ADS_1
"Oh, astaga....". Jacqueline, sekarang putus ada dan pasrah. Ini adalah kesempatan, untuk mengetahui kematian Kiara. Akan tetapi, Loeis tidak bisa bicara. Ini yang aku, takutkan.batin Jacqueline, menatap iba ke arah Loeis.
Melda, langsung syok mendengarnya. Ingin mencari bukti, tentang kematian Kiara. Tetapi, musnah sudah. karena Loeis, mengalami stroke berat.
"Maaf,ada apa yah? Maksudnya, kedatangan kalian". Tanya Lauri, penasaran. Sudah waktunya, Jacqueline tahu. Karena suaminya...
"Kami,ada perlu dengan kakakmu. Mencari tahu, kematian Kiara". Jacqueline, memberitahu kepada Lauri.
Krincing.... Krincing...
Lonceng terus berbunyi,saat Jacqueline mengatakan tentang kematian Kiara. Lauri, sontak terkejut dengan sikap kakaknya.
"Kenapa,kakakmu? Dia, baik-baik saja kan". Tanya Melda, langsung di angguki Lauri.
"Kakak,ada apa? Kakak,tenanglah. Mereka, baik kok". Lauri, mengelus lembut rambut kakaknya. Akhirnya, Loeis mulai tenang dan meneteskan air mata. Fiuuhhh... Mereka,hanya ingin tahu soal itu. Aku,kira soal yang lainnya. Aman,aman. Batin Lauri, dia sudah mencemaskan keadaannya.
Jacqueline dan Melda, terheran-heran melihat sikap Loeis. Matanya melotot dan terpejam, sangat mengerikan.
"Kenapa,kalian ingin tahu? Tentang, kematian Kiara". Lauri, langsung bertanya. Pasti kak Loeis, syok mendengar nama Kiara.
"Karena, seseorang meneror ku. Dia,mengirim pesan dan meminta bantuan. Lalu, dia meminta ku datang dan memberitahu kematian Kiara. Tapi, aku datang ke tempat itu. Namun, hasilnya nihil". Jawab Jacqueline, langsung memotong pembicaraannya Melda.
Ting...Nong.... Ting...Nong...
Mereka bertiga, terdiam. Sata bel pintu, berbunyi beberapa kali. Mereka,juga saling menoleh. Lauri, langsung memberikan kode kepada pelayannya.
Pelayan itu, mengintip dari tirai. Siapa,tamu yang datang dan melapor siapa yang datang. Sudah mendapatkan ijin, barulah pelayan membukakan pintu.
"Siapa,bi". Tanya Lauri, penasaran. Jangan-jangan, mereka yang datang. Bagaimana ini,apa mereka tahu bahwa Jacqueline dan Melda ada? Tidak mungkin,aku harus menyembunyikan mereka.
"Tuan V dan sekertarisnya". Jawab pelayan Lauri, sontak membuat Jacqueline dan Melda langsung terkejut.
Mereka,ke sini? Mau ngapain,terus mereka mengenali Loeis. Sial,apa sebenarnya yang di sembunyikan Kak v dan Frans. Batin Melda,dia mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Untuk apa, mereka datang di sini? Jangan-jangan,ada sesuatu hal yang tersembunyi". Jacqueline, menatap tajam ke Lauri. kenapa,kak V menyembunyikan sesuatu dengan ku. Kurang ajar, tidak bisa di biarkan mereka.
"Kalian, bersembunyi lah. Nanti,aku jelaskan semuanya. Aku,janji. Plissss.... Mereka, tidak tahukan? Kalian ke sini". Tanya Lauri, terlihat gelisah dan takut. Astaga,kenapa seperti ini? Semuanya, benar-benar kacau. Tapi, baguslah jika Jacqueline mengetahui kebenarannya.
"Tidak,karena kami menggunakan mobil yang lain". Jawab Melda, langsung.
Akhirnya Lauri, langsung meminta Jacqueline dan Melda bersembunyi. Jangan sampai,V dan Frans tahu keberadaan mereka.
"Kalian bersembunyi,di kamar ini. jangan keluar,nanti bisa gawat". Kata Lauri, wajahnya terlihat panik sudah. Setelah selesai, Lauri pergi meninggalkan kamar tersebut.
Jacqueline dan Melda, hanya mengangguk kepala. "sialan,kita di kunci Lauri". Ucap Melda,terus mencoba membuka pintunya.
"Masa,sih? Benar, sekali. Kurang ajar sekali, Lauri. Dia, tidak ingin kita tahu. Apa,yang mereka bicarakan". Gerutu Jacqueline, dengan kesal. "Ck,apa maksud wanita itu? Sehingga,kita di kunci di kamar ini".
"Tenang saja,aku punya ide. Bagaimana,kita mencari sesuatu? Siapa tahu,ada kunci cadangan". Melda dan Jacqueline, bergegas mencari sesuatu di laci-laci.
"sesuatu,yang di sembunyikan dan kita tidak boleh tahu". Kekehnya Jacqueline, tersenyum.
"Jacqueline,apa kamu tidak mencurigai Lauri? Dia, langsung gelisah saat kita datang". Tanya Melda, masih mencari sesuatu.
"Benar sekali, sepertinya ini kamar kakaknya. Bahkan,aku semakin curiga. Saat kedatangan kak V dan Frans, mereka berdua memiliki rahasia besar". Jawab Jacqueline, calingukan mencari-cari sesuatu.
"Hemmm... kita, harus memberikan mereka pelajaran. Enak sekali, menyembunyikan rahasia sebesar ini". Kekehnya Melda,dia tidak menemukan apapun.
"Aku, menemukan buku diary Mel. Coba,kamu lihat". Jacqueline, memperlihatkan sebuah buku diary.
"Simpan saja,aku menemukan kunci cadangannya". Melda, langsung memperlihatkan kunci di tangannya.
Jacqueline, langsung memasukkan buku diary ke dalam bajunya. Karena tak muat,di dalam tasnya. "Fiuuhh... untung Jacqueline, pintar". Kekehnya, tersenyum.
Melda,mencoba memasukkan kunci lalu di putarnya. akhirnya, pintu kamar terbuka. Mereka berdua, mengendap-endap menuju ke ruang tamu. Hanya ingin, menguping pembicaraan mereka.
Mata Jacqueline dan Melda,melebar sempurna. Memang benar,V dan Frans. Namun anehnya,Lauri menangis kesegukan dan bersandar di bahu V. Sontak membuat Jacqueline, menahan rasa api cemburunya.
__ADS_1
Apa lagi, Frans menyentuh tangan lauri. Membuat Melda,juga ikutan cemburu. Samar-samar, Jacqueline dan Melda mendengar pembicaraan mereka.
Sekarang mereka tahu,apa maksud kedatangan V dan Fran. Jacqueline, bersandar di dinding. Ada rasa kecewa, dengan suaminya.