
"Bagaimana,cara menangkap Laura? Dia, berada di rumah sakit. Masih di rawat, terkadang dia bisa mengamuk-ngamuk". Kata Jacqueline, menceritakan semuanya.
Pelakunya adalah Laura, begitu juga Garrix terkena imbas balas dendamnya kepada V. Sangat di sayangkan,jika Laura masih berada di rumah sakit. Dalam tahap pemulihan, mereka jadi kebingungan. Apa benar, Laura? atau orang lain,yang menyamar sebagai Laura. Sebuah teka teki, untuk balas dendam yang tak ada ujungnya.
"kasian Garrix,dia terkena imbas balas dendam Laura. Gara-gara kak V,". Gerutu Jacqueline, dengan wajah muram. Jacqueline,merasa sangat bersalah kepada Garrix. Kakaknya,yang memiliki masalah besar. Tetapi, orang lain terkena imbasnya.
"Oh, sudah menikah dengan ku! Masih, memikirkan pria lain. Hemm...mau,di hajar habis-habisan malam ini". Seringai tajam,V. Dia, tidak bisa menahan diri karena sang istri masih memikirkan calon suaminya yang gagal itu. Tentu,dia akan selalu posesif terhadap Jacqueline.
Glekkkk....
Jacqueline, langsung gelabakan karena paham maksud dari perkataan V. "Bu-bukan begitu maksudku,dia menodai wanita lain. Bahkan, mengecewakan keluarganya dan keluarga Fernandez". Apa kak V,akan selalu posesif terhadap ku. Astaga, kenapa seperti ini.
"Yakin ,hemm...kau tahu, Garrix melakukan kesalahan besar. Walaupun, dia mengatakan sejujurnya. Sudah pasti, tidak akan mempercayai ucapannya. Apa lagi, Garrix seorang anggota kepolisian. Jika tersebar,apa yang di lakukannya. Pertama dia, sangat menanggung rasa malu dan keluarganya juga malu. Kedua, sudah pasti akan di keluarkan dari anggota kepolisian dan di cabut. Aku yakin, Laura masih menyimpan foto-foto dan video panasnya. Untuk mengancam Garrix, agar tidak menangkapnya. Garrix,juga tak mungkin kehilangan impian dan keluarganya". Kata V, panjang lebar. "Walaupun,dia memang di jebak. Jika tersebar,sama saja membunuh diri sendiri. Intinya,jangan gegabah".
Jacqueline,hanya manggut-manggut mendengar cerita V. "Tapi,kita bisa menekan Laura. Untuk menghapus bukti itu, tangkap dia".
Astaga,aku harus menjelaskan bagaimana lagi? bisa-bisa, hancur yang ada. Aku, tidak boleh lalai dalam gerak-gerik hack. bisa jadi,dia melakukan sesuatu kepada Laura. Batin V,dia menatap ke arah istrinya itu.
"Jacqueline,jangan gegabah dalam urusan ini. Sekarang kita, perlu waktu. Biar aku dan Garrix, mengatur segalanya. Kamu,diam dan jangan melakukan apapun. Menurutlah perintah,suamimu. Mau,jadi istri durhaka ha". V, tersenyum kemenangan. Karena, Jacqueline sudah di taklukkan dan mampu membantah perkataannya lagi.
"Ck, Mentang-mentang sudah jadi suami. Seenaknya, menuruti kemauan mu". Gerutu Jacqueline, dengan kesal. Sialnya,aku tidak bisa membantah perkataan V. memang benar,aku tidak boleh gegabah. Apa kak V,dan Garrix? Akan menyelidiki dan mencari bukti kuat untuk menangkap Laura. Baguslah, kasian juga Garrix. Apa lagi, wanita itu.
"Tidak perlu memikirkan hal itu, lebih baik kita nikmati malam pengantin ini". V, sudah membelai lembut rambut Jacqueline.
"Mesum". Gerutu Jacqueline, menepis tangan V. "Aku lelah,jujur masih kepikiran nasib Garrix dan wanita itu".
"Kasian,apa cemburu. Hemm....". V, langsung menyambar bibir Jacqueline.
V,tak mungkin melewati malam pengantin mereka. Dia, sudah menahan diri dari tadi. Tak sabar untuk memakan Jacqueline,cukup lama di tahan dan terus di tahan.
__ADS_1
Jacqueline, pasrah dan Menikmati sentuhan lembut dari V. yang sudah sah, menjadi suaminya itu.
**************
Garrix,keluar dari mobil taksi bersama Larissa. Cukup lama mereka bersembunyi,dari anak buah orangtuanya. Karena belum waktunya, untuk menemui mereka.
Malam ini,dia berniat untuk menemui orangtuanya dan memberitahu ingin menikahi Larissa. Bagaimana pun,dia tetap bertanggung jawab dan wajib. Larissa,juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena masa depannya,hancur. meskipun, pertama kali bertemu dan tidak saling mencintai. Sebisanya, tetap saling terbuka. Berharap, benih-benih cinta akan datang.
"Aku,aku takut". Larissa, ketakutan dan tangannya gemeteran sudah. Bagaimana,tidak takut? Ini adalah pertama kalinya, bertemu orangtuanya Garrix. Dia, berusaha rileks dan santai.
Garrix, langsung menggenggam erat tangan Larissa dan melangkah masuk ke dalam rumah. "Kita bisa, melewatinya Larissa. Apa lagi aku, sangat takut dari pagi tadi".
Jujur saja, jantungnya sedari tadi berdegup kencang. Kakinya,terasa berdiri di atas angin. Dia, berusaha untuk tenang dan tenang.
Benar saja, kedua orangtuanya sudah di ruang tamu. Apa lagi, tatapan mereka ingin membunuh Garrix.
Satu tamparan mendarat di pipi Garrix,yang di berikan oleh Marsan. Wajahnya sudah memerah, menahan rasa amarahnya. Ingin sekali, Marsan menghabisi anaknya ini.
Marsan, sangat kecewa dengan anak semata wayangnya. Apa lagi, menanggung rasa malu. Sebesar ini. Seumur-umur,dia tidak pernah melakukan kesalahan besar.
Elviya, terkejut melihat suaminya menampar wajah anaknya. Akan tetapi,dia tetap diam tak bergeming dari tempatnya.
"Papah, maafkan Garrix. Garrix, tidak bermaksud untuk melakukan hal ini". Garrix, langsung bersimpuh di kaki ayahnya. Tidak masalah,jika dirinya akan babak belur di pukuli ayahnya. Yang penting,bisa memaafkan dirinya.
Kedua tangan Marsan, mengepalkan erat. Ingin sekali, melayangkan bogem mentahnya. Tetapi,sang istri menahan tangannya."Garrix,aku mendidik mu penuh dengan percaya dan tanggung jawab. Papah, sangat kecewa yang telah kamu lakukan. Puas! Sudah memalukan keluarga kita,ha? Yang kita malukan adalah, keluarga Fernandez. Kamu, menghilang tanpa jejak dan entah dimana". Bentak Marsan, dadanya naik turun mengontrol dirinya.
Larissa,hanya diam. Apa lagi, wajahnya sudah pucat pias. sangat takut, benar-benar takut. Masalahnya,apa orangtuanya Garrix menerima dirinya atau tidak.
"Sayang, jangan memarahi anak kita. Beri dia kesempatan, untuk menjelaskan semuanya. Aku yakin, dia pasti memiliki alasan yang kuat". Elviya, langsung menyentuh lengan anaknya.
__ADS_1
"Mamah, maafkan aku". Garrix,hanya bisa memeluk ibunya dan meminta maaf. Garrix, sangat paham karena sudah kehilangan kepercayaan dari orangtuanya.
"Cukup! Jangan memanjakan,anak tidak tahu diri ini". Tunjuk Marsan,yang sudah benar-benar marah. "Baiklah, jelaskan semuanya". Marsan, menatap ke arah istrinya. Terpaksa,dia mengalah dan mendengarkan penjelasan Garrix.
Marsan, memandang ke arah Larissa. Di otaknya, yang ingin bertanya-tanya. Siapa, wanita yang di bawa Garrix? Dari tadi,hanya diam tak bersuara sedikitpun.
Garrix dan Larissa, duduk dan suasana sudah mulai tenang. Garrix,merasa tenang karena ayahnya meminta penjelasan yang kuat.
Ada rasa takut dan gugup,saat Garrix menceritakan semuanya kepada kedua orangtuanya. Dia,juga sudah memberitahu kepada Jacqueline.
"Siapa,namamu nak". Tanya Elviya, mendekati Larissa. Dia, sangat tahu! Jika wanita,di samping Garrix. Tengah ketakutan,apa lagi mendengar suara bentak kan dari Suaminya.
"Larissa,Tante". Jawabnya, dengan menunduk saja. Ya Tuhan! Semoga,aku di terima dan di perlakukan baik oleh mereka. Aku benar-benar takut, sepertinya mereka orang yang berada.
"Sudahlah,jangan takut. Maafkan anak Tante,". Elviya, memeluk erat tubuh Larissa.
"Ceroboh! Itulah, yang membuat semuanya berantakan. Sudah papah,bilangkan? Jangan kemana-mana,". Teriak Marsan,dia juga syok mendengar cerita anaknya. "Sekarang,kamu melakukan hubungan itu dengan dia. Seorang pelayan hotel,sialnya kamu di jebak".
"Pah,aku akan bertanggung jawab atas segalanya. Aku janji,akan menangkap pelakunya. Aku harap,papah dan mamah menyimpan rahasia ini. Apa lagi, ketahuan kedua orangtuanya Larissa". Pinta Garrix, wajahnya sudah kusut.
Marsan, menghirup udara dalam-dalam. Mencoba menenangkan pikiran dan hatinya,kenapa ada seseorang yang menjebak Garrix.
Marsan, menyetujui rencana anaknya. Di sisi lain, Marsan mengagumi sifat anaknya. Tetap bertanggung jawab, walaupun dia memiliki dua pilihan sulit.
Larissa,juga memberitahu kepada kedua orangtuanya. Karena kekasihnya,akan berkunjung ke rumah.
Larissa,yang tinggal bersama temannya karena dekat dengan pekerjaan.
Elviya,senang mendapatkan menantu seperti Larissa. Terlihat,sopan santun dan pemalu. Tidak bar-bar dan tidak tata Krama
__ADS_1