
Di mansion Fernandez, sekarang bertambah ramai dengan suara tangisan bayi.
Ini adalah momen yang dinantikan oleh Sarah dan suaminya.
Sarah, selalu mengambil alih cucunya. Orang lain yang ingin menggendong,hanya di beri waktu sebentar saja.
Waktu tidur terkadang Sarah, bersama cucu dan Jacqueline. Dia,malah mengusir V.
Irfan,yang sebagai suaminya dan kini menjadi kedua. Karena harus,bersaing dengan cucunya.
Jacqueline, merasa sedih karena ASI tak banyak keluar. Akhirnya,sang buah hati harus meminum susu formula terbaik.
"Jangan sedih,sayang. Yang penting anak kita, sehat-sehat saja". V, memeluk erat tubuh istrinya.
"Hiks...Hiks...Hiks...Aku, ingin menyusui anak kita sayang. Tapi,kenapa ASI ku tidak deras". Isak tangis Jacqueline, meremas lengan Suaminya. Bertahan beberapa hari,dia mampu menyusui anaknya. Pada akhirnya, ASI tak lagi keluar.
"Duhhh... lihatlah, mommy nya sedih karena ASI tak keluar lagi". Kekehnya Sarah,dia tidak mempermasalahkan jika cucunya meminum susu formula. Sarah,bisa membawanya tidur bersama atau kemana-mana.
"Sudahlah, sayang. Jangan sedih, ASI mu tidak cukup untuk anak kita. Lagian, tidak masalah anak kita meminum susu formula. Aku, sebagai ayahnya. Tentu saja,mencari susu formula terbaik di dunia ini". V, membujuk Jacqueline dan menghapus air matanya.
Jacqueline,mulai tenang dan mengangguk kepala. "Hemmm... Baiklah,aku memahaminya". Gumam Jacqueline,pelan.
"Mah,mau gendong keponakannya dong". Rengeknya Melda,yang baru datang kerja.
"Gak,sana mandi dan bersih-bersih dulu. Baru gendong keponakannya, banyak kuman di badan mu". Tolak Sarah, langsung.
Melda,hanya cemberut dan beranjak berdiri. "Baiklah, setelah itu tidak ada yang melarang ku. Untuk menggendong keponakan ku,yang tampan". Kekehnya Melda, langsung pergi meninggalkan ruang tamu.
"Iya, setelah selesai bersih-bersih. Makan yah,jangan beralasan apapun". Kata Sarah, memberikan perhatian kepada Melda. Walaupun,dia bukan anaknya.
"Malam ini, Jeno sama mamah tidurnya. Takutnya, Jeno bangun dan kalian berdua masih ngorok. Kasian cucu nenek,bangun tidur tapi mommy dan daddy nya tidur". Sungut Sarah, tersenyum smrik.
"Mah, ini anak kami. Masa, seringkali di bawa tidur. Kasian papah, gak di nina boboin". V, melirik sekilas ke arah ayahnya.
"Alahhh....Mamah,bisa mengaturnya V. Seharusnya, kamu jangan colek-colek Jacqueline. Dia,masih nifas jangan ngajak aneh-aneh". Tegur Sarah, menatap tajam ke arah anaknya.
"Kelamaan,masa empat puluh hari. Aku,puasa dan sangat menyebalkan. Aaarghhh.....". Gerutu V, yang sudah frustasi.
__ADS_1
[7/2 10.19] Erlina: "Tenang saja,aku bakalan servis sampai keluar". Bisik Jacqueline, menggoda suaminya. Membuat V, tersenyum sumringah.
"Mah,pamit dulu mau bobo". Kedip mata V, menarik lengan Jacqueline. "Titip, Jeno yah".
"Mah,kami ke atas dulu". Kata Jacqueline, mengikuti langkah kaki suaminya.
"sepertinya, Jeno mau bobo juga. Kita,masuk ke kamar dulu". Irfan, langsung sigap membantu istrinya.
Beberapa menit kemudian, Melda menuju ke ruang tamu. Dia, berdecak sebal karena tidak ada siapapun.
"Mamah Sarahhhh......!!!". Pekik Melda, menghentakkan kakinya. Betapa kesalnya, karena sudah di bohongi.
************
Besok harinya, Melda merasakan lehernya sedikit sakit.
"Huuuff...Lama gak spa,apa aku minta izin kepada Frans. Leherku,terasa sakit". Melda,keluar dari ruang kerja.
"Huuuff... Melda,kau harus santai dan jangan gegabah". Ucapnya, sambil menghembuskan nafas. Tangannya,membuka pintu ruang kerja Frans.
Meskipun Frans, mengetahui kedatangan Melda. Dia,acuh tak memperdulikannya.
"Frans....". Ucap Melda, dengan nada lembut.
Tentu saja, Frans mengetahui dari suara lembut Melda. Sudah pasti,ada sesuatu yang tidak enak.
"Frans....Hemmm,aku boleh pamit pergi gak? Sebenarnya,aku mau ke spa. Hemmm...Begini, leherku sangat sakit". Melda, menunduk saja dan mengigit bibir bawahnya.
Frans, menatap tajam ke Melda dan meletakkan pulpen ke meja. Dia, beranjak berdiri dan berjalan mendekati Melda.
Tentu saja, Melda tak enak hati. Sudah pasti,ada sesuatu yang terjadi. "Frans....Ak-aku seriusan dan tidak berbohong". Rengeknya, dengan tatapan sedih.
"Dimana yang sakit,leher kanan apa kiri". Tanya Frans, tepat di belakang Melda.
Melda, langsung terkejut dan berusaha santai dan tenang. Dia, sedikit mengubah posisi duduknya agar tegak. "Di sini". Jawab Melda, menyentuh leher sebelah kanannya.
Mata Melda, membulat sempurna. Saat tangan Frans,mulai menyentuh lehernya. Dia, merasakan jari-jari besar menyentuh kulitnya. Bulu-bulu halus meremang berdiri, tangannya meremas ujung baju.
__ADS_1
Berlahan-lahan Frans,mulai memijit leher dan kepala Melda. Sedikit dia, menumpahkan minyak urut.
Melda, merasakan keenakan. Pijitan Frans, benar-benar sangat enak. Matanya merem melek, menikmati pijatannya.
"Uughhh....Enak banget, Frans...Hemmm...". Kata Melda, namun terdengar seperti desa-han.
Frans,hanya menghela nafas beratnya dan berusaha santai.
Cukup lama Frans,memijat leher Melda. Dia, langsung mengakhirinya. Akan tetapi, Melda malah tertidur pulas.
Frans,hanya menggeleng kepala dan mengangkat tubuh Melda. Lalu, merebahkan tubuhnya di atas sofa. Tak lupa, Frans membuka jas dan menutupi sebagian tubuh Melda.
Frans, tersenyum smrik dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Yang sudah tertunda, beberapa menit. Dia, membiarkan Melda tertidur pulas.
***************
"Hoammm....". Melda, mengerjapkan bola matanya. Cukup lama termenung,lalu dia sadar karena tertidur pulas."Aaaakkhh....". Melda, berteriak keras. "Sudah jam satu siang, astaga aku benar-benar ketiduran. Bahkan, melewati jam makan siang. Oh,tidakkkkk.... pekerjaan ku, Frans kamu tega tidak membangunkan diriku". Gerutu Melda, langsung berlarian ke arah pintu.
"Jangan lupa, makan siang dulu". Kata Frans, tetapi terlambat sudah. Karena Melda, sudah tiada dan berlari ke arah ruang kerjanya.
"Ck, tukang tidur". Gumam Frans, sepertinya dia juga melewatkan makan siang. Tidak tega, meninggalkan Melda sendirian. Takutnya,ada seseorang masuk dan berbuat yang tidak senonoh.
Dengan perut keroncong,dia tetap semangat dengan pekerjaannya. Di hadapan, berkas-berkas penting sudah menunggu dirinya dari tadi.
"Eeee... leherku, tidak sakit lagi. Behhh...mantap sekali, pijitan Frans. Apa dia, pernah belajar dalam ahli memijat". Gumam Melda, kini lehernya tidak merasa sakit lagi.
Ceklekk.....
Pintu terbuka lebar, terlihat sesosok Frans membawa sesuatu di tangannya. Lalu, menghampiri Melda.
Melda, sudah merasakan gugupnya. Dia, tetap berusaha untuk profesional. "Maaf,ada apa Pak Frans".
"Makanlah dulu,baru bekerja". Frans, meletakkan kresek di meja kerja Melda. "Jangan ge'er,aku tidak mau kau sakit. Jika kau sakit,aku yang repot dan kesusahan. Belum lagi, Omelan Tuan, Nyonya,bos dan Nona". Sambungnya lagi, dengan membalikkan badannya.
Melda, hanya menghela nafas beratnya. "Terimakasih, sudah menyembuhkan leherku dan mengantarkan makanan".
Frans, pergi meninggalkan ruang kerja Melda.Tanpa sepatah katapun. Wajah Melda nampak sedih karena sifat, Frans.
__ADS_1