BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Teror 4


__ADS_3

"Hahahahaha...... hahahahaha....." Seseorang tengah, tertawa lepas dari arah kamar mandi.


"Brengseeekkk....siapa kau,ha? Keluar,kalau kamu berani". Teriak Yoshi, matanya tertuju ke pintu kamar mandi terbuka.


Braakkkk....


Pintu kamar mandi, tertutup dengan keras


Braakkkk..... Braakkkk...


Pintu kamar mandi, terbuka dan tertutup. Secara bergantian,hawa dingin memasuki kulitnya Yoshi. Ruangan inapnya, semakin mencekam. Yoshi, mencoba menghidupkan lampu. Akan tetapi, tidak bisa.


"Toloooong.... Tolooong....ada setaaaan.... Toloooong..". Teriak Yoshi,dari dalam. Tentu saja, tidak ada seorang pun mendengar teriakkan itu.


"Aaaakkhh....." Teriak Yoshi, kakinya di tarik ke arah kamar mandi.


"Lepaskan, aku.... lepaskan aku". Yoshi, memberontak saat kain berwarna merah menutupi seluruh tubuhnya. "Aaaaakkkkhh...bukan aku, aku tidak membunuh anakmu...".


Kaki Yoshi, terpeleset dan kepalanya terbentur di bak mandi. Darah segar mengalir deras, langsung tak sadarkan diri.


Seorang keluar dari ruangan tersebut, dengan mengendap-endap.


Beberapa menit kemudian,Lezza terkejut melihat kondisi anaknya yang tergeletak di lantai kamar mandi.


"Yoshiiiiiiiii.....". Lezza, berteriak histeris melihat anaknya itu.


Ramon, segera memanggil dokter dan mengangkat tubuh Yoshi.


Saat di periksa oleh dokter, nyawanya tak tertolong lagi. "Maafkan kami, pasien sudah tiada". Ucap sang dokter, membuat Ramon terkejut


"Tidaaaakkkk.... Yoshi, jangan tinggalkan mamah". Isak tangis Lezza, melihat anaknya yang tak bernyawa lagi.


"Kemungkinan,tuan Yoshi jatuh di kamar mandi". Ucap dokter tersebut,akan tetapi Ramon langsung menyelidiki ke kamar mandi. Memang benar, tidak ada tanda-tanda mencurigakan.


****************


Kematian sutradara film terbilang terkenal, bernama Yoshi. Berita tersebar luas dan mengejutkan dunia hiburan.


"Akibat Kematian tuan Yoshi, seorang sutradara film terbilang terkenal. Di nyatakan kecelakaan tunggal,tuan Yoshi terpeleset di kamar mandi dan kepalanya terbentur bak mandi".

__ADS_1


"Tidak ada tanda-tanda, mencurigakan di kamar mandi tersebut"


"Ini sangat mengejutkan dunia hiburan dan lainnya. Seorang sutradara film terbilang terkenal, telah tiada. Akibat kecelakaan, di kamar mandi".


Ucap para wartawan,yang tengah meliput kematian Yoshi.


Keadaan rumah sakit, semakin padat dan menyelidiki kasus kematian Yoshi.


: Sarah, Jacqueline dan Melda. Mereka bertiga,tengah menegang saat mendengar berita tersebut.


Membuat Irfan dan V,hanya menggeleng kepalanya.


Frans, membisikkan sesuatu ke telinga V. Sehingga V,naik ke atas dan di susul oleh Jacqueline.


Karena Jacqueline, mencurigai kakaknya.


"Mau kemana,kak". Tanya Jacqueline,yang bersiap-siap untuk pergi.


"Aku ingin berbicara, dengan Laura. Dia, memintaku ke sana". Jawab V, sambil memasang gelang jam tangan.


"Kak V, sebenarnya ada yang aku katakan". Lirih Jacqueline, dengan pelan.


Jacqueline, meremas ujung bajunya. "Hubungan kita,kapan di resmikan. Maksudnya,itu,itu. Hemmm..me,menikah".


V, tersenyum smrik dan mengangkat dagu Jacqueline. "Bukankah, sudah perjanjian kita. Aku,hanya menganggap dirimu sebagai kesenangan dan membuat mu bahagia. Untuk lebih dari itu,maaf aku tidak bisa". Tegas V, menuju ke arah pintu.


Memang benar, Jacqueline meminta V sebagai kekasihnya. Sekedar untuk, membahagiakan dirinya. Tetap saja, cintanya bertepuk sebelah tangan. "Ayo,kita akhiri hubungan ini". Kata Jacqueline,masih membelakangi V.


"Terserah, kamu saja. Aku,hanya menggiring keinginan mu". Jawab V,yang sudah berlalu melalui pintu kamarnya.


Barulah Jacqueline, menangis kesegukan dan terduduk di lantai. Hatinya terasa teriris-iris, mendengar jawaban V. "Benar,aku tidak bisa menaklukkan hati V".


***************


Beberapa hari kemudian, Jacqueline dan Melda melanjutkan aktivitas seperti biasanya.


Jacqueline,juga irit berbicara dengan kakak angkatnya. Walaupun,V mengetahui perubahan Jacqueline.


"Jacqueline,malam ini jam delapan malam. Kamu akan berkencan buta, dengan seorang dokter bernama Doddy Katamsi". Ucap Melda, membuat Jacqueline tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah,aku akan memanjakan diri ku di spa. Aku harus berpenampilan, menarik di mata dokter itu". Kekehnya Jacqueline, pergi meninggalkan ruang pemotretan.


Sarah, dan teman sosialitanya berencana untuk menjodohkan anak mereka. Ada tiga orang,yang di kencani buta oleh Jacqueline.


Tentu Jacqueline,senang hati menerimanya. Apa lagi, dia berniat untuk serius menjalin hubungan. Tidak masalah, saling kenal lebih dulu. Apa lagi usianya, sudah beranjak dewasa.


Malam harinya Jacqueline,masuk ke restoran dan mencari seseorang.


Mata Jacqueline, menangkap seseorang tengah duduk di meja pojokan. "Hemmm... sepertinya,dia". Gumam Jacqueline, langsung mendekati meja tersebut.


Ternyata benar,pria yang di kencan buta pertamanya. Sangat manis, terlihat sopan dan santun. "Silahkan duduk, nona". Pria itu, langsung menarik kursi untuk Jacqueline.


"Terimakasih, panggil saja Jacqueline. Biar kita,lebih akrab". Kekehnya Jacqueline, tersenyum.


"Baiklah, panggil Doddy saja". Mereka berdua, berjabat tangan dan saling bertatapan.


Jacqueline,membuka mantel bajunya dan terlihat jelas putih mulus bahunya. Belahan dada, sedikit terbuka. Karena Jacqueline, memakai dress selutut berwarna hitam. Rambut panjang, terurai bebas.


"Silahkan,pesan makanannya". Doddy, memberikan menu makanan dan beranjak berdiri. "Pakailah mantelnya, banyak mata pria yang menatap ke sini". Bisik Doddy, tersenyum.


Jantung Jacqueline, berdegup kencang. Apa lagi,dia menoleh ke samping. Wajah mereka, cukup dekat.


Mereka berdua jadi salah tingkah dan serba salah. Hany senyum-senyum sendiri, menahan rasa malu. Kedua pipi mereka,merona memerah.


"E'ehmmm,maaf. Aku hanya ingin, melindungi mu. Karena aku sudah, berjanji kepada Tante Sarah". Kekehnya Doddy,duduk kembali di kursinya.


Jacqueline, sudah selesai memilih menu makanan. Begitu juga Doddy, meminta pelayan segera menyiapkan pesanan mereka.


"Maaf,apa aku boleh bertanya". kata Jacqueline, malu-malu.


"Eee... silahkan, tanyakan saja. Sebenarnya,aku juga ingin bertanya kepada mu". Doddy, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apakah, ini kencan pertama mu? Lalu, berapa usiamu. Maaf, sudah berapa lama menjadi seorang dokter. Apakah,kamu memiliki kekasih atau.... oopsss...maaf,aku seharusnya menanyakannya satu persatu. Mungkin,aku grogi". Jacqueline,merasa malu kepada Doddy. Astaga, kenapa kamu ceroboh Jacqueline. Seharusnya,kamu kalem jangan nyerocos kaya tadi. Jacqueline, menggerutu dirinya sendiri.


"Hehehhehe....tidak apa-apa,aku malah senang dengan orang yang cepat akrab. Memang benar,ini adalah kencan pertama ku. Maaf,aku juga sangat grogi sekali. Sebenarnya,aku minder untuk melakukan kencan buta ini. Yahhh...gak pede,apa lagi seorang model seperti nona Jacqueline. Tetapi,mamah memaksa ku karena usiaku sudah dua puluh tujuh tahun. Mamah, ingin cepat-cepat memiliki menantu. Eeee...aku kebanyakan,bicara yah". Kini Doddy,juga gugup tak karuan.


"Eee...tidak apa,malah aku senang sekali. Jika seseorang, banyak bicara". Kata Jacqueline, tersenyum.


"Terimakasih,aku senang sekali bertemu dengan mu. Aku, tidak memiliki kekasih. Bahkan, tidak pernah berpacaran karena sibuk menjalankan pekerjaan sebagai dokter". Jawab Doddy,juga tersenyum.

__ADS_1


"Ha...!!! Tidak pernah pacaran,waw....". Jacqueline, terkejut mendengar ucapan Doddy. Sekarang dia,di hadapi oleh seseorang pria polos. Memang benar,dilihat gelagat nya memang polos. membuat Jacqueline, berniat untuk mempelajari hal-hal lainnya. Baguslah,adik manisku. Kau sangat tepat,mengenal diriku yang sudah jadi suhu. Sepertinya, bibirmu tidak pernah di cicipi lagi. Bagaimana,kalau aku yang pertama. Astaga,aku mendapatkan pria polos dan perjaka. batin Jacqueline, otaknya traveling kemana-mana sudah.


__ADS_2