
Bagaimana,ini? Masa iya,aku bohong. Ya Tuhan,tolong aku. Batin Nana,dia tengah gelisah karena tak mampu untuk berbohong.
Prangggg.....
"Kak V,kenapa". Jacqueline, terkejut karena sesuatu yang jatuh.
"V...!". Ucap Irfan dan Sarah, secara bersamaan.
Mereka bertiga, langsung menghampiri V. "Berhentilah,hanya piring yang jatuh. Maaf, tersenggol tadi. Hehehe...". Kekehnya V, tersenyum kecil.
"Ck,bikin kaget saja. Makanya, hati-hati dong masaknya". Kata Sarah,kepada anaknya.
"Beneran,? Gak papa,kak. Maaf,". Lirih Jacqueline,pelan.
"Tidak apa,sayang. Duduklah, sebentar lagi masak kok". Ucap V, tersenyum manis.
Jacqueline, langsung mengangguk kepala dan dia tidak sabar mencicipi masakan sang suami.
"Ya sudahlah, mamah dan papah. Mau istirahat, sudah malam. Kamu juga,kalau selesai makannya. Langsung istirahat,jangan begadang". Sarah, mengecup kening menantunya.
"Iya,mah. Selamat malam, papah dan mamah". Jacqueline, melambaikan tangan ke arah mereka. Fiuuhhh.... untung saja,mamah lupa dengan pertanyaan tadi. Jadi,aku tidak berbohong kepada mereka.
V, menyiapkan makanan untuk Jacqueline. Tentu saja, masakan dia sendiri.
Jacqueline, langsung tersenyum dan tidak sabar menyantapnya. "makasih,kak. Hemmm...harum sekali, menggoda lidahku". Jacqueline, langsung mencicipi cumi asam manis. "Hemmm... enaknya,pas di lidah. Gak nyangka,kak V bisa memasak seenak ini".
"Baguslah,kalau pas tidak ke asinan". Kekehnya V, mengelus lembut rambut panjangnya Jacqueline. Dia,juga membenarkan rambut istrinya.
"Lain kali,masakin untukku yah. Jangan nolak, katanya sewajibnya untuk menyenangkan hati istri". Kedip mata, Jacqueline. sesekali,aku mengerjai kak V. Hahahaha...Gak nyangka,enak sekali.
"Makanlah,yang kenyang. Aku akan, memasak untuk mu nanti. Tapi,jika aku tidak sibuk. Setelah, ini kita istirahat dan sudah larut malam. Aku,juga sangat mengantuk". V, menuangkan air putih untuk istrinya.
"Hemmm... makasih kak,". Jacqueline, menyantap makanan. Dia, begitu menikmati makanannya.
************
__ADS_1
Frans, meletakkan sebuah dokumen di meja V. "Segera di tandatangani,bos. jam dua siang,ada meeting di luar". Ucap Frans, berdiri di samping meja V.
"Oke, duduklah Frans. Aku, ingin membicarakan sesuatu hal yang penting". Kata V, langsung di angguki Frans.
Frans,duduk di kursi tepatnya di hadapan V. Hanya berhalat,meja kerjanya. "Sebenarnya, Jacqueline akan berhenti bekerja menjadi seorang model".
"Wahh.. baguslah, bos. Biar, pikiran bos tenang. Takutnya,ada pria lain mendekati Nona Jacqueline". Kekehnya, Frans. Tak memperdulikan, tatapan tajam dari V.
"Oh,kau mengejekku. Hemmm... Baiklah,ada sesuatu yang membuat mu syok berat". Seringai tajam,V.
Sontak membuat Frans, gelisah dan keringat dingin. Karena seringai tajam,V adalah musibah baginya. "Jangan menakuti ku,bos".
"Melda,akan menjadi asisten mu nanti". Ucap V, tersenyum smrik.
Mendengar ucapan dari,bosnya. Frans,hanya mengusap wajahnya dengan kasar. "Ada pilihan,lain. Bukankah, bagian keuangan kekurangan karyawan. Kenapa, tidak di sana saja. Melda,juga pintar dalam menghitung. Apa lagi,dia mata duitan".
"Melda, bekerja bersama Jacqueline dalam dunia model. Ini pekerjaan perusahaan, menghadapi berkas-berkas. Anggap saja,kamu mengajari Melda". V, menepuk pundak Frans.
"Suruh saja, Melda menjadi pengawal pribadi Nona Jacqueline. Dia, tidak perlu bekerja dan susah payah mencari uang". Kata Frans, mencoba mencari solusi.
Frans, bertambah frustasi dengan pilihan lainnya. "Ck, baiklah". Frans, langsung beranjak berdiri. "Besok,dia boleh bekerja langsung".
"Ayolah, jangan menahan rasa cintamu Frans" Ucap V, tersenyum dan menatap kepergian sekertarisnya itu.
***********
Sepulang dari kerja,V menceritakan semuanya kepada Jacqueline.
"Sepertinya, Frans keberatan kak. Dari jawabannya, kemungkinan Melda tidak menyetujuinya". Kata Jacqueline, termenung sejenak.
"Hemmmm.... Entahlah,kenapa Frans tak menyukai Melda". V, mengangkat kedua bahunya.
"Tapi,kalau Frans tidak mau. Tidak masalah, Melda mendapatkan informasi tentang pekerjaan di perusahaan lainnya. Kalau gak salah, dari temannya". Jacqueline, sempat mendengar pembicaraan Melda dengan seseorang melalui telpon.
"kamu yakin,sayang". V, memeluk erat tubuh istrinya.
__ADS_1
"Bagaimana,lagi? Kalau, Frans tidak mau. Jangan di paksakan,kasian dia". Jacqueline, harus berbicara langsung kepada Melda. "Ya sudah,aku ingin memberitahu tentang ini kepada Melda. Kamu,mandi sana gih. Bau tau,". Pinta Jacqueline, cengengesan.
"Baiklah, jangan lama-lama. Aku, sangat merindukanmu". V, sempat-sempatnya mengecup bibir Jacqueline.
Jacqueline, keluar dari kamar dan menuju ke kamar Melda. Berasa di ujung,tak jauh.
"Jacqueline, masuklah". Melda, mempersilahkan sahabatnya masuk.
"Frans,...".
"Aku,tahu. Jangan di lanjutkan lagi,". Melda, memotong perkataan Jacqueline. Saat dia, ingin menceritakan semuanya. "Tidak apa,aku menerima ajakan temanku. Benar, Frans tidak menyukai ku di saat di dekatnya. Kemungkinan,dia terpaksa harus menuruti perintah kak V" Raut wajah Melda,nampak tak bersemangat.
"Melda, maafkan aku. Gara-gara aku, berhenti bekerja. Kamu, tidak memiliki penghasilan. Walaupun, aku tahu! Kamu, tidak pernah kehabisan uang. Hehehehe....". Kekehnya Jacqueline, tersenyum manis.
"Kau,benar sekali. Aku,hanya bosan saja. Jika aku, menjadi seorang pengangguran. Hahahaha, lucunya". Melda, merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Jadi,kamu bekerja di perusahaan teman mu itu. Pria atau wanita, temanmu itu. Ingat yah, jangan bermain-main dengan pria lain.cukup saja, Huda. Semakin,kamu mendekati pria lain. Maka, Frans semakin jauh dari mu". Jacqueline, memperingati sahabatnya itu.
"Masalahnya,pria temanku. Bagaimana, lagi? Sudahlah,kalau jodoh gak bakalan kemana. Buktinya,kamu". Kekehnya Melda, cengengesan.
Jacqueline, hanya menepuk jidatnya saat ini. "Yakin? Bagaimana, Frans berkencan dengan wanita lain. Apa lagi,mamah Sarah selalu merencanakan hal yang tidak terduga".
"Tenang saja,aku akan menggagalkan kencan Frans. Hahahaha.... Tidak akan aku, biarkan dia lepas. Jika aku, tidak memilikinya,jangan harap orang lain juga". Melda, tersenyum sumringah.
"Ck, obsesi mu terlalu besar Melda. Malahan, Frans akan membencimu. Kita,susah menebak pikiran dan hati seseorang. Frans, lebih keras daripada kak V". Kata Jacqueline, membuat Melda termenung sejenak.
"Kau ini, selalu mematahkan semangat ku". Gerutu Melda, bibirnya mengerucut ke depan.
"Hihihi...maaf, aku juga seperti itu dulu. Sekarang,dia sudah menjadi milikku". Kata Jacqueline, tersenyum manis.
"Berhati-hati lah, Jacqueline. Apa lagi, Laura di kabarkan kembali pulih. Aku sangat takut,jika dia masih balas dendam dan menyakiti dirimu. Hanya kamu, kelemahan V. Kau, paham kan". Melda, mengkhawatirkan keadaan sahabatnya.
"Yah...aku tahu,jika diriku dalam bahaya. Tenanglah,aku bisa mengatasinya". Jacqueline,juga was-was dengan dirinya dan. Bukan nyawanya, tetapi nyawa anaknya juga.
"Lebih baik,kamu jangan kemana-mana sendirian. Terlalu,bahaya Jacqueline. Apa lagi,aku sibuk nantinya". Melda, memasang wajah sedih. Aku harap,kamu tidak apa-apa. Sangat takut, jika terjadi sesuatu.
__ADS_1