
[Jacqueline,aku tunggu kedatangan mu. Kasian Ly,terus merengek-rengek meminta kamu ke sini]
[Kenapa, tidak datang juga? Sudah hampir satu jam,aku dan anakku menunggumu]
[Hanya sebentar, Jacqueline. Keluargamu,pasti paham. Aku yakin, Ly mencarimu]
[Jacqueline, kenapa hanya di baca pesanku? Balas,aku mohon]
[Ayolah, jangan ngelunjak Jacqueline . Aku adalah sutradara film, sedangkan kamu hanya pemain di filmku. Kamu,wajib mematuhi perintah dan peraturan mu. Ck,aku salah dalam menilai mu. Aku kira,kamu selalu profesional dalam perkejaan. Nyatanya,kamu malah mengabaikan]
[Jacqueline,aku perintahkan kepada mu..!! Segera mungkin,datang kediaman ku].
Banyak lagi,pesan yang di kirim oleh Yoshi. Akan tetapi, Jacqueline malah mengabaikannya.
"Ck,hanya akal-akalan saja". Gumam Jacqueline, meletakkan ponselnya di atas ranjang.
Dia,masuk ke dalam kamar mandi. Jacqueline, tidak mengetahui seseorang tengah masuk ke dalam kamarnya.
Saat Jacqueline, keluar dari kamar mandi. Dia, terkejut melihat V tengah duduk di tepi ranjang. Tangannya, memegang ponsel dan tengah mengotak-atik.
"Kak V...". Lirih Jacqueline, langsung merampas ponselnya di tangan V.
V, dengan sigap menahan tubuh Jacqueline dan jatuh ke pelukkannya. "Ada,apa? Kenapa, sutradara cabul itu selalu mengirim pesan seperti ini. Berani sekali,dia memarahi adikku".
"Kak V,jangan ganggu urusanku. Lepaskan, tanganmu". Jacqueline, mencoba melepaskan tangan V yang melingkar di pinggangnya.
"Coba saja,kalau bisa". Senyum smrik,V.
"Kak, jangan seperti ini. Di mansion, sedang ramai kedatangan keluarga. Besok kak V, menikah dengan Laura. Jujur kak,di sini Jacqueline sakit". Jacqueline, menunjukkan jarinya ke dada. Tentu saja, belahan dadanya sedikit terbuka.
V, susah payah meneguk air liurnya. "Ck, bisakah kamu berpakaian yang menutupi dada, perut dan pahamu ini".
"Kak,aku gerah. Kalau, menggunakan pakaian seperti ini. Wahhh.. gak bakalan gerah,hehehe... kembalikan, ponselku". Jacqueline,terus berusaha meraih ponselnya di tangan V.
V,hanya tersenyum melihat tingkah laku Jacqueline. "Mengambil ponselnya,saja. Tidak bisa, bagaimana meraih hatiku".
Aku punya ide,bisa mengalihkan perhatian kak V.batin Jacqueline,mulai aksinya. Tangan lentiknya, mengelus-elus rambut V dan menelusuri wajah dan turun ke bawah lehernya. Turun lagi, hingga Jacqueline melepaskan dua kancing kemeja putih V.
Jacqueline, menghembuskan nafas. Seketika bulu halus V, meremang berdiri. Dia, merasakan desiran aneh. Matanya terpejam, menikmati permainan Jacqueline. Pada akhirnya, Jacqueline mendapatkan kesempatan.
Hap....
"Hahahahha...aku mendapatkan ponselnya"
Gelak tawa Jacqueline,saat ingin kabur. Dengan sigap,V menahan tubuh Jacqueline dan jatuh ke pelukannya. V, menekan tengkuk leher Jacqueline. Agar bisa,mencium bibirnya.
Sontak membuat Jacqueline, terkejut karena
__ADS_1
Perlakuan V. Tentu saja, Jacqueline senang hati dan membalas ciumannya. Mereka, saling bertukar saliva.
Berlahan-lahan V, membaringkan tubuh Jacqueline di atas ranjang.
Tanpa melepaskan ciumannya,V melepaskan kemeja bajunya dan melempar ke sembarang arah.
Deggg....
Kenapa,kak V melepas kemejanya? Jangan-jangan,aku bakalan di unboxing. Tidak, mungkin ini terjadi. Besok kak V,menikah. Lalu,aku bagaimana? Siapapun,tolong aku. Batin Jacqueline, tak mampu melepaskan diri dari V. "Kak V, sssshhhttt...". Desis Jacqueline, saat V mencium lehernya.
"Panggil aku,V. Aku mohon, Jacqueline". Pinta V, dengan suara seraknya. V, memandang wajah cantik Jacqueline. Tangannya,mengusap bibir Jacqueline yang berwarna kemerahan itu.
Jacqueline, menatap lekat manik-manik mata V. Mencari-cari sesuatu, yang di simpan kakaknya. "Hentikan,jangan seperti ini". Jacqueline, memasang wajah sedih. Air matanya lolos sudah,orang yang sangat di cintainya besok akan menikah dengan perempuan lain.
"Jacqueline, panggil aku V". Pinta V,lagi masih dengan suara seraknya.
"Sssshhhttt....V, hentikan". Jacqueline, mencoba mendorong tubuh V. Saat V,mencium seluruh lehernya.
Tok...Tok...Tok...
Suara ketukan pintu kamar, membuyarkan semuanya. "Kak, hentikan dulu. Ada seseorang,sana pergi". Jacqueline,nampak panik. Seakan-akan,dia kepergok berduaan oleh warga.
Dengan sekuat tenaga, Jacqueline mampu mendorong tubuh V di atas tubuhnya. Dia, juga menarik lengan V. Agar masuk ke dalam kamar mandi, untuk bersembunyi.
"Kakak, bersembunyi di sini yah. Aku gak mau,kalau ketahuan orang luar". Jacqueline, mendorong kakaknya untuk masuk ke dalam.
"Husss...diamlah,kak". Pinta Jacqueline, dengan langkah takut dan cemas. Dia,membuka pintu kamarnya.
Saat membuka pintu kamar, terlihat sesosok Frans tengah tersenyum. "Fiiiuuhhh.. Kirain siapa? ternyata,kamu". Gumam Jacqueline, menatap ke Frans. "Ada,apa? Ganggu saja ".
"Hehehehe...maaf, Nona Jacqueline. Apa ada,melihat bos V". Tanya Frans, cengengesan.
"Masuk,". Perintah Jacqueline, membuat Frans menjadi kaku.
"Astaga,kenapa diam? Kak V,ada di dalam. Cepat,masuk". Perintah Jacqueline,lagi.
"Baik, Nona". Frans, langsung masuk ke dalam kamar Jacqueline. Dia, calingukan mencari V. Sangat berantakan sekali,di atas ranjang. Jangan-jangan, mereka sedang melakukan hal ***-*** ini. Batin Frans,menaruh rasa curiga kepada V dan Jacqueline.
Klik....
Jacqueline,membuka pintu kamar mandinya. "Frans,dia ingin menemui mu".
"Oh,". V, langsung menghampiri Frans yang masih berdiri.
"Tuan,ada..".
"Nanti saja, membahasnya". V, langsung memotong perkataan Frans. "Kamu,ikut aku". V,menarik lengan Frans dan membawanya ke balkon kamar Jacqueline.
__ADS_1
"Kamu, tunggu di sini sebentar saja". Perintah V, membuat Frans nampak kebingungan.
V, langsung menutup pintu dan tirai nya juga. Agar Frans,tak bisa mengintip apa yang di lakukan V dan Jacqueline.
"Bos,kenapa di tutup? Sial,dasar bos bucin sama adiknya". Gerutu Frans, kenapa bosnya sendiri.
Jacqueline, mengerutkan keningnya saat melihat aksi V.
"Aakkkhhh....". Pekik Jacqueline,saat tubuhnya langsung di angkat V.
"Diamlah, panggil aku V". Kini suara seraknya, keluar lagi. V,juga membaringkan tubuh Jacqueline dengan pelan.
Tentu saja, melanjutkan aksi yang sempat tertunda. "hari ini,kamu akan jadi milikku sayang". Ucap V, sebelum menyambar bibir Jacqueline.
Deggg....
Jantung Jacqueline, berdegup kencang. Menjadi milikku? Maksudnya,apa? Kenapa,aku nampak kebingungan. Batin Jacqueline, merasakan permainan V. "V, sssshhhttt....". Desis Jacqueline,saat lehernya dikuasai oleh V. Kepala Jacqueline, mendongak ke atas. Agar V,leluasa mencium seluruh leher dan semakin kebawah.
Tok....Tok...Tok...
Suara ketukan pintu, menghentikan permainan mereka.
"Waktu kita,memang tidak tepat kak". Jacqueline, susah payah mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Sial,kamu buka pintunya". V, menyuruh Jacqueline. Dia, tidak ingin orang luar mencurigai perbuatan mereka.
Sebelum di buka pintunya,V, sudah lebih dulu membuka pintu balkon dan membawa Frans duduk santai di dalam kamar. Seakan-akan, mereka tengah berbincang hangat. Tak memperdulikan di atas ranjang, sangat berantakan sekali.
Ceklekk...
"Tante Maureen,ada apa". Jacqueline,gugup menyapa sesosok di depan pintu.
Tante Maureen, keluarga dekat Sarah. Maureen, mengintip ke dalam kamar Jacqueline. "Kalian di sini, ngapain kalian bertiga? Jacqueline,kamu tidak di apa-apain sama mereka berdua kan".
"Hahahaha... Tante,bisa aja". Kekehnya, Jacqueline malu-malu. Semoga saja, Tante Maureen tidak curiga dengan ranjang ku berantakan.
"Ya sudah,kamu kebawah dulu. Ada seseorang,yang ingin bertemu". Pinta Maureen, tersenyum kecil.
"Oke,kita ke bawah". Jacqueline, langsung menggandeng tangan Maureen. Baru selangkah, Maureen menghentikan langkahnya.
Jacqueline, langsung gugup takutnya Maureen mencurigai sesuatu. "Jacqueline,lebih baik kamu ganti pakaian. Jangan seperti ini,agak tertutup lah. Apa lagi, penampilan mu sangat berantakan".
Fiuuhh... Alhamdulillah, Tante tidak mencurigai apapun. "iya, maklum habis main tadi sama kak V". Jacqueline, langsung salah tingkah. Astaga,kenapa aku kecoplosan sih? Mulut,di jaga wouy.
"Main, dengan V? Main apa,". Maureen, menyipitkan bola matanya.
"Maksudnya,main pukul bantal Tante. Kalau, nanti gak bisa main. Kan ada kakak ipar, hehehe". Alibi Jacqueline, tersenyum manis.
__ADS_1
"Oh, cepat sana ganti. Tante, duluan ke bawah". Maureen, mencubit pipi Jacqueline. Di saat sebelum, pergi dan menuruni anak tangga.