BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Part.7


__ADS_3

"Huuuff....Bete juga, ternyata". Gumam Melda, termenung dan duduk di kursi.


Matanya melirik ke arah jam dinding,masih pukul sembilan pagi. Beberapa hari,dia bekerja menjadi resepsionis hotel.


Menyambut kedatangan tamu dan lainnya. Di saat bete-bete,memang enak ngemil makanan. Masalahnya, tidak di perbolehkan.


"Bete banget, sih! Kenapa,gak minta bantuan kak V kemarin. Ganti kerjaan jadi staf kantor biasa. Pasti pekerjaannya gampang, tidak menjadi sekretaris Frans. Kepadaku hampir meledak, mengerjakan berkas-berkas setumpuk". Lirihnya pelan,jam istrirahat masih lama. Perutnya sudah keroncongan, ingin memakan sesuatu. "Lama-kelamaan,teman di sebelah aku makan". Gerutunya lagi, dengan wajah sedih.


"Napa,kaya sedih dan banyak pikiran". Tanya Ana, temannya bekerja.


"Bete,gak boleh ngemil. Perutku, sudah keroncongan tau. Mana jam istrirahat lama lagi,sial sekali". Jawab Melda,mendengus kesal.


"Sabar, awalnya aku bete juga sih. Lama-kelamaan,gak tuh. Apa lagi,dapat uang gajihan.hehehehe.... Hilang tuh,bete dan capeknya". Kekehnya Ana, tersenyum.


"Itu kamu,gak aku". Sahut Melda, langsung. Pengen minta bantuan kak V, tapi gak mungkin. Pasti di ledekin, Frans. Tidak bisa mandiri,apa lagi masalah sepele semata. Ngomongin tentang Frans,dia lagi apa? Terus,sama siapa yah? Jadi penasaran,mana mungkin Frans libur panjang. Pasti ada seseorang, yang menemaninya. Sialan, apa Frans diam-diam memiliki kekasih. Jika benar, pantesan saja. Dia, tidak melirik atau tergoda dengan ku. Batin Melda, dengan bibir mengerucut.


"Ngelamun mulu,pasti masalah cowok yah". Delik Ana, menaruh rasa curiga. Walaupun mereka, baru kenalan. Tetapi,Ana sangat mudah bergaul dengan siapapun. Melda,juga menyukai Ana yang selalu blak-blakan.


"Iya,Ana. Kenapa yah,kalau cowok itu biasa-biasa saja dengan kita. Walaupun,kita sudah berusaha mendekatinya. Di tanya suka gak sama kita,dia diam saja. Tapi,dia perhatian kok orangnya". Melda, langsung menceritakan isi otaknya.


"Biasanya,ada perasaan Seseorang yang di jaga". Sahut Ana, tersenyum smrik.


"Ada gak, jawaban yang lain. Bikin mood hancur,jadinya". Melda, kesal dengan jawaban Ana.


"Atau kamu,bukan tipenya. So,dia perhatian kepada mu. Kemungkinan,hanya menganggap sebagai teman dan tidak lebih". Kata Ana,sama saja membuat mood Melda hancur berkeping-keping.


"Ana, kamu punya pacar gak sih? Jawabnya,gak enak banget". Melda, langsung naik darah mendengar jawaban Ana lagi.

__ADS_1


"Punya,kenapa? Jangan coba-coba merebutnya dariku. Mentang-mentang situ,oke". Sinis Ana, memandang Melda.


"Yeee.... Ogah banget, merebut punya orang. Ngomong-ngomong,gimana kalian jadiannya? Siapa tahu,aku dapat pencerahan gitu". Kedip mata Melda , tersenyum manis.


"Awalnya,aku dan dia teman sekolah. Sudah tahulah, sifat antara kami berdua. Kalau gak salah tujuh tahun,kami kenal. Terus,jadian waktu ulangtahun ku. Dia,nembak aku. Memang benar,aku mulai cinta dan suka sama dia. Aku kira, cintaku bertepuk sebelah tangan. Tau-taunya,dia juga menyukai ku". Kata Ana, malu-malu kucing.


"Waw... Sesingkat itu,yah". Sahut Melda, memandang wajah Ana.


"Sesingkat itu,lo bilang!". Ana, menepuk keningnya saat mendengar ucapan Melda. "Tujuh tahun,aku memendam rasa cinta. Kamu,bilang sesingkat itu! Astaga naga, Melda". Ana, tiba-tiba geram kepada Melda yang cengengesan saja.


"Canda,Ana. Cuman bercanda,". Kekehnya Melda, membuat Ana bad mood jadinya.


************


Di belahan bumi lainnya,Frans sudah sampai di sebuah rumah.


"Maaf, siapa yah". Tanya pria itu, langsung beranjak berdiri dan berjalan mendekati Frans.


"Nama saya, Frans. temannya Herlin,Om.Apa Herlin ada". Jawab Frans, sebenarnya dia ragu-ragu.


"Oh, temannya Herlin. Duduk dulu,Nak. Panggil saja, pak Damit. Sepertinya,kamu bukan orang sini". Ucap pak Damit,yang di angguki Frans.


"Benar,saya dari kota. Sebenernya,kami pernah bertemu di kota. Sudah lama, tidak bertemu Herlin.Biasa hanya,teman dekat pak. Kebetulan sekali,ada waktu luang jalan-jalan ke sini. Eee... Teringat dengan Herlin,dia pernah bilang. Jika orangtuanya tinggal di sini". Jawab Frans,dia sudah menyiapkan semuanya dan membuat skenario agar di percayai.


"Oh, Herlin setelah lulus sekolah. Dia, bekerja di kota. Tidak lama kemudian,dia mendaftarkan diri menjadi Tentara (kowad). kowad adalah panggilan Tentara wanita. Walaupun,saya sempat melarangnya untuk menggapai cita-cita yang di impikan selama ini. Tetapi, demi kebahagiaan seorang anak. Kami, melepaskan kepergiannya. Beberapa tahun, tidak bertemu dan Herlin sudah mendapatkan keinginannya. Dia, pergi bertugas lagi. Dalam jangka dua tahun dan kembali ke sini. Kami, mendapatkan kabar mengejutkan dari mulutnya sendiri". Kata pak Jaya,terdiam sejenak.


Frans, mendengar cerita pak Jaya. Sontak membuatnya, dag-dig-dug tak karuan.

__ADS_1


Pak Jaya, menceritakan tentang anaknya itu dan memberikan alamat rumahnya. Frans, langsung pergi meninggalkan rumah orangtuanya Herlin.


Kecewa itulah yang di rasakan, Frans. Janji yang di buat oleh Herlin,hanya sebuah kebohongan semata.


Frans, mencekram kuat di setir mobilnya. Sesekali,dia memukulnya. Kata-kata pak Jaya, terngiang-ngiang di otaknya.


"Sepulang dari tugas, Herlin memutuskan untuk berhenti menjadi anggota Tentara (kowad). Dia,menikah dengan seorang pria. Katanya,teman sekolah dulu seorang dokter. Tentu,kami menyetujui hubungan mereka. Kami senang,jika Harlin berhenti bekerja yang nyawa taruhannya dan membangun rumah tangga kecilnya. Sebagai orangtuanya, kebingungan dapat uang darimana? Dia, selalu memberikan kami sejumlah uang banyak. setiap kali,saya bertanya kepada Herlin. Dia,hanya menjawab singkat dari tabungan katanya".


Frans,hanya tersenyum mendengar ucapan pak Jaya. Uang yang di berikan oleh Herlin, adalah uang yang selalu Frans kirim.


Frans,yang mewujudkan cita-cita Herlin. Dia, selalu mengirim uang dengan jumlah banyak. Uang tidak masalah bagi, Frans. yang membuatnya masalah adalah Herlin berbohong kepadanya.


Tiga puluh menit, akhirnya Frans sampai ke alamat yang di berikan oleh pak Jaya. Sepertinya, Herlin menikah dengan pria kaya raya. Rumahnya besar dan pagar yang menjulang tinggi.


Penjaga pintu gerbang,membukakan. Agar Frans,bisa masuk ke dalam. Panas dingin bercampur aduk, keringat membasahi keningnya sudah.


"Siapa,bi". Tanya seorang wanita,yang tengah bersantai di ruang tamu. suara yang sangat di rindukan Frans, namun berubah menjadi benci.


Wanita itu, berbalik badan dan syok melihat sesosok pria yang di kenalnya. "Frans...". Lirih Herlin, dengan pelan. Bibirnya bergetar, tangannya meremas ujung bajunya.


"Hai, Herlin. Apa kabar,". Frans,menyapa Herlin dengan santainya. Akan tetapi tatapan matanya, tidak bisa berbohong.


"Frans,kamu.... Astaga,kau ke sini". Herlin, terduduk lemas dan gelisah gusar. Seakan-akan, nyawanya di ujung tanduk.


"Herlin,santai saja. Aku tahu,kau menikah dengan Yordan. Yang kau bilang, seorang teman. Lantas,aku adalah ATM perjalanan mu. Sangat menarik, ingin sekali aku bertepuk tangan". Kata Frans, tersenyum smrik.


"Frans,aku minta maaf soal itu. Secepatnya,aku kirim uang yang di pinjam darimu. Jumlah uang itu,tak seberapa bagiku". Herlin, seakan-akan merendahkan diri Frans. Memang saat ini, Frans tidak berpenampilan menarik. Baju kaos dan celana panjang, kulitnya yang putih berubah menjadi kulit sawo. Dia,memang tidak menampakkan wujud aslinya. Herlin,juga tidak tahu? siapa sebenarnya, Frans.

__ADS_1


__ADS_2