
"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa". Garrix, merasa malu karena lancang menyentuh tangan Jacqueline.
"Tidak apa,aku mengerti". Jacqueline, tersenyum manis.
"Karena penjebakan itu,kita tidak jadi menikah. Aku, benar-benar tidak menduga". Kekehnya Garrix,masih terlihat malu-malu.
"Tidak apa,aku memahaminya. Apa lagi,kita memiliki pasangan masing-masing. Aku harap,kamu mencintainya sepenuh hatimu". Jacqueline, menghembuskan nafas panjangnya dan Calingukan lihat-lihat sekililing.
"Aku sudah, memperlihatkan foto-foto yang kamu kirim. Salah satu, dari foto itu. Bukan, wanita yang di temui oleh istriku. Sepertinya,bukan Laura dalangnya". Garrix, bersandar pada kursinya.
"Bisa jadi, suruhan Laura dan orang lain melakukannya. Kita tidak bisa gegabah,apa lagi orang itu masih memiliki video panasmu". Kata Jacqueline, menyunggingkan senyumnya.
"Masa,iya. Kita diam-diam, tidak melakukan apapun. Kata V, serahkan semua kepada-nya. Apa dia, benar-benar menyelidiki kasus ini". Garrix,nampak tak percaya dengan ucapan V.
"Mau apa,lagi. Kita, serahkan kepada kak V. Apa lagi,V akhir-akhir ini sering malas-malasan. Bahkan,dia sering ketiduran di kantor". Gerutu Jacqueline, dengan santainya.
"Baiklah,aku akan bertindak langsung". Tegas Garrix, sebenarnya dia geram kepada pelaku itu.
"Jangan gegabah,kamu mau. Reputasi dan anggota kepolisian akan di cabut. Sama saja,kamu melakukan kesalahan besar. Jangan deh, nanti aku bicarakan dengan kak V. Tunggulah,kabar dariku". Jacqueline, langsung mencegah Garrix.
"Ngomong-ngomong,kamu gemukan Jacqueline. Body mu, sangat bagus". Garrix, langsung memuji Jacqueline.
Tentu saj, Jacqueline malu-malu kucing. Dia, tersenyum sumringah. "Eee.. makasih, perasaan gak berubah-ubah kok". Kekehnya Jacqueline, menyelipkan rambut di telinganya.
Cukup lama mereka, berbincang hangat. Jacqueline, pamit pulang karena V mencarinya.
Saat di parkiran mobil, Jacqueline terkejut karena seseorang mencegahnya.
"Lama tidak, bertemu". Senyum smrik, terpampang di sudut bibir wanita di hadapannya.
"Laura! Senang sekali, melihat mu. Aku tidak menyangka,kau sehat kembali". Kata Jacqueline, dengan santainya.
"Bagaimana, rasanya menjadi seorang istri bernama V. Aku tidak menyangka, jika pernikahan itu terjadi. Kau tahu,aku tidak menyukai kebahagiaan kalian". Kata Laura, semakin mendekati Jacqueline.
"Aku, pergilah dulu. Maaf,aku tidak ingin membuang waktuku untuk berdebat dengan mu". Jacqueline, langsung meninggalkan Laura.
Walaupun Laura, berdecak kesal dan memanggil Jacqueline.
**************
Sedangkan Melda, langsung pergi ke perusahaan Fernandez. Karena dia, harus berurusan dengan Frans.
__ADS_1
Sesampai, di ruang kerja Frans. Melda, langsung mendekati dengan tatapan tajam. Dia, tidak sabar meluapkan emosinya.
Akan tetapi, Frans seakan-akan tidak memperdulikan kedatangan Melda.
Dengan hati kesal, Melda langsung merampas dokumen di tangan Frans. " Ck,jangan sok tidak tahu? Apa kedatangan,ku".
Frans, menatap lekat ke arah Melda. Tanpa, sepatah kata pun.
"Frans,kenapa kamu tiba-tiba mengatur ku ha? Aku tahu,kenapa temanku berubah pikiran. Karena kamu, sudah mengancamnya kan". Ucap Melda, dengan tegas.
Melda,tak habis pikir dengan temannya. Tiba-tiba saja, temannya tidak mau memperkerjakan Melda di perusahaannya. Karena takut, berhadapan dengan perusahaan Fernandez. Siapa lagi,kalau bukan Frans.
"Sudah aku,bilang. Jangan bekerja, di perusahaan manapun". Kata Frans, tersenyum smrik.
"Oke, terserahlah". Melda, langsung duduk di sofa dengan wajah Cemberut.
Frans, mengambil setumpuk dokumen dan memberikan kepada Melda. "Pelajari berkas-berkas,ini. Jika tidak paham, tanyakan pada ku".
Melda,hanya menelan ludahnya. Saat memandang, tumpukan berkas-berkas di hadapannya. Ingi sekali,dia berteriak sekuatnya. Namun,dia sadar bahwa tidak ada gunanya. Apa lagi, memaki-maki Frans. Sama saja,dia memaki-maki batu yang tidak bernyawa.
**********
"Sejak kapan,V suka dengan rujak buah-buahan. Mana,asem sekali". Bisik Sarah, melihat V sangat menikmati rujak buahnya.
"Gak tau, tumben-tumbenan mah. Bahkan,dia mandi lama banget. Kaya wanitanya,aja". Bisik Jacqueline,juga.
"Hemmm..segar,enak. masa,mamah dan Jacqueline tidak suka sih? Enak,tau". Kekehnya V,dia sudah menghabiskan rujak buahnya.
"Enaknya, rebahan terus bobo lagi". V, beranjak pergi ke atas.
"Kenapa,V malas-malasan nak". Sarah,nampak heran melihat kelakuan anaknya.
"Aku, juga bingung mah". Sahut Jacqueline, mengangkat kedua bahunya. "Aku,susul V ke atas dulu". pamit Jacqueline,kepada ibu mertuanya.
Jacqueline, menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar. Memang benar,V sudah berbaring di atas ranjang.
"Kak V,bangun...!! jangan tidur terus". Jacqueline, menggoyangkan lengan Suaminya.
"Tidurlah, sayang. Aku, sangat mengantuk sekali". Kata V,masih memejamkan matanya.
"Aku,tadi bertemu dengan Laura". Jacqueline, memberitahu bahwa dirinya bertemu dengan wanita itu.
__ADS_1
Sontak membuat V, langsung terduduk. "Ha..! Kamu, serius sayang. Terus,dia gak ngapa-ngapain kamukan". V, langsung khawatir dengan istrinya.
"Aku, tidak apa-apa. sepertinya,dia membenciku. Ada sorotan mata, tajam. Kemungkinan,dia sedang mencari rencana untuk balas dendam". Jawab Jacqueline, tersenyum.
"Beberapa kali,Laura mengajakku bertemu di restoran. Tapi,aku selalu menolaknya. Untuk apa,aku bertemu dengannya. Tidak penting, takutnya dia merencanakan sesuatu". V, memeluk erat tubuh istrinya.
"Kak,apa masih menyelediki kasus penjebakan Garrix? Dia, menanyakan hal itu. Jika tidak,dia ingin menyelidikinya sendiri". Ucap Jacqueline, mengelus dada bidang suaminya.
V,hanya menghembuskan nafas beratnya. "Jangan memikirkan hal itu,kita tidur. Aku, sangat mengantuk". V, membaringkan tubuh Jacqueline. Apa yang, ingin di lakukan Laura? Sepertinya,aku harus waspada. Apa lagi, Jacqueline.
Jacqueline,hanya pasrah dan di peluk oleh orang yang di cintainya. Tiba saja,rasa kantuknya datang.
***********
"Hoaaammm.... Astaga, jam berapa ini? Kok,gelap sudah". Melda, gelabakan melihat sekeliling ruangan. Hanya di Sinari cahaya lampu,di melihat di balik kaca. Hari sudah, gelap gulita. Matanya, tertuju pada jam dinding. Waktu menunjukkan pukul, tujuh malam.
Melda,masih memandang ke arah Frans. Ternyata,dia masih bekerja dan lembur. Tetapi, Melda malah ketiduran dan terasa pusing memikirkan berkas-berkas yang di pelajari nya.
"Maaf,aku ketiduran". kata Melda, membenarkan pakaiannya.
"Sudah, bangun. Ayo,kita pulang". Frans, beranjak berdiri dan melepaskan kacamatanya.
"Jujur,kau sangat tampan dan menggemaskan. Saat, mengenakan kacamata". Melda, langsung mendekati Frans.
"Jangan mulai,mau aku perkosa kamu di sini". Ancam Frans,melongos melewati Melda.
"Ck,ancamannya sangat tidak menyenangkan". Gerutu Melda, mengambil tasnya dan mengikuti langkah kaki Frans. Mereka berdua, keluar dari ruang kerja.
Melda, terus berjalan berdampingan dengan Frans. Sesekali,dia melirik ke arah Frans. "Sebelum pulang,kita makan yah". Rengeknya Melda, tersenyum.
Mereka berdua,masuk ke dalam lift. "Frans,jawab aku". Cicit Melda, dengan bibir mengerucut ke depan.
"Hemmm...". Jawab Frans, hanya berdehem. Masih saja,dia bersikap dingin kepada Melda.
"Tapi,kamu yang traktir makan malam kita". Kata Melda, mengerjapkan bola matanya.
"Hemmm...". Lagi-lagi,hanya deheman Frans menjawabnya. Membuat Melda, sedikit kesal.
"Menyebalkan,". Gerutu Melda, langsung mendahului Frans. Dia,juga setengah berlari. Kebetulan ada taksi, yang lewat di depannya. Melda, langsung masuk dan meninggalkan Frans.
Frans,hanya menghela nafas beratnya dan menggelengkan kepala. Sifat Melda, seperti kekanakan sekali.
__ADS_1