
Melda, merenggangkan kedua tangannya. Menghirup udara segar, pemandangan begitu indah. Kakinya berjuntai dan membiarkan terkena air. Sungai yang luas dan terlihat berbatuan. Di tambah lagi,airnya sangat jernih dan air terjun sangat tinggi.
Sagara, mengambil beberapa gambar di bawah air terjun dan sungai.
"Sangat indah,air terjunnya". Gumam Melda, matanya terus memandanginya air terjun.
"Mel,mandi yuk! Enak loh, airnya dingin dan jernih lagi". Ajak Sagara, sudah bertelanjang dada.
Alvin,masih sibuk memotret keindahan air terjun. Dia, mengarahkan kameranya ke Melda.
Membuat Melda, berpose sangat cantik. "Vin,fotoin aku di situ". Pintanya, menunjukkan jarinya ke arah batu besar.
"Yakin? Kamu,harus naik loh. Takutnya,kamu kenapa-kenapa". Alvin, sempat meragukan keinginan Melda.
"Gak papa,aku bisa kok". Melda,menaiki berbatuan menuju batu besar. Berhati-hati,jangan sampai jatuh.
Alvin, sempat mengkhawatirkan keadaan Melda. Namun Melda, bersikukuh untuk menggapai keinginannya.
"Aaakkkhh...."Melda, berteriak keras. Dia, terpeleset di bebatuan dan jatuh terguling.
"Meldaaaaaa....". Ucap bersamaan, mereka. Saat melihat, Melda terjatuh. Alvin, terkejut dan tidak bisa menyelamatkannya.
"Hikksss.... Hikksss.... Sakiiitttt....". Melda, meringis kakinya berdarah dan bengkak. Ada goresan kecil,di lengan dan kakinya.
Mereka semua, langsung menghampiri Melda yang terduduk lemas di bebatuan.
"Mel, sini aku gendong kamu". Sagara, langsung sigap menggendong Melda.
Kejadian tersebut, membuat yang lainnya juga pulang ke villa. Awalnya, selesai pemotretan melanjutkan acara mandi bersama-sama. Namun, rencananya gagal total. Karena Melda,harus di bawa ker rumah sakit. Lumayan tinggi,Melda terguling-guling di babatuan. Kepalanya,juga berdarah-darah terbentur batu.
************
"Maafin aku, semuanya gagal". Kata Melda, dengan wajah sedih.
Karena, musibah yang dialaminya. Semuanya,jadi hancur berantakan. Alvi dan Sagara, mengantar Melda ke rumah sakit. Sedangkan tim lainnya, menyiapkan barang-barang untuk pulang saja.
"Tidak apa,aku yang salah. Membiarkan,naik ke atas tadi". Kata Alvin, sambil menyetir mobilnya.
Sagara, membersihkan luka-luka kecil dan darah segar.
"Maaf,aku tadi lengah sedikit tadi". Lirih Sagara, merapikan rambut panjang Melda.
__ADS_1
"Aku yang salah,kok. Seharusnya, menuruti perkataan Alvin. Sekarang,kita malah pulang dan gagal sudah". Kata Melda,air matanya sedari tadi mengalir terus-menerus.
"lihatlah,kaki Melda cederanya terlalu parah. Kemungkinan,kamu tidak bisa berjalan dalam jangka beberapa hari". Kata Sagara, memperlihatkan kaki Melda membiru dan keluar darah.
"Terus,gimana pekerjaan ku? Apa,kamu memecat ku". Tanya Melda, buliran air matanya mengalir deras.
"Astaga, jangan menangis Melda. Cup... Cup....kamu istirahat dulu,kalau sudah sembuh total. Baru bole bekerja lagi,kalau di ijinkan oleh keluarga Fernandez ". Sagara, menghapus air mata Melda.
"Huaaaa....kamu tega,aku seperti ini. Di tambah kehilangan pekerjaan, Sakiiitttt.... Auuuukk.... Sshhhttt...". Melda, meringis kesakitan. Saat kakinya,di gerakkan sedikit.
"Benarkan,kakimu parah Mel. Kamu fokus dulu,dalam penyembuhan". Sagara, membujuk Melda.
"Benar, Melda. Jangan membuat kamu khawatir,bisa saja. Kami berdua,kena omel sama Jacqueline. Pasti itu,dia bilang kami tidak becus menjaga sahabatnya". Ucap Alvin, membuat Melda merasa kasian.
Sesampai di rumah sakit, Melda di bawa oleh dokter dan masuk ke ruang IGD.
Sagara dan Alvin,duduk di bangku tunggu dan tak lupa menghubungi Jacqueline.
"Siap-siap, kena ceramah Jacqueline". Gumam Sagara,masih terdengar oleh Alvin.
"Yah...Gimana lagi, sudah takdir". Alvin,hanya pasrah saja.
Mereka berdua,masih setia menunggu Melda yang sudah lama jadi temannya.
Sagara dan Alvin, bergidik ngeri dan susah payah meneguk air liurnya.
"Dimana, Melda? Benar-benar, tidak becus menjaganya". Kata Sarah, yang baru datang. Sagara dan Alvin, menunduk kepala tak berani menatap.
"Gimana,sih? Kalian ini, kenapa teledor sekali menjaga Melda. Beruntung sekali,hanya luka-luka lecet". Sambung Jacqueline,yang sudah berkacak pinggang." Gara-gara kalian, Melda seperti ini. Ck, tidak becus menjaga wanita".
V dan Frans,hanya diam dan mendengarkan ocehan seorang ibu mertua dan menantu.
Pintu ruang IGD terbuka dan memperlihatkan Melda berbaring di atas ranjang pasien.
"Melda,kamu gak papa". Jacqueline, sedari tadi mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.
"Jacqueline,mamah dan lainnya. Jangan salahkan Sagara dan Alvin, mereka tidak salah apapun. Yang salah aku,yang tidak menuruti perkataan mereka. Jadinya, seperti ini". Kata Melda, merasa kasian kepada Sagara dan Alvin. "Kalian pulang aja,yah. Jangan dengarkan, perkataan mamah Sarah dan Jacqueline".
"Tapi,kamu gak papa? Kami tinggalkan,sama saja aku tidak punya hati". Sagara, mengelus lembut rambut Melda.
"Tangan di jaga,jangan asal pegang". Sarah, langsung memukul lengan Sagara. Sontak membuat Sagara, terkejut dan kikuk.
__ADS_1
"Maaf, Tante. Bu-bukan begitu, maksudnya". Sagara, gelabakan karena tatapan mengerikan yang di berikan oleh Sarah.
"Ya sudah,kalian berdua pulang sana. Ada kami,yang menjaga Melda". Jacqueline, langsung mengusir dua pria itu. Tak lupa, Jacqueline sedikit mendorong tubuh mereka.
"Santai dong, Jacqueline. Kami, mengkhawatirkan keadaan Melda. Ya sudahlah,kami pulang dulu. Kalau ada apa-apa, hubungi kami". Ucap Alvin, tersenyum.
"Fokus dengan kesembuhan mu, jangan memikirkan pekerjaan dulu". Sagara, sesekali mencubit pipi Melda.
"Makasih, Sagara dan Alvin". Kata Melda, melambaikan tangan ke arah mereka.
Melda, langsung di bawa ke ruang VIP yang sudah di sediakan oleh Frans.
"Duhh...Kata dokter,kamu jangan berjalan dulu. karena kakinya, terlalu parah cederanya"
kata Sarah, menyuapkan sepotong apel untuk Melda.
"lihatlah, badanmu lecet-lecet begini. Makanya,jangan bandel. Di bilangin,malah ngelawan. Ini nih, karma yang kamu dapatkan". Jacqueline, bergidik ngeri melihat kondisi Melda.
"Ck, kebiasaan membantah". Sahut V,yang duduk santai di sofa.
"Maklum bos, namanya wanita". Sambung Frans, lagi.
"Kalian ini,sana pergilah. Jangan ke sini,bikin mood hancurrrr...". Sarah, mengusir V dan Frans.
"Jacqueline, pulanglah. Takutnya,cucu mamah rewel. Biar mamah,yang jaga Melda". Sarah, mengkhawatirkan cucunya bersama baby sitter.
"Tapi, Melda kasian mah. Di tinggal,". Jacqueline, merasa tidak nyaman meninggalkan Melda.
"Aku, sudah besar Jacqueline. Suster dan dokter,ada kok. Kalau aku, kenapa-kenapa". Kata Melda, tersenyum.
"Nyonya, silahkan pulang. Biar Frans,menjaga Melda di sini". Frans, langsung menawarkan dirinya sendiri.
"Mamah, biarkan mereka berdua. Anggap saja, memberikan waktu untuk berduaan". Bisik V, berharap sang ibu Paham.
Mendengar ucapan, anaknya. Sarah, langsung paham. Mendengar ucapan Frans. Melda, langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mamah,lupa sayang. Papah Irfan,mau minta temani mamah ke acara temannya. Maaf,mamah harus meninggalkan kamu. Tenang saja,ada Frans yang siaga menjaga". Kekehnya, Sarah beralasan.
"Tapi,kenapa harus Frans". Gerutu Melda, terpaksa harus menuruti kemauan Sarah.
Sarah,V dan Jacqueline. Mereka keluar dari ruang inap, Melda. Di dalam hanya berdua, dengan Frans.
__ADS_1
Melda, merasakan suasana yang aneh. Apa lagi, Frans mendekati Melda tersenyum smrik.