
"Apa,saya di pecat? Kok,bisa pak. Saya, tidak melakukan kesalahan". Kata Melda, dengan wajah masam. "Katakan,apa salah saya? Sampai-sampai,di pecat. Jangan bilang,karena Frans". Melda, menaruh rasa curiga kepada Frans. Dia,ingat kata-kata malam tadi.
"Nona Melda,kami tidak bisa melawan dari perkataan Frans. Silahkan, nona pergi". Pinta sang manager, mempersilahkan Melda pergi.
Melda, keluar dari ruangan tersebut dan menghentakkan kakinya. Dia, sangat kesal dengan Frans. Entah,apa maunya sih? Berani sekali, mengusik ketenangan ku. Aku, tidak akan menemui Frans. Lebih baik,cari kerjaan lagi. Memangnya,aku selemah itu apa. Batin Melda, dengan hati dongkol.
************
Kena angin apa, Melda menemui Alvin seorang fotografer profesional. Dia, menghempaskan bokong nya di sofa empuk.
Melda, menunggu Alvin tengah sibuk memotret Sagara.
Melihat kedatangan Melda, Alvin menghentikan pekerjaannya. "Tumben-tumbenan,ke sini. Ada masalah,kah? Lalu,mana Jacqueline". Tanya Alvin,duduk di samping Melda.
"Sayang sekali, Jacqueline berhenti menjadi seorang model". Sahut Sagara,membuka tutup botol air mineral dan meminumnya.
"Aku,butuh kerjaan. Baru di pecat,nih". Gerutu Melda, dengan tatapan sinis.
"Widihhhh.... Ternyata,kamu butuh pekerjaan juga. Aku kira, tidak perlu lagi. Situkan, banyak uang". Kekehnya Alvin, memainkan kedua alisnya.
"Yah...uangku,memang banyak. Cuman ongkang-ongkang doang,bete juga". Jawab Melda, tersenyum kecil.
"Jadi asisten pribadiku,mau gak? Pastilah,di gajih". Ucap Sagara, tersenyum sumringah.
Sagara, termasuk seorang model terkenal. Dari kalangan keluarga, terhormat.
"Eee... Asisten pribadimu,yang lama mana? Gak mungkin,kamu langsung merekrut asisten lagi". Tanya Melda, sebenarnya dia tidak masalah menjadi asisten pribadi Sagara.
"Dua hari yang lalu, sudah aku pecat. Gak suka, dengan pekerjaannya yang sangat lamban". Jawabnya, tersenyum kecil.
"Boleh deh, daripada aku nganggur gak karuan". Kekehnya Melda, membuat Sagara tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Memangnya, kamu bekerja apa? Sampai-sampai,di pecat segala. Jangan bilang,kamu melakukan kesalahan besar". Tanya Alvin, penasaran dengan Melda di pecat.
"Frans, sialan. Aku, bekerja di resepsionis hotel. Belum genap sebulan,dia langsung meminta aku di pecat. Gila sekali,kan". Gerutu Melda, dengan wajah masam.
Alvin dan Sagara,malah tertawa terbahak-bahak. "Hahahahha..... hahahhaa....".
"Maaf, Melda. Dari dulu, kalian itu tidak pernah akur. Mana mungkin, orang lain berani membantah perkataan Frans". Kata Sagara, menggeleng kepalanya.
"Frans, tidak main-main jika bercanda. Hahahaha...". Sahut Alvin,yang mendapatkan cubitan kecil di pangkal pahanya.
"Sialan,kalian berdua. Jadi, besok aku mulai kerja yah. Awas, bohongin aku. Siap-siap, mendapatkan pelajaran". Ancam Melda, tak main-main.
"Ngerii....Aku,ditindas Melda. Tenang saja,aku tidak berbohong. Apa lagi,kamu berpengalaman menjadi asisten seorang model. Tapi, bendanya aku laki-laki. Tidak seperti Jacqueline,". Kekehnya Sagara, tersenyum.
"Palingan hilaf, iya gak Sagara". Kata Alvin, mengedipkan matanya.
"Gak bakalan,hilaf. Sagara,mana berani dekat-dekat dengan wanita lain". Ejek Melda, sontak membuat Sagara geram.
"Wahh...Jangan mengejek ku, Melda. Diam-diam aku,bahaya lo". Delik mata Sagara, terlihat menyeringai Ke arah Melda.
Sagara, langsung menerima uluran tangannya dan mengangguk pelan.
Melda,merasa lebih baik sekarang. Sangat mudah, mendapatkan pekerjaan dan jauh lebih baik mungkin. Dia, sangat yakin bahwa Frans tengah menunggu dirinya.
Benar sekali, Frans tengah bersantai di kursi kebesarannya. Jam dinding terus berputar,namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Melda.
"Sialan,kemana Melda? Seharusnya,dia datang ke sini dan memaki-maki diriku. Sekarang, sudah jam berapa? Kemana dia". Gerutu Frans, tangannya mengotak-atik ponsel dan menghubungi seseorang.
Tok... Tok....Tok...
Seseorang orang mengetuk pintu ruang kerjanya. Ada senyuman kecil, di sudut bibir Frans. Kemungkinan, adalah Melda. "Masuk...". Ucap Frans,namun senyuman itu seketika memudar. Sesosok Rose,masuk ke dalam dan membawa dokumen di tangannya.
__ADS_1
Frans, bergidik geli melihat Rose berpakaian seksi dan kurang bahan. Dia, merasa risih melihatnya. Apa lagi, Rose tipe wanita terlalu dempet-dempet dengan pria mana pun.
Rose, melangkah kakinya dan menghampiri Frans. Dia, sengaja berdiri di samping Frans dan meletakkan dokumen. "Tolong, di tanda tangani". Pinta Rose, dengan suara lemah lembutnya.
"Baiklah,". Jawab Frans,dia cepat-cepat membaca sekilas dan menandatangani. Sedikitpun,dia tidak tergoda dengan Rose. Walaupun, sekertarisnya ini selalu mencuri perhatiannya.
"Frans,apa kamu lelah". Jari lentik Rose, meraba-raba pundak Frans dan memijit pelan.
"Pergilah,aku sibuk". Perintah Frans, dengan tegas. Rose, langsung mengambil dokumen tadi dan pergi. Hatinya terasa sakit, selalu di tolak mentah-mentah oleh Frans.
"Lambat laun,kau akan jadi milikku Frans. Lihat saja nanti,kau juga akan bertekuk lutut kepadaku". Gumam Rose,di balik pintu ruang kerja Frans.
**********
"Baguslah,kamu sudah mendapatkan pekerjaan baru. Aku, dengar-dengar sih. Frans, mengeluh karena Rose selalu berpakaian seksi dan kurang bahan. Jadi,dia merasa risih katanya. Berharap,kamu balik lagi kerja di perusahaan". Kata Jacqueline,dia merasa senang. Karena Melda, mendapatkan pekerjaan yang pas untuknya.
"Tapi, kamu jangan bilang-bilang sana siapa. Termasuk,kak V yah. Biasanya,kak V ember juga mulutnya". Kata Melda, langsung di angguki oleh Jacqueline.
"Tenang saja,aku akan merahasiakan semuanya. Sebenarnya,aku bete juga. Tidak mengerjakan apapun, ingin terjun ke dunia model lagi. Tapi, sudah pasti kak V tidak mengijinkannya". Gerutu Jacqueline, dengan kesal.
"Yah... Sabar saja,jika aku menemukan jodohku. Kemungkinan,aku tidak bekerja lagi. Fokus, terhadap suami dan anak. Aaakkhh....Tapi, jodohku kemana yah? Masih belum keliatan sama sekali". kekehnya Melda, mencibir bibirnya.
"Ya sudah,aku ke kamar dulu. Takutnya, Jeno bangun. kak V, tidur kaya kebo. Mana tau,jika anaknya bangun duluan". Pamit Jacqueline,tak lupa menepuk pangkal paha Melda.
"Sialan, sakit tau". Melda, meringis kesakitan. Sudah pasti, pangkal pahanya memerah.
Cukup lama Melda,berada di dalam kamar dan menyiapkan segalanya untuk besok.
Dia, menuruni tangga dan menuju ke arah dapur. Perutnya sudah keroncongan, ingin di isi.
Di meja makan, sudah tersedia beberapa menu makanan lengkap. Melda,membuka setiap penutup saji. "Hemmm...Ayam bakar, sangat menggoda". Kekehnya Melda, mengambil nasi dan ayam bakar. Menu piringnya, terlihat sangat banyak. "Yahhh....Gagal diet,deh". Gumamnya, menyuapkan makanan pertama ke dalam mulut.
__ADS_1
Saat tengah asyik, menyantap makan malam. Terlihat Frans,menuju ke arah dapur. Entah,mengapa dia ke dapur? mau makan,atau membuat kopi. Bagi Melda,bodo amat dan tidak memperdulikan sesosok Frans.
Akan tetapi, Frans merasa kesal dengan sikap Melda. Nampak biasa-biasa saja,apa dia tidak marah di pecat dari pekerjaan gara-gara dia. Frans,tiba-tiba merindukan omelan Melda. Matanya, menatap ke arah Melda menikmati makan malamnya.