
Hari demi hari, berlalu. Melda,mulai senang dengan pekerjaannya. Tidak lagi,mengeluh tak jelas.
Yang membuatnya di kejutkan, adalah kedatangan Frans. Baru dua minggu,dia datang. Bukankah,dia libur selama satu bulan? Kenapa, secepat itu datangnya? Melda, berusaha menghindari setiap berselisih dengan Frans.
Melda,duduk di samping Jacqueline. Dia, sudah berisap-siap untuk pergi bekerja.
"Tumben-tumbenan, akhir-akhir ini. Kamu, sering jaga malam. Biasanya tidak,apa ada sesuatu". Tanya Jacqueline, semenjak kedatangan Frans. Melda,sering menjaga malam.
"Gak papa,biar bisa tidur di sana". Jawab Melda,jika jam kerjanya habis. Melda,malah tidur di hotel dan pulang ke mansion sekedar mandi dan berganti pakaian. Dia, berniat untuk menghindari Frans.
"Apa karena , Frans? Kamu,jadi seperti ini. Ayolah, jangan menghindar Melda. Semakin kamu, menghindarinya. Maka, semakin dalam cintamu". Kekehnya Jacqueline, tersenyum.
"Hemmm...Aku, berangkat dulu". Pamit Melda,saat mendengar suara V dan Frans yang mendekati ruang tamu.
"Ingat, jangan tidur di hotel terus. Pulang kata mamah,". Teriak Jacqueline, memperingati sahabatnya itu.
Melda,hanya melambaikan tangannya. Berarti, dia mengabaikan perintah Jacqueline.
"Ada apa,sayang? Apa, Melda melakukan kesalahan". Tanya V,duduk di samping Jacqueline.
"Melda,berapa hari ini. Dia,malah suka jaga malam di hotel dan tidur juga di hotel. Pulang palingan,ganti baju dan mandi. Setelahnya, berangkat kerja lagi. Mamah,sering khawatir dengan Melda ". Jawab Jacqueline, langsung.
"Melda, bisa jaga diri. Aku dan Frans,mau berangkat kerja. Ada urusan penting,mendadak. Gak papa,aku tinggal kan". V, mengelus lembut rambut istrinya.
"Hemmm... Pergilah ". Jacqueline, mengijinkan suaminya bekerja.
Frans,juga kembali beraktivitas seperti biasa. Dia,hanya diam dan memikirkan sesuatu.
Di sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan semata.
V,mulai melonggarkan dasinya dan mengajak Frans berbicara. "Bagaimana, Herlin dan Samir? Saat mengetahui,siapa kau sebenarnya? Aku yakin, mereka pasti malu".
"Hmmmm...Herlin dan Samir, meminta maaf kepada ku. Aku, tidak menyangka jika Luis mengajak ke pesta ulangtahun pamannya. Ternyata,ayah Samir. memang benar, aku berniat untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Di sisi lain,aku sudah berpikir panjang. Untuk apa,aku menganggu ketenangan mereka. Sama saja,aku masih mengharapkan cinta Herlin". Kata Frans, sambil menyetir mobilnya
__ADS_1
"Kau,benar Frans. Lebih baik, ikhlaskan saja. Wanita lain,masih banyak kok". Kekehnya V, tersenyum. "Jika kamu,mengusik rumah tangga mereka. Sama saja,kamu tidak ikhlas kehilangan sesosok Herlin. Sudah pasti, mereka berdua semakin membuat mu kepanasan karena cemburu. Jangan sampai iri hati, menguasai dirimu". Nasehat V, langsung di angguki Frans.
"Lalu, bagaimana kinerja Rose? Apa,dia sudah handal dalam pekerjaannya". Tanya Frans,hari ini pertama kali bertemu dengan sekertaris pengganti Melda itu.
"Hemmm... Pekerjaannya, sangat bagus. Dia,masih jomblo". Kata V, menoleh ke arah Frans.
"Aissss.... Godaan, teruussss". Gerutu Frans, menghembuskan nafas beratnya.
***********
Malam harinya, Melda makan malam bersama Orion.
"Kenapa, wajahmu kusut sekali? Bahkan,menjaga resepsionis hotel sampai malam. Apa ada sesuatu, Melda? Tolong, beritahu aku". Orion, menggenggam erat tangan Melda.
Melda,hanya menghela nafas dan mengangguk kepala. "Cuman capek,".
"Istirahatlah,jangan bekerja lagi. Kasian aku, melihat mu". Orion, mengelus-elus punggung tangan Melda. Seakan-akan, mereka memiliki hubungan spesial. Tetapi, mereka hanya sebatas teman dekat.
"Widihhhh... Sombong, gak kaya aku. Gak kerja,gak makan". Kekehnya Orion,malah cengengesan.
"Hehehehe...Cuman bercanda kok,jangan di bawa pulang". Sahut Melda, tersenyum manis. Beruntung sekali, mengenal Orion karena hari-harinya semakin cerah.
"Hari ini,aku yang traktir. Maklum, barusan gajihan". Kata Orion, tersenyum.
"Masa, biasanya kamu juga yang traktir aku. Walaupun, gak gajihan". Delik mata Melda, tersenyum kecil.
"Eee... Iyakahhh...Ya sudah, kapan-kapan kamu yang traktir aku". Kata Orion, menikmati makan malamnya.
Melda, langsung mengangguk dan melanjutkan acara makannya.
Selesai makan bersama, Melda pamit untuk kembali bekerja.
Orion juga, pamit karena tugas malamnya di pos.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul, sepuluh malam. Keadaan hotel, mulai sepi dan temannya masih kembali juga. "lama-kelamaan, hotelnya serem juga yah". Melda, bergidik ngeri dan calingukan lihat-lihat sekililing. "Kemana lagi,si Yuniar gak balik-balik. Mana hawanya dingin,tumben sekali".
Melda, duduk di kursi sambil bermain ponsel. Dia, tidak menyadari kedatangan Frans.
"Ayo, pulang". Ucap Frans,sontak membuat Melda hampir jantungan.
"Aaakkhh..Sialan, kau Frans. Hampir saja, jantungku copot". Melda,terpekik mendengar suara Frans.
"Ck,apa tidak mendengar langkah kaki ku ha? Se fokus itukah, dengan ponselmu. Jangan sampai, manager hotel mengetahui jika kamu lalai. Siap-siap saja,kamu di pecat dari sini". Ejek Frans, menyunggingkan senyumnya.
"Kamunya aja,gak jelas. Aku yakin,kamu berhati-hati kan berjalan dan tidak bersuara. Katakan, ngapain kamu sini? Mau pesan hotel,mau tidur di sini". Tanya Melda, dengan tatapan tajam.
"Yang sopan,aku ini tamu. Jangan sampai, kamu ketahuan oleh manager hotel ini. Kemungkinan, aku bisa mengeluh karena kamu tidak ada lembut-lembutnya terhadap tamu". Ancam Frans,sontak membuat Melda gelabakan jadinya.
"Maaf,Tuan Frans. Apa yang bisa,di bantu? Apakah,anda ingin memesan kamar hotel. Kami memiliki tiga kamar kosong,di lantai dua dan tiga". Melda, langsung berubah ekspresi wajahnya. Dalam hatinya, memaki-maki Frans.
"Ngapain,aku memesan kamar hotel? aku, kesini untuk mengajak kamu pulang". Jawab Frans,tak memperdulikan sekesal apa Melda.
"Sialan,kau Frans. Sana, pulang saja kamu sendiri". Melda, sudah terpancing emosi. "Tak perlu, mengajak ku pulang. Karena aku, sedang bekerja bukan ke klub malam".
"Mau pulang secara baik-baik,atau aku seret". Ancam Frans,lagi. Melda, mengepalkan tangannya dan menggeretakkan giginya dengan keras.
"Tidak mau,aku sedang bekerja Frans. Paham tidak,atau telingamu tuli ha". Bentak Melda, langsung.
"Baiklah,aku akan pulang. Lihatlah besok,apa yang terjadi ". seringai tajam Frans, meninggalkan Melda.
"maksudnya,apa? Ada apa, dengan besok". Gumam Melda, langsung menyusul Frans yang baru beberapa langkah darinya.
"Frans, berhenti dan jelaskan semuanya. Apa, maksud dari perkataan mu ha? Jangan macam-macam,kamu". Melda, menunjukkan jarinya ke wajah Frans.
"karena mulai besok,kamu akan di pecat dari hotel ini. Sebab,kamu tidak sopan santun dalam melayani tamu". Jawab Frans, menjelaskan kepada Melda.
Melda, terperangah mendengar ucapan Frans. "Frans,bisa tidak jangan menganggu ketenangan ku ha? Aku,lemah lembut dan sopan santun dalam melayani tamu. Tapi,jika berhadapan dengan mu. Oh,jelas beda sifatku". Melda, menatap tajam ke arah Frans. Dia, sangat kecewa dengan sikapnya
__ADS_1