BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Kesakitan


__ADS_3

"E'ehmmm.... Jacqueline,aku bingung sebenarnya. Lauri itu, simpanan Kak V atau Frans". Kata Melda, mendelik ke arah Frans. Hahahaha....Hari ini,kalian berdua siap-siap untuk menerima hukuman dari Jacqueline.


"Jangan bilang, Lauri milik mereka berdua. Secara, simpanan dan bergantian". Sahut Jacqueline, tersenyum smrik. Kurang ajar sekali, istri tengah hamil. Sedangkan dia,sok peduli dengan wanita itu. Ck, wanita ular yang licik dan berbisa.


"Kalian bicara apa,sih? Simpanan-simpanan,gak jelas". Gerutu V, menyembunyikan sesuatu dalam dirinya. Darimana, mereka tahu? Apa, ada seseorang yang membongkar rahasia kami. Sial, siapa orang itu? Apa, Garrix atau mereka berdua mengikuti kami. Aaakkhh.... Tidak, mungkin sekali.


"Iya, jangan asal menuduh segala. Harus,ada bukti lah". Sahut Frans, calingukan melihat sekeliling. sepertinya, Frans membuang rasa gelisahnya. Bagaimana,ini? Sekarang, benar-benar bahaya besar. Darimana,nona Jacqueline dan Melda tahu? Apa,ada seseorang mengikuti kami. Tidak,itu tidak mungkin.


Jacqueline, mengeluarkan ponselnya dan memutar video. Dimana V dan Frans,bersama Lauri. Apa lagi,V merangkul pundak Lauri untuk menenangkan pikirannya. Sekarang,aku mengeluarkan bukti-bukti. nikmatilah, kegelisahan dan kepanikan kalian.batin Jacqueline, tersenyum manis.


Panas, dingin bercampur aduk yang di rasakan V. Begitu juga Frans, tidak bisa berkutik lagi. Keringat membasahi,kening mereka berdua.


Jacqueline dan Melda, menyeringai tajam ke arah dua pria di hadapannya. Rasakan,kalian berdua. Makanya,jangan main-main dengan wanita.batin Melda, tersenyum kecil.


"Bisa, kalian jelaskan?Oh, tidak perlu karena kami tahu. Tapi, kalian di bodohi oleh Lauri". Ucap Jacqueline, dengan tegas. Dia, memberikan buku diary Loeis. Jacqueline, langsung meletakkan tepat di hadapan mereka.


"Benar sekali,kalian berdua benar-benar sangat bodoh". Decak Melda, dengan santainya. Yah...bodoh sekali, walaupun berniat balas budi. Setidaknya,jangan keterlaluan juga. Sehingga, Lauri langsung mengambil kesempatan emas ini. Dia, memanfaatkan keadaan kakaknya. Lalu,memeras kak V dan Frans. Ck, sok berwajah polos. Batin Melda, selalu memikirkan masalah ini.


V dan Frans,saling menoleh satu sama lain. V, langsung mengambil buku diary dan membuka setiap lembarannya. Mereka berdua, sudah membacanya.


Ada sorotan mata, yang terkejut saat membaca setiap lembaran buku diary Loeis.


Jacqueline dan Melda, terlihat santai-santai saja. Lihatlah,apa mereka berdua terkejut? Atau,malah tidak mempercayai ucapan istrinya ini.batin Jacqueline, menatap ke arah mereka.


"kurang ajar sekali,jika Lauri melakukan hal ini? Demi uang,dia mengorbankan kakaknya". Decak V, menghempaskan buku diary Loeis ke meja.


"sepertinya, dia memanfaatkan kita bos. Jangan sampai,kita membiarkan dia lolos. Tapi,dimana kalian menemukan buku ini". Tanya Frans, penasaran.


Melda, langsung menceritakan semuanya. Tentu saja,V dan Frans bertambah gelisah dan kepanikan. Apa lagi, senyuman Jacqueline sangat menakutkan.

__ADS_1


"Sayang....".


"Cukup..!! Ck, ternyata kamu suka berbohong dan menyembunyikan sesuatu. Menyebalkan sekali,puas dengan hasilnya ha? Lihatlah, Lauri benar-benar mempermainkan kalian". Jacqueline, langsung memotong perkataan Suaminya.


"Nona....".


"Hussssttttt...Diam, Frans. Kau, juga terlibat dalam masalah ini" Melda, langsung memotong perkataan Frans dan menunjukkan jarinya ke arah Frans.


"Sayang, aku salah. Aku, minta maaf". V, langsung bersimpuh di hadapan Jacqueline. Tangan V, langsung mengelus-elus perut istrinya.


Jacqueline,hanya memalingkan wajahnya dan menepis tangan suaminya. "Tidak,mau. Sana, pergilah dengan selingkuhan mu itu".


"Sayang,aku dan Lauri tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku,hanya balas budi. Itu saja sayang, plissss...". V, memasang wajah sedihnya.


"Nona, maafkan kami. Bukan maksudnya,kami menyimpan masalahnya ini". Frans,juga ikut-ikutan memohon ampun kepada Jacqueline. Waduhhh.... benar-benar gawat,nona sudah marah besar. Sepertinya,bos terlambat untuk menjelaskan tentang ini. Siap-siap,kena tendang kita bos. Belum lagi, berhadapan dengan Nyonya dan Tuan. Aaaakkhh....Kenapa,aku kena imbasnya juga.


"Iiissshhh....kalian berdua, menyingkir lah dari hadapan ku". Jacqueline, tak habis pikir dengan kelakuan mereka berdua.


"Nona Jacqueline, maafkan kami.... sebentar, ponselku berdering ". Frans, langsung bangkit dan mengangkat telpon dari seseorang.


"Halo....Apa...?baik,kami akan ke sana. Yah... segera, mungkin ". Ucap Frans, terlihat panik.


"Ada apa, Frans? Apa, terjadi sesuatu". Tanya Melda, penasaran. Dari,siapa? Frans, seperti kepanikan. Jangan-jangan, dari wanita menyebalkan itu lagi.


"Bos, Loeis masuk ke rumah sakit. Ada seseorang,yang ingin mencelakainya. Lauri, sudah membawanya ke rumah sakit". Kata Frans, memberitahu kepada V. "Secepatnya,kita ke sana. Dia, menyuruh kita menyusul".


"Apa...? Ayo,kita ke rumah sakit sekarang ". V, langsung melangkah kakinya untuk pergi.


"Keluar dari mansion,akan aku beritahu kepada papah dan mamah". Ancam Jacqueline, seketika V menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Mungkin saja,itu hanya akal-akalan Lauri. Karena dia, merencanakan sesuatu yang licik". Sambung Melda,juga.


"Ini nyawa orang,kalian berdua jangan egois". Bantah V, dengan tatapan tajam.


"Oh, pergilah sana. Pasti taukan,apa yang aku lakukan kepadamu kak V. Ingatlah,aku ini istrimu yang tengah hamil. Setega itu,kamu meninggalkan ku demi wanita lain ha". Ucap Jacqueline, dengan kesal.


"Palingan, Lauri akting lagi. Lalu,kalian berdua bersimpati dan memeluknya lalu menghapus air matanya". Kata Melda, ikut-ikutan mengompori.


"Astaga, Jacqueline jangan egois. Plissss...Bisa tidak,ha? Aku, hanya balas budi". Ucap V, sedikit membentak keras.


"Silahkan, pergi sana". Kata Jacqueline, tersenyum smrik. "Jangan marah,jika aku balas Budi dengan pria yang sudah menolongku waktu itu". Ancamnya, Jacqueline.


"Bos,aku saja yang pergi. Anda, tidak perlu". Kata Frans,karena ancaman Jacqueline tidak main-main.


"Tidak perlu,kita pergi saja. Aku,malas meladeninya yang bersifat kekanakan". V, langsung membalikkan badannya.


Jacqueline, mengepalkan kedua tangannya. Air matanya,lolos sudah. "Ck, jangan pernah masuk ke dalam kamar. Awas kamu, Aarav Fernandez. Satu lagi,aku tidak butuh dirimu saat aku melahirkan anak ini. Jangan salahkan aku,minta temani dengan pria lain. Ingatlah, ancaman ku ini". Teriak Jacqueline, dengan keras. Akan tetapi,V tidak menanggapi ucapan dari istrinya itu. Dia, terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.


"Sudahlah,tenangkan diri mu. Apa lagi, tengah mengandung anak". Melda, mengkhawatirkan keadaan Jacqueline.


Kenapa, perutku sakit. Astaga, sakit sekali. Batin Jacqueline, merasakan sakit luar biasa.


"Aaaakkhh..... Sssshhhttt... perutku, sakkiiiiiit.... Aaakkhh...". Jacqueline, merasakan perutnya sangat sakit.


"Astaga, Jacqueline. Toloooong.... Tolooong...". Melda, berteriak meminta tolong. Jacqueline,kenapa sakit perut? Tidak,jangan sampai kenapa-kenapa bayinya.


Para pelayan langsung,panik karena Jacqueline tengah kesakitan. Tubuh Jacqueline, langsung melemah. Matanya,mulai buram. Saat tubuhnya,di angkat dan di masukan ke dalam mobil.


Melda, meminta pelayan untuk menghubungi Sarah dan Irfan. Agar secepatnya, menyusul mereka di rumah sakit.

__ADS_1


"Jacqueline, bangun... Jacqueline,bangun". Melda, mencoba membangun Jacqueline yang tidak sadarkan diri. Ya Tuhan,jangan sampai Jacqueline dan anaknya. Sampai, kenapa-kenapa. Aku, mohon jangan terjadi sesuatu.


"Halo,kak V...Hiks...Hikss... Jacqueline,kak V. Dia, tidak sadarkan diri dan merasakan kesakitan" Melda, langsung menghubungi V.


__ADS_2