BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Kebahagiaan


__ADS_3

"Lalu,apa maksudnya dengan benda itu? Jadi, tambah bingung". V, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Lihatlah,ada garis dua. Berarti, positif hamil. Jika garis satu, berarti negatif. Kesimpulannya, kakak ipar tengah hamil". Ucap Jay, tersenyum. Astaga,dari tadi dia tidak mengetahui? jika istrinya,tengah mengandung.


V, menoleh ke arah Frans. Dia,menaruh curiga kepada Jay. "Darimana,kamu tahu? Jika istriku,hamil. Benda ini, bagaimana caranya mengetahui jika istriku hamil ha? Ck, bilang saja kamu ingin mengerjai ku kan". Aku yakin, dia hanya mengada-ada dan ingin membalas dendam kepadaku.


"Jangan macam-macam, keluarga Fernandez ini". Ancam, Frans. Jangan bilang,dia dokter gadungan. Bakalan, habis di tanganku.


"Aaarghhh...kalian berdua, membuatku pusing. Benda ini,di celupkan ke urine. Lalu, tunggu beberapa menit dan hasilnya ketahuan". Jay, benar-benar di buat kesal. "Jangan bilang,gak tahu. Apa itu, urine". Nah, sampai tidak tahu? Fiksss...kalian,beban di keluarga Fernandez. Aneh,kenapa Om Irfan dan Tante Sarah mempunyai anak se o'on ini.


"Tau,air kencing". Sahut bersamaan, dua pria di hadapan Jay. Tetap, berwajah datar. Jay, tersenyum dan merasa lega.


"Nah,kakak ipar mengambil urine dan menaruhnya ke dalam wadah. Lalu,benda ini di celupkan. Tapi, tidak semuanya. Lihatlah,ini ada batasnya". Jay, memberitahu kepada dua pria sok polos ini.


Komat-kamit Jay, menjelaskan semuanya. Masih saja, manggut-manggut mendengarnya. Entah, mereka paham atau tidaknya. Yang penting, Jay sudah berusaha semaksimal mungkin menjelaskannya.


"Jay,aku mencurigai mu". Delik mata,V begitu tajam. Sialan,kau membuatku emosi Jay.


Jay,hanya mengusap wajahnya dengan kasar. Siap-siap dia, pasti akan diintrogasi lagi. "Apa, jangan macam-macam". Nah,apa lagi ini? Jangan membuat nyawaku,di ujung tanduk.


"Kok, kamu tahu? Jika istriku, mengambil urine lalu menaruhnya di wadah. Jangan-jangan,kamu mengintip istriku ha". Ucap V, dengan tegas. Frans, langsung mencekram kerah baju Jay.


"Eeee... Bu-bukan begitu, setiap wanita melakukan hal itu. Ada, pelajaran dan kami para dokter mengetahui semuanya". Jay, langsung ketakutan dan terpojokkan. Apa lagi, Frans siap melayangkan bogem mentahnya.


"Ingatlah,jika kamu berbohong Jay". Ancam, V sorot matanya menyeringai tajam.


"Pergilah,aku sudah menjelaskan semuanya. Kakak ipar hamil,dia ingin memberitahu mu tentang ini. Makanya,dia memberikan kado spesial. Kamunya aja,jadi suami bodoh sekali. Masalah begituan, tidak tahu. Kau,juga sama Frans". Kata Jay, tersenyum smrik.


"Brengseeekk.....". Gumam Frans, mengepalkan kedua tangannya.


"Benarkah, lihatlah Frans. Aku,akan menjadi seorang ayah. Ingatlah, jangan membohongi kebahagiaan ku ini". Ancam V, langsung meninggalkan ruangan Jay.


Jay, langsung bernafas lega. Keringat membasahi keningnya, akhirnya terbebas dari dua makhluk hidup itu.


V dan Frans, bergegas pulang. Pertengahan perjalanan,V tak lupa membeli sebuket bunga dan buah-buahan.

__ADS_1


Bukan hanya itu,dia juga membeli rujak buah. Lumayan banyak, sepanjang perjalanan. V,hanya menyantap makanan baru di belinya.


Frans,hanya menelan ludah saja. Karena bos, tidak peka terhadapnya. Bos, tidak peka. Masa,aku hanya menelan ludah saja.Gerutu Frans,fokus menyetir mobil.


Sesampai di mansion,V langsung berlarian masuk ke dalam dan berteriak memanggil istrinya.


"Sayang,mamah,papah...!!! Jacqueline....sayangkuu....! Turunlah,aku sudah tidak sabar memelukmu". V, berlarian menaiki anak tangga dan menuju ke kamar.


Saat kamar terbuka lebar, tidak ada siapapun di dalam. "Sayang,kami dimana? Mamah,papah...kalian dimana,sayangku....". V, menuruni anak tangga lagi.


"Dasae,bucin". Gumam Frans, menggeleng kepalanya. Melihat sang bos, terlalu lebay.


V, calingukan mencari sekeliling mansion. Akan tetapi, tidak ada istrinya dan kedua orangtuanya. "Meldaaaaa.....Meldaaa..". V,mencari Melda.


"Bos, tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka". Frans,juga ikut mencari mereka. Namun, hasilnya nihil.


V, langsung menghubungi istrinya melalui telpon. Tak berselang lama, telponnya di angkat sang istri.


"Sayang,kamu dimana? Kenapa, tidak ada di mansion. Aku, sudah tahu! Apa, maksud dari kadomu". Ucap V, tersenyum sumringah.


"Sayang,kamu jalan-jalan kemana? Aku,susul yah. Pengen peluk dan cium kamu,aku benar-benar tidak percaya. Jika aku,akan menjadi seorang ayah. Beritahu aku, dimana keberadaan mu". Pinta V, dengan mata berkaca-kaca.


(Tunggu aku, pulang saja. Sebentar lagi,pulang kok. Dahh...)


Jacqueline, langsung memutuskan teleponnya.


"Sayang...Sayang, aaakkhh... Dimatiin lagi,". Gerutu V, terduduk lemas di sofa.


"Santai bos,ini cemilannya". Frans, menyodorkan rujak buah.


"Sialan, kenapa di makan punya ku. Uuuhhh...beli sana". V, sedikit menginjak kaki Frans.


"Dikit doang,jangan pelit lah. Kalau ada, orang pelit. Nanti, kuburannya sempit. Bos,mau". Tanya Frans,masih mencomot rujak buah bosnya.


"Sialan,gali lagi lah. Gitu aja,repot". V, memukul tangan Frans. Saat, tangannya mengambil sepotong buah miliknya.

__ADS_1


*************


Cukup lama V, mondar-mandir menunggu kedatangan istrinya. Tiba Jacqueline,di ambang pintu Mansion.


Senyuman sumringah, terpampang di bibir V. Dia, langsung berlarian dan memeluk erat tubuh istrinya. "Uummmahhh.... Uummmahhh....Ummaaah...". V, memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah sang istri.


"Iiiissshhh.... berhentilah,jangan seperti ini". Jacqueline, mencoba menghentikan suaminya. Yang selalu, memberikan ciuman bertubi-tubi.


"Maaf,aku sangat mencintaimu dan sangat bahagia. Untukmu,sayang". V, memberikan buket bunga mawar merah.


"Terimakasih, sayangku". Jacqueline, mencium bibir Suaminya.


"E'ehmmm.... ingatlah,ada kami di sini". Melda, langsung berdehem dan mereka hanya cengengesan.


"Ayo,kita duduk sayang". Sarah, langsung mengajak Jacqueline duduk di sofa. Tak lupa,V bergelut manja dengan suaminya.


"Sayang,aku marah kepada mu". Ucap V, menatap tajam ke arah Jacqueline.


Yang lainnya,hanya tercengang mendengar ucapan V. "Marah? Marah,kenapa juga. Seharusnya,aku yang marah kepada mu. Masalah benda, begituan gak tau". Gerutu Jacqueline,menepis tangan suaminya.


"Jangan bilang,kamu sudah lama mengetahui kehamilan ini". V, menahan dagu Jacqueline. Agar sang istri, menatap ke arahnya saja.


"Kami,tahu. Cuman kamu dan Frans, tidak tahu". Sahut Sarah, cekikikan.


"Aissss.... Jacqueline, setega itukah kamu. Aku, suamimu sayang. Seharusnya,aku yang lebih tau". V, menggenggam erat tangan Jacqueline.


"Sayangku,bukan maksud untuk tidak memberitahunya. Tapi,aku sudah merencanakan untuk memberikan kejutan kepada mu. Eeee... semuanya, ambyar deh. Kamunya, tidak tahu apa-apa benda itu". Kata Jacqueline, tersenyum dan membelai lembut pipi suaminya.


"Tetap saja,itu tidak adil". Gerutu V, bersandar di bahu istrinya. "Akhirnya, kecebong importku. Bersemi di dalam, perutmu sayang". V, mencium perut istrinya.


Sontak membuat Melda, terlihat iri dengan keromantisan mereka. Jacqueline,hanya cekikikan tertawa.


"Frans,ini adalah pelajaran untukmu. Biar kedepannya,peka jangan bodoh amat". Ucap Sarah,sontak membuat Frans cengengesan.


Sudah pasti,dia akan terkena getahnya. "Iya, Nyonya. Frans, tidak akan bodoh lagi". Jawab Frans, tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2