
"Apa..? Kau, serius kan". Tanya Jacqueline,dia syok mendengar cerita Melda.
"Hemm...kalau, tidak percaya dengan ucapan ku. Tanyakan saja,kepada Frans.Dia,yang menemani ku". Kata Melda, dengan wajah cemberut.
"Iya,aku percaya. Jangan ngambek,dong". Jacqueline,memeluk erat tubuh Melda. "Ngomong-ngomong,tau darimana? Huda, berselingkuh di atas pegunungan. Apa lagi,di kebun teh".
Melda, mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Jacqueline. "Dari Frans,dia memberitahu ku". Jawabnya.
"Haa..! Frans,tapi kenapa dia tiba-tiba memikirkan hal itu. Atau,dia tidak mau dirimu di sakiti oleh pria lain. Jangan-jangan, Frans diam-diam peduli dengan mu. Aku yakin,dia menyukai mu". Bisik Jacqueline, mengedipkan sebelah matanya.
"Hemmm...kau,jangan menggoda ku Jacqueline". Kata Melda, cengengesan.
"Iiissshhh... ngapain juga,dia melakukan hal itu. Emangnya, Frans kurang kerjaan. Pekerjaannya saja, menumpuk". Kekehnya Jacqueline, tersenyum.
"Sudahlah,aku bingung harus berbuat apa? Sudah pasti, orangtuanya Huda meminta kami baikan lagi. Aku,ogah banget". Gerutu Melda.
Tok...Tok...Tok...
Suara ketukan pintu, menghentikan pembicaraan mereka.
Melda, langsung membuka pintu kamar Jacqueline. Nampaknya mereka,saling berbincang. Setelahnya,baru kembali ke tempat.
"Ada sesuatu,kah". Tanya Jacqueline,dari raut wajahnya Melda. Terlihat,sedih dan ada yang di pikirkan.
"Iya, orangtuanya Huda ada di bawah. Mungkin, Huda nya memberitahu hubungan kami sudah berakhir". Jawab Melda, sebenarnya dia malas untuk menemui orangtuanya Huda.
Jacqueline, terus membujuk Melda untuk mau turun ke bawah.
Di bawah sudah ada Irfan dan Sarah, tengah menghadapi orangtuanya Huda.
"Silahkan,diminum pak Karle dan bu Kellin". Kata Irfan, tersenyum.
"Senang sekali,kalian berkunjung ke mansion kami". Kekehnya Sarah, tersenyum sumringah.
"Hahahaha...iya,jeng Sarah. Kami, ada sesuatu yang di bicarakan". Ucap Kellin, terkekeh.
Sarah, langsung menyenggol lengan Suaminya. Kenapa,belum ada tanda-tanda kedatangan Melda.
"Begini,kami mendapat kabar dari Huda. Jika Melda, memutuskan hubungan mereka". Kata Karle, memberitahu kepada Irfan dan Sarah.
__ADS_1
Tentu saja, orangtuanya Huda membicarakan tentang ini kepada Irfan dan Sarah. Karena mereka, tanggung jawab Melda.
"Eeee... benarkah". Irfan dan istrinya,nampak terkejut.
"Jeng,apa benar? Tapi, Melda tidak ada memberitahu kami". Sahut Sarah, memang benar Melda tidak berbicara tentang hubungannya.
"Benar,jeng Sarah. Aku, sangat terkejut mendengarnya. Tapi,kami tidak tahu? Apa masalahnya, setidaknya jangan gegabah dalam memutuskan hubungan mereka". Kellin, sudah menyukai Melda. Dia, bahkan tidak sabar menjadikan menantu. "Jeng,kamukan tahu. Aku, sangat menginginkan Melda jadi menantu ku. Apa lagi,aku lebih detail bagaimana kehidupannya".
"Iya,pasti ada sesuatu yang tidak beres. Kenapa,kalian tidak menanyakan hal ini kepada Huda. Saat dia, memberitahu kalian". Sarah,heran kenapa mereka tidak menanyakan langsung kepada anaknya.
"Masalahnya,Huda langsung masuk ke dalam kamar dan tidak mau berbicara dengan kami". Jawab karle, langsung.
"Jadi,rumit". Gumam Irfan, bersandar di sofa.
Kenapa, seperti ini? Pasti ada sesuatu,yang di sembunyikan Huda.
Jacqueline dan Melda, menuruni anak tangga. Lalu, berkumpul bersama di ruang tamu.
"Nak, apa benar kamu memutuskan hubungan dengan Huda dengan sepihak. Tolong, beritahu kami. Apa masalahnya,jika hanya masalahnya sepele. Tidak bisakah, mempertahankan hubungan kalian". Pinta Kellin, memegang tangan Melda.
Tatapan mata, seorang ibu. Membuat Melda,yang tak tega melihatnya.
"Nak Melda, berpikir panjang lagi. Memang,dalam hubungan terkadang ada masalah". Karle, mencoba menenangkan pikiran Melda.
"Emangnya,tahu darimana? Jika, hubungan Melda dan Huda berakhir". Tanya Jacqueline, penasaran.
"Huda,sayang". Jawab Sarah, langsung.
"Huda? Lalu, apakah dia memberitahu kepada Kalian. Apa masalahnya,gak mungkin tidakkan". Kekehnya Jacqueline, tersenyum.
"Masalahnya, Huda hanya mengatakan kalau Melda yang memutuskan hubungan mereka. Kami, menanyakan apa masalahnya? Tapi, Huda langsung masuk kedalam kamar. Tanpa, sepatah kata lagi". Jawab karle, terlihat sedih.
"Iya, keadaan Huda sangat berantakan. Sepertinya,dia sedang terpukul atas kehilangan Melda". Sambung Kellin,sang istri Karle.
Sepertinya,ada permainan yang di pikiran Huda. Tapi,dia ingin menutupi perselingkuhan nya. Batin Jacqueline, menggenggam tangan Melda. Tapi,apa Melda memiliki bukti tentang perselingkuhan mereka? Kalau hanya, Frans. Mana kuat,malah Melda yang di tuduh selingkuh.
"Kamu ada bukti,". Bisik Jacqueline.
"Hemmm...Ada,di dalam ponsel ini". Jawab Melda, tersenyum. Dia, sudah menyiapkan semuanya.
__ADS_1
Jacqueline,merasa lega karena Melda memiliki bukti kuat. "Baguslah,".
"Maaf,Om karle dan Tante Kellin. Makasih, sudah menganggap Melda seperti anak sendiri. Bukan maksudku, untuk menyakiti perasaan kalian. Sebenarnya,memang benar Melda memutuskan hubungan kami. Tapi, dengan alasan yang kuat". Kini Melda, sudah membuka suaranya.
Susana semakin tegang, tetapi Jacqueline mengangguk kepala. Agar Melda, memberitahu apa alasannya.
"Huda, selingkuh di belakang ku". Sambung Melda, orangtuanya Jacqueline dan orangtuanya Huda terkejut mendengar jawabannya.
"Astaga, selingkuh". Bisik Sarah,kepada suaminya.
"Selingkuh? Tidak mungkin, Melda. Kamu,salah lihat mungkin". Kellin,nampak tak percaya dengan perbuatan anaknya.
"Apa,kami memiliki bukti Melda? Jangan sampai, mengada-ada. Om, tidak percaya dengan ucapan mu". Sahut Karle, pikirannya tertuju pada anaknya.
Melda, memperlihatkan sebuah foto dan rekaman video tersebut. Dimana, Huda dan selingkuhannya tengah bermesraan.
Sarah, menutup mulutnya dengan tangan. Irfan,hanya menggaruk keningnya.
"Kurang ajar sekali,anak itu. Bikin malu,apa lagi wanita itu". Gerutu Kellin, dadanya naik turun mengontrol dirinya.
"Emangnya, siapa wanita itu". Tanya Sarah, penasaran.
"Dia,mantan kekasih Huda". Jawab Jacqueline, tersenyum.
"Benar sekali,dia mantan kekasihnya. Sebenarnya, Tante tidak menyetujui hubungan antara mereka. Karena wanita itu, bukan wanita baik-baik. Anak buah kami,sering melihat Jenni sering masuk club malam. Bahkan,dia terbilang wanita bebas". Kellin, menceritakan Jenni kekasih anaknya.
"Seandainya,dia wanita baik-baik. Tidak melakukan, pergaulan bebas. Kami, menyetujui hubungan mereka. Apa lagi, kebahagiaan anak lah yang utama". Sambung Karle, tertunduk lemas.
"Melda, bisakah kamu membujuk Huda. Agar dia,menjauhi wanita itu. Tante, sangat berharap dengan mu. Tante, sangat yakin. Karena perhatian dan kasih sayang mu,dia akan luluh". Kellin, menggenggam erat tangan Melda.
Melda, terkejut mendengar permintaan ibu kandungnya Huda. "Maafkan aku,bukannya tidak mau. Tapi,dia saja bermain di belakang. Melda, tidak bisa Tante".
Melda,tak ingin terus berurusan dengan pria yang tidak setia. Apa lagi, Huda bukan Pria yang dia cintai.
"Hemmm... bukannya aku, ingin ikut campur. Tapi, aku sebagai pengganti ibu Melda. Tidak menyetujui, permintaan mu jeng. Aku, merasa Melda sudah kecewa dengan Huda. Biarkanlah, Huda memilih pendamping hidupnya. wanita itu, kemungkinan sudah berubah menjadi lebih baik. jika tidak berubah, Huda yang akan menyesal. Jeng,mengalah demi anak". Sarah,juga memberikan solusi kepada Kellin.
"Huda, sudah dewasa. Jika dia, memilih wanita itu. Biarkanlah,jika terjadi sesuatu nantinya. Dia,yang akan menyesal bukan kita". Karle,juga menenangkan pikiran istrinya.
"Iya,kita lihat saja. Bagaimana, nantinya. Jika Huda,gagal dalam rumah tangga. Di situlah,dia akan sadar. Kita, hanya bisa berdoa agar mereka baik-baik saja". Ucap Irfan, tersenyum kecil.
__ADS_1
Melda, merasa lega karena orangtuanya Huda. Tidak menuntut ini,itu. Dia,bisa bebas dari jeratan Huda dan kedua orangtuanya. Jacqueline,juga merasa senang. Akhirnya,beres masalah satu ini.