BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Flashdisk


__ADS_3

Di tepi pantai, Garrix tengah menunggu seseorang yang di temui. Matanya tertuju, ke arah pinggiran pantai. Angin sepoi-sepoi, menikmati suasana di siang hari.


Mobil sport, berwarna hitam. Berhenti,tepat di samping mobil Garrix.


Dua pria bertubuh kekar, keluar dari mobil dan mendekati Garrix.


"Ambillah, flashdisk ini". V, memberikan flashdisk tersebut. Sayangnya,aku belum sempat melihat isi flashdisk ini. Tapi, Frans lebih dulu melihatnya. Besar punya Garrix atau aku yah.


"Apakah, kematian Laura ada sangkut pautnya dengan ini". Garrix, langsung mengambil flashdisk itu. Aku yakin,jika V melakukan hal ini. Bahkan, menghabisi nyawa Laura. Dendam apa, mereka? Sampai-sampai,nyawa melayang juga.


"Hanya iseng-iseng,lalu mendapatkan bonus". Kekehnya V tersenyum smrik. "Kau,yakin ingin menghancurkan flashdisk itu. Siapa tahu, untuk kenangan indah ". Yah... kenangan pertama kali, bercinta kalian.


"Ck,video ini membawa sial V. Segera aku, musnahkan". Kata Garrix, memandang ke arah flashdisk. Gara-gara flashdisk ini, tidur tidak tenang. Bahkan,makan tidak berselera sama sekali. Hanya ketakutan, yang di otakku.


"Bagaimana, rumah tangga mu? Apakah, baik-baik saja". V, menepuk pundak Garrix.


"Yah... penuh perjuangan, untuk mengimbangi dalam rumah tangga. Apa lagi,kami tidak saling kenal. Dia, tidak seagresif adikmu". Kedip mata Garrix, membuat V terdiam.


"Ck, ternyata kalian pernah berciuman rupanya". Decak V, dengan kesal. Oh, ternyata benar. jika mereka, pernah berciuman. Sialan, Jacqueline benar-benar liar.


"Hehehehe.... Ampuuun..bukan aku,yang duluan". Garrix, langsung mengangkat kedua tangannya. Huuuff.... yah,dia pernah mengisi hatiku hanya sekejap. Walaupun,kami tidak berjodoh.


"Untung saja,kamu menceritakan semuanya. Jika tidak, sangat besar bahayanya. Ya sudah,aku pamit dulu". V, langsung beranjak pergi meninggalkan Garrix.


Garrix,hanya mengangguk kepala dan menghela nafas panjang. "Semuanya, akan baik-baik saja". Gumam Garrix, menatap kepergian V.


*********


Sedangkan Jacqueline, menemui manager Laura. Yang bernama Loliwan Shu,sering di panggil Loli.


Sangat mudah bagi Jacqueline, bertemu dengan siapapun. Saat ini, manager Laura di tahan di jeruji besi. Polisi mencurigai manager Laura dan sang sopir. Walaupun, mereka tidak tahu apa-apa. sang sopir,di temukan tidak sadarkan diri di mobil.

__ADS_1


Loli, terkejut melihat kedatang Jacqueline. Dia, menatap sinis kepadanya. "Pergilah, aku tidak membutuhkan dirimu". Loli,enggan berbicara dengan Jacqueline. Pasti,dia ingin sekali mengorek-ngorek informasi tentang kematian Laura.


"Kau,yakin? Aku,bisa membebaskan diri mu. Yah...kalau tidak,kamu akan bersenang-senang di jeruji besi ini". Kata Jacqueline, tersenyum smrik. Jangan remehkan Jacqueline,karena aku bisa melakukan apapun.


Loli, terdiam sejenak dan memandang ke arah Jacqueline. Setidaknya,aku mendapatkan pegangan lebih kuat. Yang aku pikirkan,hanya bebas dari jeruji besi ini. Apa, Jacqueline bisa membebaskan diri ku? Tapi, aku berusaha keras dulu.


Tibalah, mereka berdua di sebuah ruangan. Hanya empat mata, tidak ada siapapun.


"Dimana,kamu berada? Di saat, kebakaran itu terjadi". Tanya Jacqueline, dengan tatapan intens.


"Aku,pergi ke luar. Karena pekerjaan sudah selesai, sedangkan Laura. Dia,masih berada di ruang ganti. Laura, mengusirku karena aku melakukan kesalahan". Jawab Loli, dengan wajah menunduk. Huuff... Setidaknya,aku memberitahu yang sebenarnya.


"Kesalahan,apa? Yang kau, buat dan Laura mengusir mu". Jacqueline, menyipitkan bola matanya. Apa benar, Loli ada sangkut pautnya dengan kematian Laura.


"Aku, disuruh membawakan baju gantinya. Tapi,aku salah bawa. Dia, marah-marah gak jelas. Sebenarnya,aku sangat khawatir keadaannya. Tapi, Nyonya Sisca memaksa ku. Agar Laura, semakin sembuh dari penyakitnya. Kamukan tahu, jika Laura pernah di rawat karena trauma. Yah.. Laura, pernah mengigau saat tidur dan menyebut nama Kiara ". Ucap Loli, tangannya gemeteran sudah.


"Apa kamu,tahu? Tentang Kiara,atau mereka pernah dekat". Tanya Jacqueline, langsung.


"Hemmm..Akan aku, bicarakan dengan kakakku". Jacqueline, menggenggam tangannya.


Selesai bertemu dengan Loli, barulah Jacqueline mencari keberadaan Loeis. "Siapa, Loeis? Bahkan,aku tidak tahu". Gerutu Jacqueline,dia memutuskan pulang saja.


**************


"Hemmm... Loeis shu,memang benar dia manager lamanya Laura. Dia, bekerja dengan Laura hanya dua tahun. Lalu, berhenti bekerja Setelah kematian Kiara sekitaran satu minggu.memang banyak, orang-orang merasa janggal. Informasi,saat ini.Loeis shu, mengembangkan bisnisnya di bidang kuliner". Melda, mencari informasi tentang Loeis shu. Atas permintaan, Jacqueline.


"Cari, alamat rumahnya. Kita besok,akan ke sana. Aku, sangat penasaran sekali dengan kematian Kiara. Jujur saja,aku tidak tenang". Jacqueline, menatap dirinya di pantulan cermin.


"Baiklah,aku sudah menemukan alamat rumahnya. besok,kita siap-siap ke sana. Tapi, harus beralasan sangat kuat. Agar, terlepas dari dua makhluk hidup itu". Kekehnya Melda, siapa lagi kalau bukan V dan Frans.


"Hemmm....Biar,aku urus mereka". Jawab Jacqueline, dengan santainya.

__ADS_1


*************


"Hoaaammm....Apa ada,mie instan". Gumam Melda,dia menuju ke arah dapur. Waktu menunjukkan pukul,sebelas malam. Entah, perutnya keroncong saat ini. "Sudah jam segini, mataku tidak ngantuk". Gumamnya,ada senyuman kecil.


Saat dia, menemukan mie instan. Kebetulan,rasa favoritnya. "Aku, sangat beruntung menemukan mie instan". Kekehnya, langsung bersiap-siap untuk memasak.


Saat Melda,berbalik badan tiba-tiba...."Aaaakkhh...". Pekik Melda, ketakutan bahkan menutup matanya.


"Kau,kira aku setan". Decak Frans, dengan sinis.


"Sialan,bikin kaget saja". Gerutu Melda, dengan kesal. Huuuff.... untung saja,bukan setan. Tapi, melebihi setan ternyata.


"Ck, jangan mengumpat diriku dalam hatimu". Tegur Frans, mengambil secangkir air putih dan meminumnya. Matanya tertuju, kepada Melda. Dia,tengah memasak mie instan untuknya.


"Sejak kapan,kamu berbohong kepada nyonya? Jawablah, Melda ". Kata Frans, membuat Melda langsung menoleh ke arahnya.


Melda, menyipitkan bola matanya. "Berbohong? Aku, tidak berbohong kepada mamah Sarah. Maksudnya apa,yah".


"Ck, jangan sok tidak tahu. Bukankah,kamu bilang bertemu dengan seorang wanita. Tapi,kenapa pria". Delik mata Frans, begitu tajam.


"Oh,itu...Hemmm...yah,gak papa. Lagian,mamah Sarah gak masalah soal itu". Jawab Melda, dengan santainya. Hahahaha,kena kau jebakan ku.


"Ingatlah,jangan pernah berbohong terhadap keluarga Fernandez. Kamu, paham kan". Frans,tak segan-segan mencekram lengan Melda. Bahkan, posisi mereka sangat dekat. Bahkan, tatapan matanya sangat tajam. Melda,tak berani menatap Frans.


"Apaan,sih? Serah aku,lah". Gerutu Melda, mencoba melepaskan cengkraman Frans. Eee...apa maksudnya ini? Apakah, Frans mulai posesif terhadap ku. Atau,dia tengah memarahiku.


"Ingat itu, Melda. Tidak bisakah,kau jujur. Walaupun,hanya masalah sepele". Frans, semakin mencekram lengan Melda.


"Iya,". Jawab Melda, tersenyum kecil. Akhirnya, Frans melepaskan cengkramannya. "Sangat menyebalkan, sekali". Ck,bilang saja anda cemburu kan. Ini,memang rencana ku dan mamah Sarah.


"Kau,yang menyebalkan". Sahut Frans, dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2