
Melda, berusaha menarik lengan Frans. Agar dia,bisa menyeretnya ke luar kamar. Namun, usahanya sia-sia saja.
"Frans, ayolah...jangan menyusahkan diriku". Melda, berdecak kesal. Bagaimana, ini? Frans, tiba-tiba bersifat kekanakan. sejak kapan,dia berprilaku seperti ini. biasanya, selalu menghindari ku.
"Malam ini,aku tiduran di sini". Kedip mata Frans, membuat Melda bergidik geli. Aku tahu,kamu benar-benar kecewa kepada ku. Tenang saja,aku berusaha meluluhkan hati mu lagi. Maaf,aku benar-benar menyesal sudah mengabaikanmu dulu.
"Frans, kamu tidak salah makan kan? Centil amat,jadi geli aku liatnya". Tatapan Melda,mendelik ke arah Frans. Apa,aku tidak salah dengarkan? Dia,mau tidur di sini.
"Tidurlah,aku tidak macam-macam". Frans, menepuk di samping tidurnya. Jika tidak hilaf, ayolah Melda. Aku, menginginkan sifat agresif mu kepadaku. Aku, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu lagi.
Melda, merangkak naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya. Dia, membelakangi Frans begitu saja. Percuma di usir-usir, tidak ada pergerakan apapun. Daripada tiduran di sofa, mending di samping Frans. Dia,mana mungkin melakukan hal yang tidak baik. Mana mampu, dia melakukan hal itu. Batin Melda,dia tidak merasa takut tidur di samping Frans.
"Yakin,gak mau nikah sama aku". Frans, lagi-lagi mengajak Melda menikah. "Enak loh,nikah sama aku. Akan aku jadikan,ratu di hatiku ". Huuuff... untung saja, wawasan untuk menggombalku tidak buntu.
Mendengar ucapan Frans, Melda membalikkan badannya dan menaruh tangan di kening Frans. "Kamu,gak sakit kan? Sejak kapan,jiwa mu bisa gombal. Apa jangan-jangan,jiwa kamu ke tuker yah! Waktu, liburan kemarin".
Frans, mengerutkan keningnya dan mencerna ucapan Melda. "Kamu kira,aku gila gitu. Ada-ada saja,aku serius Melda. Sebelum berubah pikiran,kau taukan sifatku bagaimana? Kita sudah lama bersama,". Meskipun, beberapa kali di tolak. Aku, tidak akan menyerah Melda. Sampai kamu, menjadi milikku seutuhnya.
"Eeee...Aku,mana tau. Lagian bodo amat,nikah saja sana dengan wanita lain". Kata Melda, membelakangi Frans lagi. Ada rasa perih,saat menyuruh Frans bersama wanita lain. Tangannya, meremas selimut di tubuhnya.
Frans, semakin mendekati Melda dan memeluknya erat dari belakang. "Aku tahu,kamu pura-pura menolakku kan. Jangan memendam perasaan, Melda". Bisik Frans,mengelus lembut anak rambut Melda.
"Frans,jangan mengganggu ku. Pagi-pagi sekali,aku harus bangun dan ke apartemen Sagara. Aku juga, menyiapkan pakaian dan lainnya juga". Melda, menepis tangan Frans.
Rahang Frans, mengeras seketika. Dia, langsung membalikkan badan Melda dan menindihnya.
__ADS_1
"Aakkkhhh...". Pekik Melda,yang tiba-tiba di bawah Kungkungan Frans. "Kamu, apa-apaan sih? Sana,jangan begini". Melda, berusaha memberontak.
Namun, tangannya di cekal ke aras kepala oleh Frans. "Aku, tidak mengijinkan kamu untuk pergi bersama pria manapun. Apa lagi, pergi ke apartemen pria". Ucap Frans, terdengar sangat mengerikan. Deru nafas memburu, tatapan tajam ke arah Melda. Jarak wajah mereka,hanya beberapa inci saja.
Detai jantung Melda, berdegup kencang. Mereka sangat intim,memang momen kebersamaan ini yang di inginkan Melda selama ini. Ada rasa bahagia,di hatinya dan ada rasa sedih. Setidaknya,dia memberikan pelajaran kepada Frans. Bukankah, dulu Frans sering mengabaikannya dan cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Lalu,kamu ngapain di atas tubuh ku. Sana, menyingkir lah". Melda, berusaha melepaskan cekalan tangan Frans.
Jujur saja, Frans merasa gugup dan jantungnya berdegup kencang. Baru kali ini,dia berani mendekati wanita. Apa lagi,satu kamar dan di atas ranjang berduaan.
"Aku baru sadar, jangan-jangan kamu mabok. Sampai berani melakukan hal ini, biasanya ogah dan selalu mende.... Hhhmmmpptt.... Hhhmmmpptt....". Belum selesai berbicara, mulut Melda di bungkam oleh Frans dengan bibirnya.
Ciuman mesra dan menumpahkan rasa rindu yang dalam. Melda, tersenyum lebar di dalam hatinya. Saat Frans, menciumnya dengan penuh gai-rah.
Cekalan tangannya, mulai melonggar. Melda, melingkar tangannya di leher Frans.
Cukup lama mereka berciuman dan saling memandang. Pelukan hangat,yang sangat nyaman mereka rasakan.
"Menikahlah denganku,". Ucap Frans,lagi.
Melda, memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain. Ingin sekali menolaknya lagi, tetapi hatinya tak mampu. Sebuah anggukan kecil, menjawab pertanyaan Frans. Mereka berdua, kembali berciuman lagi.
************
Pagi hari yang cerah, menyinari semesta. Frans, mengerjapkan bola matanya dan melihat ke arah samping. Rupanya, Melda sudah tidak ada. Jam menunjukkan pukul delapan pagi,dia bangun kesiangan. "Sialan,aku terlambat". Gumam Frans, langsung bangkit dari ranjang Melda.
__ADS_1
Tidurnya, sangat nyenyak di pelukkan calon istrinya. Bahkan,dia tidak tahu? Kapan, Melda pergi dan tidak membangunkan dirinya. Berlahan-lahan, Frans keluar dari kamar Melda. Jangan sampai,ada orang yang tahu.
Secepat kilat, Frans bersiap-siap dan turun kebawah untuk sarapan pagi. Rupanya, Irfan, Sarah,V dan Jacqueline. Mereka, hampir selesai makan bersama.
"Tumben-tumbenan,kamu bangun kesiangan". Tanya Sarah, memandang penampilan Frans masih acak-acakan.
"Frans,sejak kapan kamu tidak rapi berpakaian. Lihatlah, kancing bajunya ". V, menunjukkan kancing bajunya terbuka.
"Maaf,bos. Habisnya, kesiangan takut telat". Jawab Frans,tak sabar menghabiskan sarapan pagi. "Jam sepuluh pagi,ada meeting bos".
"Iya,tapi kondisikan dulu penampilan mu". Sahut Sarah, geleng-geleng kepala.
"Kamu tidur dimana, Frans? Malam tadi,aku ke kamarmu sekitar jam sebelas malam. Tapi,kamarmu kosong dan tidak di kunci. Aku tungguin, hampir setengah jam. Masih saja, kamu tidak ada. Kata penjaga,kamu gak keluar dari mansion. Mencari-cari kemana, tidak ada". Tanya, Irfan. Membuat Frans, panik dan gelabakan.
Mata mereka semua, langsung menatap tajam ke Frans. Penasaran sekali,kemana Frans tidur? Apa ada sesuatu,yang di sembunyikannya.
"Ituuu... hemmmm... mungkin, waktu di halaman belakang Tuan. Biasa,cari angin sambil mencari ide-ide buat meeting besok". Alibi Frans,yang sudah ketangkap basah dan gelagatnya aneh.
"Yakin, Frans? Kamu, tidak tidur di kamar Melda kan". Tanya Jacqueline, langsung.
Uhukk.... Uhukk...Uhukk...
Frans, tiba-tiba tersedak karena mendengar ucapan Jacqueline. Yah, tebakannya memang benar. Tapi,dia harus membantah perkataan Jacqueline.
"Makannya, pelan-pelan Frans. Jangan tergesa-gesa,gak papa juga di undur meeting nya". Tegur Irfan, menyodorkan segelas air putih.
__ADS_1
Baru beberapa menit, Frans menghabiskan nasi gorengnya dan dia langsung pamit. Takutnya,ada pernyataan lagi yang sangat susah mencari alasan.
V, menaruh rasa curiga kepada Frans. Aku yakin, sekali. Jika Frans, malam tadi tidur bersama Melda. Tidak pernah,dia ke siangan dan gelagatnya aneh. Wahhh...jangan sampai, Melda hamil duluan. Batin V,menerka jika Frans dan Melda melakukan hal itu.