
Sekitar jam sepuluh malam, Jacqueline dan V sudah menyelesaikan resepsi pernikahannya.
Lelah dan mengantuk, itulah yang di rasakan oleh sepasang pengantin baru ini.
"Aku, sangat lelah. Bisakah, kita tidak sekamar dulu". Pinta Jacqueline, dengan nada pelan. V,masih berada di belakangnya dan memegang gaun pengantin Jacqueline.
"Baiklah,". Jawab V, dengan singkat. Tangan kirinya, sudah mengepal erat.
V, langsung meninggalkan Jacqueline tepat di depan pintu kamarnya. Begitu juga, Jacqueline masuk dan menguncinya pintu kamarnya.
Jacqueline, melepaskan gaun pengantin dan masuk kedalam kamar mandi.
Pikirannya berkecamuk kemana-mana, bingung dan bertanya-tanya. Mengapa, kehidupan dalam percintaannya seperti ini. Dia, menghidupkan shower dan membasahi tubuhnya yang polos.
Air dingin, mengguyur tubuhnya dan terasa segar. Rasa kantuknya, seketika hilang. Akan tetapi,lelah masih terasa.
Cukup lama dia, memanjakan diri di dalam kamar mandi. Akhirnya,dia keluar dan memakai pakaiannya.
Tangannya, gemeteran saat ingin menyentuh ponselnya. Benar saja, sebuah pesan masuk di WhatsApp. Membuat hati Jacqueline,terasa di tusuk.
[Bagaimana, rasanya pernikahan tiba-tiba di batalkan. Hahahaha... begitulah, rasanya yang aku alami. Maafkan aku,yang balas dendam kepada kakakmu. Tetapi,kamu yang kena imbasnya].
Jacqueline, meremas benda pipih di tangannya. Dia tahu,siapa yang mengirimkan pesan itu.
[Tapi,kamu sangat beruntung. Kakakmu, menikah dengan mu. Bagaimana,hemmm...]
Jacqueline, tersenyum smrik dan dia mengetik untuk membalas pesan tersebut.
[Tenang saja,aku memang mencintai kak V. Jadi,apa yang di rugikan. Jangan-jangan,kamu berpikiran bahwa kami menikah hanya menutup nama besar keluarga Fernandez. Hahahaha... Anda,salah besar Laura. Apa jangan-jangan,kamu sudah sembuh dari penyakit gangguan Jiwa mu. Aku ucapkan selamat, semoga lebih parah lagi].
"Oh,dia ingin balas dendam kepada kak V. Tapi, melalui aku ternyata. Lucu sekali,dia mengira aku akan marah besar terhadap V. Begitu juga, keluarga Fernandez akan membenci V. Ck, sangat salah. Malah, keluarga Fernandez bahagia karena pernikahan kami". Gerutu Jacqueline,dia berbaring di atas ranjang.
"Bagaimana, kondisi Garrix? Apa dia, baik-baik saja. Kasian, dia terkena imbas balas dendam Laura. Apa aku beritahu,kepada kak V. Aku yakin, Garrix akan membawa wanita itu ke hadapan orangtuanya. Kasian Garrix, maafkan aku". Gumam Jacqueline,dia mengirim pesan agar V menemuinya di kamar.
**********
Flashback....
"Iya,mah. Aku tahu,ini sudah jam sepuluh malam. Aku juga tahu,besok akan menikah dengan Jacqueline. Aku, segera pulang sekarang. Ini sudah mau,masuk ke dalam mobil. Ya sudah,aku tutup telponnya mah". Garrix, menutup panggilan ibunya. Saat ini,dia masih di parkiran kantor kepolisian.
__ADS_1
"Aaarghhh....". Garrix, tiba-tiba terhayung. Matanya mulai, memburam karena seseorang menembakkan suntikan bius.
Hingga tak sadarkan,dua orang segera mengangkat tubuh Garrix dan memasukkan ke dalam mobil.
Entah di bawa kemana, tidak ada satupun orang tahu. Seorang wanita, tengah mengetik pesan di ponsel Garrix.
"Lihatlah, aku akan menggagalkan pernikahan adikmu tersayang V. Aku sudah mengatakan, bahwa akan balas dendam kepada mu". Seringai tajam Laura, langsung pergi meninggalkan tempat kejadian tersebut.
Garrix,di bawa sebuah hotel yang tidak di ketahui oleh siapapun.
Laura,juga melakukan hal ekstrim. Sebuah lilin herbal,yang sudah di campurkan obat perangsang. Ada juga sebuah duba,jika mencium aromanya akan mengalami perangsang hebat.
"Siap-siaplah, menerima kado pernikahan untuk mu Jacqueline". Senyum smrik, Laura. Dia, berjalan menuju ke arah resepsionis hotel tersebut.
"Maaf,kamar 210 tolong di bersihkan. Ganti sprei nya,karena sudah kotor. Tapi,jangan membangunkan kakakku tengah tertidur pulas". Laura, beralasan untuk menjebak Garrix.
"Baik,kami akan segera ke kamar tersebut. Tunggulah,ada seorang wanita yang mengerjakannya". Jawab resepsionis hotel tersebut.
Laura, mengangguk lalu pergi ke arah kamar. Akan tetapi,dia berdiri diambang pintu.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita cantik menghampiri Laura.
Laura, membiarkan wanita itu masuk karena sudah tugasnya untuk membersihkan kamar hotel.
"Non,buka pintunya Non. Aaakkhh....". Wanita itu,baru sadar karena Laura mengunci pintu kamarnya dari luar. Apa lagi, Garrix tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Aaakkhh.... lepaskan, lepaskan... Tolooong.... Tolooong...". Wanita itu, berteriak-teriak histeris.
Awalnya, wanita itu memberontak. Lama-kelamaan,dia malah ingin di sentuh lebih
"Panas....panas.... Aaarghhh..". Garrix,merasa tubuhnya yang tak pernah di rasakannya. Akal sehatnya, tidak berfungsi lagi.
Begitu wanita itu, merasakan tubuhnya seketika berubah. Dia, merasakan hawa panas. Dia,juga tak bisa mengendalikan diri apa lagi sentuh-sentuhan Garrix yang sudah menguasai seluruh tubuhnya
Dua insan, yang sudah di selimuti gairah karena pengaruh obat perangsang.
Tentu saja, mereka melakukan hubungan panas. Tanpa di sadari, oleh apapun.
Laura,juga sudah menyiapkan beberapa kamera di dalam kamar hotel. Dia, tersenyum merekah dan bersiap untuk menjadi sebuah kado terindah untuk Jacquie.
__ADS_1
************
Pagi harinya, Garrix hanya bisa pasrah dan menyesal.
Wanita itu,masih meringkuk di atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya yang polos. Dia,hanya menangis histeris. Melihat keadaannya,tak suci lagi.
Garrix, meminta maaf dan bermohon-mohon kepada Larissa. Seorang pelayan hotel,dia malah menodai kesucian wanita yang tak pernah dia kenal.
"Aku,aku akan bertanggung jawab dan temui aku kepada orangtuamu. Secepatnya,kita akan menikah". Ucap Garrix,masih terduduk di tepi ranjang. Rambutnya, acak-acakan tak karuan.
Di sisi lainnya,dia sudah menyakiti perasaan Jacqueline dan di sisi lain sudah menodai kesucian wanita itu.
"Maaf, maafkan aku....". Lirih Garrix, pikirannya sudah kemana-mana. Belum lagi, berhadapan dengan kedua orangtuanya dan keluarga lainnya. Apa lagi,dia seorang anggota kepolisian. Ceroboh! Itulah,yang di pikiran Garrix.
Entah, kenapa tiba-tiba terjadi seperti ini. Tidak ada tanda-tanda, apapun dan bukti yang kuat.
Namun, Garrix menaruh rasa dendam dan akan menangkap siapa pelakunya.
Wanita itu,hanya mengangguk kepala dan mengikuti perkataan Garrix. Dia,juga bingung harus berbuat apa-apa. Hanya pasrah menerima semuanya, beruntung sekali pria yang yang merenggut kesuciannya langsung bertanggungjawab.
Garrix,juga menghubungi Jacqueline dan menceritakan semuanya. Walaupun dia,tak kuasa menahan perasaannya. Kejujuran Garrix, mampu meluluhkan hati Jacqueline.
"Maafkan aku,aku bersalah. Aku,aku sudah menyakiti hati mu". Garrix, hanya bisa pasrah dan meneteskan air matanya.
(Tidak apa, bertanggungjawab atas kesalahan paham ini. Berjanjilah,kita akan mencari pelakunya bersama-sama). Jacqueline.
Ada rasa perih di sudut hati Garrix, mendengar suara Jacqueline dalam isak tangisnya.
Jacqueline, langsung meminta Garrix Menikahi wanita itu. Biarlah,dia mengalah dan gagal menikah.
"Baiklah,kita akan mencari pelakunya dan menangkap lalu memberikan hukuman berat". Kata Garrix, menatap ke arah Larissa.
(Hemmm.. selesaikan masalah mu, bicaralah baik-baik kepada kedua orangtuamu. Aku yakin, mereka akan berusaha menerima semuanya. Aku disini juga, menyelesaikan masalahku). Jacqueline.
"Maafkan aku, Jacqueline. Aku, benar-benar sangat malu dengan mu. Sungguh,tak ingin menampakkan wajah ku".
(Aku mengerti,kita tetap jadi teman. Semoga kamu bahagia, jangan sia-siakan dia).
Garrix,juga berkali-kali meminta maaf kepada Jacqueline. Dengan lapang dada, Jacqueline memaafkannya.
__ADS_1
Larissa,hanya menunduk dan samar-samar mendengar pembicaraan mereka. Ternyata, mereka ingin menikah. Lalu,gagal karena kejadian ini. Astaga,aku sudah menyakiti hati seorang wanita. Apakah, aku bisa menjalani rumah tangga ini. Batin Larissa,masih terdiam membisu.
Flashback off.