BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Meminjam Uang


__ADS_3

[Garrix,jika kakakku memintamu untuk membatalkan pernikahan. Apa jawabannya? Bisakah, bertahan dan tidak melepaskan ku].


Jacqueline, mengirim pesan kepada Garrix. Karena dia sangat yakin, bahwa V akan menemui Garrix.


[Aku tidak akan, melepaskan mu. Kecuali,kamu meminta] Garrix.


Jacqueline, tersenyum saat membaca pesan dari Garrix.


[Benarkah? Aku sangat senang, mendengarnya. Jangan kecewakan aku,kita sama-sama berjuang dan bertahan]


[Iya,dua minggu lagi kita akan menikah. Aku tidak sabar, menunggu waktu itu]


Jacqueline dan Garrix, saling berbalas pesan.


Tok....Tok....Tok...


Seseorang mengetuk pintu kamarnya, Jacqueline bergegas menuju pintu kamarnya.


Jacqueline, menghela nafas lega karena Sarah yang ingin berbicara dengannya.


"Jacqueline,kamu yakin dengan keputusanmu? Bukankah, kamu sangat mencintai V. Ini kesempatanmu, untuk memiliki V". Tanya Sarah, yang terheran.


Jacqueline, tetap melanjutkan pernikahannya dengan Garrix. "Aku,aku tidak bisa berbuat apa-apa. Apa lagi, mempertaruhkan nama keluarga Fernandez. Aku yakin, dengan keputusan ku ini".


"Nak,jangan memikirkan nama keluarga Fernandez. Kebahagiaan mu,jauh lebih penting nak. Mamah, sangat berharap kamu mengubah keputusan mu. Sebelum terlambat, sayang". Sarah, mengelus lembut pipi Jacqueline.


"Aku, tidak akan mengubah keputusan ku mah" Ucap Jacqueline, dengan tegas.


"Hemmm.... baiklah,mamah keluar dulu". Sarah, keluar dari kamar Jacqueline. Berharap,kamu mengubah keputusan nak. Hanya itu,yang mamah inginkan.


"Bicara soal apa, dengan Jacqueline? Sepertinya, serius". V, menaruh rasa curiga kepada ibunya. Yang baru keluar, dari kamar Jacqueline.


"Bukan urusan mu,V". Jawab Sarah, tersenyum.


"Ck,jangan bilang mamah mengubah keputusan yang di pilih oleh Jacqueline. Jika Jacqueline, tidak mau menikah dengan ku. Terserah,itu adalah kehendaknya. Aku, sudah memberikan kesempatan kepadanya dan dia menyia-nyiakan kesempatan itu". Tebak V, menyunggingkan senyumnya. Pasti mamah, kecewa dengan keputusan Jacqueline. Sudahlah,itu yang dia mau.


Sarah,hanya diam dan menuruni anak tangga. Tanpa menjawab, perkataan V.


V,hanya menghela nafas beratnya dan memandang ke arah pintu kamar Jacqueline.

__ADS_1


Sarah, menemui suaminya tengah bersantai di belakang mansion.


"Ada masalah,sayang". Tanya Irfan, mengelus lembut rambut istrinya.


"Hemmm...aku, tidak senang dengan keputusan Jacqueline. Dia tetap, melanjutkan pernikahannya dengan Garrix". Jawab Sarah, tersenyum kecil.


"Sayang, kalau itu Kehendak Jacqueline. Kita,bisa apa? Hanya bisa, mendoakan kebahagiaannya dalam membangun rumah tangga. Apa yang di katakan V,memang benar. Jacqueline,masih belum berpikir dewasa". Irfan, mencoba menenangkan pikiran istrinya.


"Tapi, tetap saja aku tidak senang. Walaupun,aku ikhlas dan mendukung keputusan Jacqueline". Gerutu Sarah,masih berwajah cemberut.


Irfan,hanya menggeleng kepalanya dan mengelus pipi istrinya. "Sabar, berdoalah agar Jacqueline mengubah keputusannya".


Irfan,juga memberikan sepotong buah apel. Agar sang istri,tak lagi memikirkan hal itu.


**********


Jacqueline, menghempaskan bokong nya tepat di sofa ruang kerja V.


Sunita,hanya memutar bola matanya dengan malas. Baru saja, dia ingin berduaan dengan V. Tetapi, sudah di ganggu oleh Jacqueline.


"kenapa,kamu tidak suka aku ada di sini? Kalau, tidak suka! Tuh, pintu keluar terbuka sangat lebar". Sinis Jacqueline, tersenyum smrik.


"Seharusnya, kamu yang keluar. Aku,ada bisnis dengan V. Karena aku,jauh lebih penting di bandingkan dirimu". Kata Sunita, tersenyum smrik.


Ceklekk....


Pintu ruang kerja, V. Terbuka lebar, terlihat sesosok pria tengah berdiri dan duduk di samping Jacqueline.


"Kak V,dia mengusirku". Cicit Jacqueline, berwajah imut.


"Jika kamu, tidak mengubah keputusan. Aku akan menikah, dengan Sunita". Bisik V,yang mengancam Jacqueline.


"Ha...?? Jika itu, keputusan dari kak V. Menikah saja, dengan Sunita. Toh,aku gak seatap dengan kalian". Bisik Jacqueline,dia malah menantang. "Baiklah,aku akan ruang istirahat. Kalian, lanjutkan saja bisnisnya".


Jacqueline, melenggang pergi menuju salah satu pintu. Saat terbuka, terlihat seperti kamar dan lainnya.


"Aku,mendapatkan kabar. Jika Laura, mengalami gangguan jiwa. Bahkan,dia tengah di rawat serius". Sunita,mulai membuka suaranya.


"Lalu,aku akan bersimpati kepadanya. Tentu,itu tak penting bagi ku. Oh,kenapa kamu tiba-tiba ke sini? Apakah,ada hal yang di sampaikan". Ucap V, dengan wajah dinginnya.

__ADS_1


"Aku ke sini, untuk meminjam uang dengan berjumlah besar. Perusahaan ku, mengalami penurunan". Lirih Sunita, dengan wajah menunduk.


"Yakin, perusahaan mu mengalami penurunan? Atau,kalah tender". Tebak V, menyunggingkan senyumnya.


Terlihat Sunita, gelisah dan sebisa mungkin untuk berekspresi biasa. "Iya,aku kalah tender. Tolong, bantulah aku". Mohonnya lagi, Sunita menggigit bibir bawahnya.


"Berapa,yang kamu mau". Tanya V, dengan santainya.


"Li-lima triliun,aku janji akan mencicilnya setiap bulan. Aku,aku janji V. Tolonglah,bantu aku untuk menyelamatkan perusahaan ku. Perusahaan itu,milik ayahku yang dia diri sendiri". Sunita, ingin bersimpuh di kaki V. Akan tetapi,V langsung memberikan kode agar tidak melakukan itu


"Uang segitu, bukanlah uang berjumlah sedikit. demi menghormati mendiang ayahmu, aku akan membantu". V, langsung beranjak pergi menuju ke meja kerjanya. Dia, membuka laci dan menemukan sesuatu.


V, memberikan cek uang kepada Sunita. Setelah,dia menandatangani kertas kecil tersebut. "Ambillah,aku harap kamu tidak menepati janji mu".


"Tentu, aku akan melakukan apapun dan membayar setiap bulannya. Terimakasih banyak,V". Sunita, tersenyum. Tangannya, segera mengambil cek uang di atas meja.


Tiba-tiba saja, Jacqueline yang lebih dulu mengambil cek uang tersebut. "Enak sekali,mau menggunakan uang kakakku".


"Jacqueline,itu milikku dan serahkan kepada ku". Pinta Sunita, sebenarnya dia geram dengan Jacqueline.


"Kenapa,ini milikku. Tidak rela,uang kakakku di pakai dengan percuma". Ejek Jacqueline,dia mengibas-ngibas cek tersebut.


"Serahkan kepada ku,aku meminjamkannya. Bukan, meminta Jacqueline ". Sunita, sedikit meninggikan suaranya.


"Lupakan,ini aku berikan cek lagi". V, langsung memberikan cek baru lagi kepada Sunita. Akan tetapi, Jacqueline mengambilnya lagi.


Ada lima belas triliun,di tangan Jacqueline. Karena dia,terus merebut cek uang itu. Ada senyuman manis, di sudut bibirnya.


Lagi-lagi Sunita,di buat geram terhadap Jacqueline. Dia,hanya cengengesan tanpa memperdulikan tatapan Sunita.


"V, lihatlah adikmu! Dia,terus saja merebut cek uangnya". Kata Sunita,yang sudah kesal.


"Kenapa,kamu kesal dan marah ha? Kalau begitu,sana pergiiiiii....". Perintah Jacqueline, dengan tegas.


"Kamu, Mentang-mentang adiknya V. Suka seenaknya sendiri, berikan cek itu". Sunita, mengulurkan tangannya dan menatap tajam ke arah Jacqueline.


Jacqueline,malah menantang dan mulai membuat dramatis. "Kak V,dia menatapku tajam. Aku takut,". Cicit Jacqueline, langsung bergelut manja dengan V.


"Berikan cek uang itu, Jacqueline. Sisanya untuk mu,". Perintah V, langsung mengambil satu lembar cek uang di tangan Jacqueline.

__ADS_1


"Ingatlah, ini yang terakhir kalinya dia meminjam uang kepada kakak. Kalau tidak,membayar sedikitpun. Ambil langsung, perusahaannya itu". Bentak Jacqueline, dengan tatapan sinis ke arah Sunita.


"Tidak,aku akan berusaha untuk membayarnya. Jangan harap,kamu merendahkan diri ku Jacqueline". Bantah Sunita, langsung. Kenapa, dia ada? Aku, tidak bisa merayu dan menggoda V.


__ADS_2