BALAS DENDAM TAK BERTEPI

BALAS DENDAM TAK BERTEPI
Dede Gemes


__ADS_3

"Uueeekk.... Uueekkk...". Seorang pria, berwajah kusut. Sepagi ini, muntah-muntah tidak jelas. "Sialan,kenapa aku lemas sekali. Sudah beberapa hari, aku sering muntah-muntah dan indera penciuman ku agak aneh". Gerutu V, berdecak kesal.


"Sayang,cepetan dong. Aku,mau mandi! Gerah banget, lengket-lengket tau". Teriak Jacqueline, menggedor-gedor pintu kamar mandi.


Hampir setengah jam,V terdiam di kloset. Perutnya,terasa di aduk-aduk dan lemas. "Iya, sebentar sayang. Aku,mau mandi dulu". Jawab V, yang beranjak berdiri. Tangannya, berpegangan pada dinding. "Apa jangan-jangan,aku masuk angin. Kemarin, sudah di kerokin sama Frans".


"Apa? Belum mandi juga, astaga.... Ayolah,aku ada janji dengan Garrix dan istrinya". Jacqueline, nampak kesal kepada suaminya itu.


"Cuman sebentar,kok". Jawab V, langsung menghidupkan shower dan membasahi tubuhnya.


Beberapa menit kemudian,V selesai dengan mandinya.


Jacqueline, sudah tidak ada di dalam kamar. Kemungkinan,dia mandi di kamar Melda. Tak sanggup, menunggu V terlalu lama di dalam.


"Malas sekali, kemana-mana. Enaknya,rebahan". V, langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia,masih menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Ceklekk....


Pintu kamar terbuka, terlihat sesosok Jacqueline tengah menatap ke arah Suaminya. "Dia,kenapa sih? Mandi lama,banget lagi. Sekarang,apa? Dia,malah tiduran dan tidak memakai baju pun". Gerutu,Jacqueline. Dia, mengambil baju ganti untuk suaminya.


"Sayang, bangun gih. Baru mandi,masa tidur lagi. Nanti, masuk angin lo". Jacqueline, membangun Suaminya.


"Kenapa,baju ini? Aku,mau ke kantor ada meeting". V, mendengus dingin.


"Kekantor? Gak usah, nanti suruh Frans yang gantiin kamu. Mau kekantor segala, wajahmu pucat. Apa kak V, baik-baik saja". Jacqueline, menatap intens ke wajah suaminya.


"Ambilkan,baju lain. Aku,mau kerja". Rengeknya V, matanya masih terpejam.


"Yakin,mau ke kantor? Kata Frans, akhir-akhir ini . Kak V,sering tiduran dan tidak mengerjakan apapun". Kata Jacqueline, menyipitkan bola matanya.


Memang benar,V malah malas-malasan bekerja dan malah tiduran. Frans,hanya menggeleng kepalanya dan dia harus turun tangan. Terkadang, meminta bantuan kepada Irfan.


"Tidak, tahu? Akhir-akhir ini,aku pengen tiduran dan ngemil. Pokoknya,malas ngapa-ngapain". Jawab V, tersenyum manis.


Jacqueline, menggeleng kepalanya dan menarik hidung suaminya. "Sini,aku keenakan pakaiannya. Takutnya,malah masuk angin". Jacqueline, sudah menyiapkan baju santai untuk Suaminya.

__ADS_1


Pertama dia,harus mengenakan boxer untuk suaminya. Tentu saja,handuk yang melilit di pinggang V. Sudah pasti,di lepas Jacqueline. Walaupun,dia malu-malu kucing.


"Ngapain malu, sayang. Tiap hari,liat ini terus. Lihatlah, sudah menegang dan keras. **** dikit,sayang". Pinta V, mengedipkan matanya.


"Mesum! Cepetan,angkat boxernya dan tutupi itunya". Pinta Jacqueline, memalingkan wajahnya. Kak V,bikin aku malu saja. sudah mandi,malah minta aneh-aneh lagi.


Di tangannya, Jacqueline sudah ada celana untuk suaminya. Tetapi, boxer nya masih bergelantungan di pangkal paha suaminya. "Kak V, ayolah...jangan main-main". Kalau tidak dituruti,entah sampai kapan. Anunya, bergelantungan seperti itu.


"Di **** dulu,dede gemesnya. Baru,di tutup". Rengeknya V, dengan manja.


Kenapa,sih? Akhir-akhir ini,kak V. Selalu, berkata dan meminta aneh-aneh. Gerutu Jacqueline, dengan wajah masam. "Malam tadi,sudahkan. Gak yakin,cuman di **** doang". Jacqueline,menaruh curiga kepada suaminya. Pasti, ujung-ujungnya malah ke sasar sana sini. Mandi lagi deh,aku harus menghubungi Garrix. Untuk mengundurkan waktu, pertemuan di kafe.


"Ayolah,gak enak kalau keras begini". V, langsung membungkukkan badan istrinya dan mengarahkan benda keras tak bertulang itu.


Jacqueline, memegang benda dan mulai memainkan lidahnya. Tentu saja,V hanya merem melek dan Menikmati servis sang istri.


"Aaahhh... terus,sayang. Hemmm...enak, teruussss...Ooghh...". Racau,V tangannya memegang kepala Jacqueline.


Jacqueline, Berlahan-lahan melakukan servis untuk Suaminya. Benda tumpul itu, seakan-akan seperti eskrim bagi Jacqueline.


V,meminta Jacqueline untuk berhenti. "Menungging lah". Pinta V, kepada istrinya.


Jacqueline, sudah menduga bahwa permainan sang suami. Akan berlanjut, sampai mendapatkan kenikmatan itu.


***********


Melda, menuruni anak tangga dengan senyuman manis. Hari ini, dia pertama kali kerja kantoran.


Melda,menuju ke mobilnya. Tetapi,di cegah oleh Frans lebih dulu.


"Minggir, aku mau kerja. Asal kamu tahu, hari ini pertama Kalinya masuk".


"Aku,tahu. Berangkatlah, dengan ku". Kata Frans,masih berwajah datar.


Melda, mendengus dingin. Dia, menatap ke arah Frans. "Apa hubungannya, dengan mu? Aku, bekerja di perusahaan temanku. Bukan, bekerja di perusahaan Fernandez. Jadi,minggir lah".

__ADS_1


"Siapa,yang mengijinkan mu? Bekerja,di perusahaan orang lain". Tegas Frans, menghimpit tubuh Melda di mobil.


"Eeee...Apa, urusan mu. Menjauhlah,". Melda, menahan dada bidang Frans. Dia,juga memalingkan wajahnya agar tidak bersentuhan dengan wajah Frans. Ada apa,ini? Biasanya, Frans tidak seperti ini. Mana,dekat sekali. Aku, sangat gugup dan jantung ku berdegup kencang. Astaga, kenapa kamu tiba-tiba berubah Melda.


"Kenapa,diam? Bukankah,kamu menyukai adegan seperti ini. Tiba-tiba saja, wajahmu berpaling ke arah lain". Frans, mencekram dagu Melda. Agar mereka,saling pandang. "Ikut dengan ku, bekerja di perusahaan Fernandez. Jika kamu,masih nekat untuk bekerja di perusahaan temanmu. Siap-siap,kamu akan mendapatkan konsekuensi dari ku". Seringai tajam, Frans.


Glekkkk....


Melda, beberapa kali mengerjapkan bola matanya. Tidak,aku tidak boleh lemah.batin Melda, langsung mendorong Frans sekuat tenaga.


"Terserah..". Tegas Melda,dia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Frans begitu saja.


Frans,masih menatap kepergian Melda. Dengan tatapan, sulit di artikan.


**********


Dering ponselnya, Jacqueline berbunyi. Tertera nama, Garrix di layar ponselnya.


"Astaga, sudah jam berapa ini? Apa,aku telat". Jacqueline, langsung bangkit dan mengangkat telpon dari Garrix.


Selesai menelpon, barulah dia mandi san bersiap-siap. Jacqueline, membiarkan suaminya yang masih terlelap dalam tidurnya.


Mansion, terlihat nampak sepi. Entah,kemana orang'berada. Jacqueline, pergi bersama sang sopir.


Tiga puluh menit kemudian. Jacqueline, sampai di sebuah kafe yang di janjikan.


"Maaf,aku terlambat ". Jacqueline, tergesa-gesa duduk di kursi.


"Eee...Tidak apa,". Kekehnya Garrix, senyuman kecil di sudut bibirnya.


Jacqueline, kebingungan karena Garrix hannya sendiri. Bukankah,dia bersama istri barunya. "Maaf,mana istri mu Garrix". Tanyanya, Jacqueline.


"Dia,tidak ikut. Karena tidak mau, ikut campur dalam urusan kita". Jawab Garrix, tersenyum.


"Oh,lalu ada apa? Tiba-tiba,mengajak ketemuan. Tenang saja,Kak V tahu kok". Kekehnya, Jacqueline. Sayang sekali,aku ingin melihat istrinya Garrix dan ingin berkenalan secara langsung.

__ADS_1


"Jacqueline,aku minta maaf kepada mu". Garrix, memegang tangan Jacqueline. Tetapi, Jacqueline langsung menghindarinya.


Dia,takut ada mata-mata sekitarnya. Jangan sampai,ada salah paham dengan V.


__ADS_2