
"Jacqueline, bolehkah aku bertanya". Ucap Garrix, tersenyum tipis.
Jacqueline, langsung mengangguk kepala dan perasaannya mulai tidak enak.
"Jujurlah, padaku. Apa benar,kamu tidak mencintai pria lain. Kamu tahu,aku tidak suka dalam hubungan tersimpan suatu kebohongan". Kata Garrix, menatap ke wajah Jacqueline. Mencari-cari sesuatu, yang di sembunyikannya.
Jacqueline, tersenyum. "Garrix,jika pun ada yang aku cintai. Mana mungkin,aku menerima ajakan untuk menikah dengan mu. Sudah pasti,aku akan menolaknya dan tidak melakukan kencan buta".
Benar juga,apa kata Jacqueline. Dia, santai-santai saja. Aku cek ponselnya, tidak ada yang mencurigakan. Tapi,kenapa aku masih belum sepenuhnya mempercayai ucapannya. Astaga, kenapa aku meragukan keseriusannya. Batin Garrix, beberapa hari ini. Pikirannya tidak tenang, selalu memikirkan sesuatu yang di sembunyikan Jacqueline.
"Garrix,kamu meragukan kan? Hemmm... aku paham, kenapa kamu meragukan ku? Setelah menikah,jika kamu memintaku untuk berhenti bekerja. Aku menurutinya,". Kata Jacqueline,dia menghirup jus jeruk di tangannya.
"Maaf,aku,aku baru pertama kalinya menjalin hubungan dengan seorang wanita. Jadi,belum ada berpengalaman. Tapi, masalah pekerjaan mu. Terserah, asalkan kamu bisa mengatur waktu saja". Garrix, tiba-tiba merasa tak nyaman dengan Jacqueline. Apa dia,marah? Sial, aku ceroboh sekali. Seharusnya,jangan mempertanyakan itu! Sama saja,aku meragukan keseriusannya.
Garrix,merasa menyesal sudah menyinggung perasaan Jacqueline.
"Tidak apa,aku memahaminya". Jawab Jacqueline, tersenyum manis.
Garrix, menggenggam erat tangan Jacqueline. "Maaf,aku sudah membuat mu marah". Kata Garrix,yang menunduk.
"Eeee... tidak apa,aku paham kok. Santai saja, wajarlah jika kamu menanyakan soal itu. Soalnya,aku banyak dekat dengan pria. Maksudnya,jadi partner kerja pemotretan model biasanya". Jacqueline, menyentuh pipi Garrix.
Jacqueline , mengakuinya jika Garrix polisi yang tertampan di lihatnya.
Garrix, merasakan kulit pipinya yang di sentuh oleh Jacqueline. Tangannya yang halus, selalu membuatnya rindu di saat bersama.
Jacqueline,tak sengaja bertemu Garrix di jalan. Saat dia, melihat sedang bertugas bersama anggota kepolisian lainnya. Kebetulan sekali, tugasnya sudah selesai. Jadi bisa, nongrong di taman bersama Jacqueline.
Jacqueline, mengundurkan waktunya pemotretan di Villa.
"Sekarang,sudah jam dua siang. Aku harus pergi,kasian Melda menungguku". Ucap Jacqueline, beranjak berdiri.
"Eeee.. benarkah! Ya sudah,aku juga kembali ke kantor polisi. Kamu, hati-hati". Garrix,masih merindukan Jacqueline. Tangan Jacqueline, saja.tak segan untuk di lepas, ingin lebih lama lagi bersama.
"Hemmm.... Karena sore,kami ada pemotretan di villa. Tepatnya,di kebun teh. Memerlukan waktu,dua jam lebih. Dahhh...aku pergi,dulu". Jacqueline, membenarkan penampilan. Di saat ingin melangkah pergi, Garrix tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Aku, masih merindukan mu". Bisik Garrix, malu-malu. Tangannya, terlihat gemeteran sudah.
__ADS_1
Membuat Jacqueline, tersenyum manis. Dia, membalikkan badannya dan sekarang berhadapan dengan Garrix.
Sontak membuat Garrix,membuang muka ke arah lain. Agar tidak, memandang wajah cantik Jacqueline.
Cup....
Jacqueline, mencium bibir Garrix. Walaupun,dia berjinjit agar sampai menciumnya.
Jantung Garrix, berdegup kencang dan tubuhnya menegang saat benda kenyal menyentuh bibirnya.
Jacqueline,hanya terkekeh geli melihat Garrix malu-malu kucing.
"Belajarlah, bagaimana berciuman. Banyak kok, film-film yang mengandung berciuman panas". Kedip mata Jacqueline, melambaikan tangannya. Saat dia, mulai jauh dari Garrix.
Garrix,hanya tersenyum dan mengusap bibirnya. "Baiklah,aku akan belajar dan bertanya kepada yang ahlinya".
Jacqueline, langsung masuk ke dalam mobil dan sudah di tunggu oleh Melda.
"Maaf,agak lama. Maklum lah,sama pria polos". Kekehnya Jacqueline, tersenyum.
"Yayah....terserah, walaupun kita sudah terlambat untuk pemotretan di villa". Gerutu Melda, dengan tatapan tajam. " Bukankah,kamu suhunya! Kenapa, tidak kamu ajarkan kepadanya? Masa,di biarin aja".
Pada akhirnya Jacqueline, memejamkan matanya. Begitu juga Melda, kantuknya tiba-tiba datang. dengan kecepatan sedang,mobil yang di tumpangi mereka membelah jalan raya dan menuju ke arah pengunungan.
**************
Sesampai di kantor polisi, Garrix melihat Zeno,Orion dan lainnya. Tengah menonton film, terlihat adegan romantis dan berciuman.
Benar nih,film ada adegan begituan. Tapi,apa judul filmnya yah. Jangan-jangan, mereka sudah ahli dalam berciuman.batin Garrix,dia semakin fokus saat adegan berciuman semakin panas.
Anggota kepolisian lainnya,juga menegang saat menontonnya.
Braakkkk....
"Sedang apa, kalian". Teriak komandan, semuanya langsung terkejut.
"Lapor, komandan! Kami, sedang menonton film". Jawabnya serentak.
__ADS_1
Membuat komandan, terkekeh geli. "Ya sudahlah, lanjutkan saja". Setelah itu,sang komandan pergi meninggalkan mereka.
"Aaakkhh... Garrix,sejak kapan kamu di sini". Zeno dan lainnya, terkejut melihat sesosok Garrix.
"Lah,dari tadi aku di sini. Sambil, melihat film yang kalian tonton. Beritahu aku,apa judul filmnya. Kan aku baru datang,gak tau awal-awalnya ". Garrix,tak sabar untuk mempelajari adegan romantis itu.
Orion, mengerutkan keningnya. "Yakin mau? Ini banyak adegan,nganu nganu nya".
"Gak papa,anggap saja aku belajar". Jawab Garrix, dengan polosnya.
Membuat yang lainnya, tercengang dan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Garrix.
"Hahahahha....hahahha...".
"Garrix, Garrix kamu memang polos yah". Ucap Zeno, masih menahan tawanya. Dia, langsung memberikan judul film tersebut.
"Makasih". Kata Garrix, membuat lainnya geleng-geleng kepala.
"Garrix, Garrix ada saja. Belajarlah, dengan Zeno. Dia, suhunya dan berpengalaman hebat". Orion, menepuk pundak Garrix.
"Iyalah, diakan suhunya". Kekehnya Garrix, menggeleng kepalanya.
"Tapi,aku juga ada batasnya. Lumayanlah, mumpung masih sendiri. Kalau punya istri,gak bisa ngapain lagi. Hahahahha....". Sahut Zeno, langsung.
"Jangan bilang,kamu tidak bisa berciuman bibir. Ayo,ngaku lo".
"Apaan sih, Zen! Jangan bikin malu lah, ngapain ciuman bibir. Gak jelas banget". bantah Garrix, padahal dia ingin belajar tentang berciuman.
"Hahahaha, maklum masih polos. Garrix, belajarlah untuk mencium bibir kekasihmu. Rasakan, sensasi berbeda saat lidah kalian bermain-main dan menari-nari". Kedip mata Zeno, membuat Orion terkekeh geli.
"Hussssttttt...sana,gak perlu kalian kasih pelajaran seperti itu. Aku,aku bisa sendiri". Tegas Garrix, sebenarnya dia benar-benar malu.
Bahkan, temannya tidak merasa tahu malu memberitahu tentang masalah itu. Garrix,hanya terdiam dan melanjutkan pekerjaannya. Akan tetapi, kepalanya masih terngiang-ngiang dengan adegan berciuman. Dia, semakin penasaran dan ingin berciuman dengan Jacqueline. tiba-tiba saja, adik kecil di dalam sarang terbangun.
"Sial, membayangkan saja. Nih anak,malah bangun. Duhh..sesak lagi,". Gerutu Garrix, calingukan mencari sesuatu untuk menutupi miliknya.
"Ciyeeehhh...bangun,yah". Bisik Zeno, tiba-tiba.
__ADS_1
"Aaakkkhh...". Pekik Garrix, terkejut dengan kedatangan Zeno tiba-tiba. "Sialan lo! Main datang saja". Garrix, melemparkan sebuah dokumen ke arah Zeno.
Zeno,hanya tertawa dan meledek temannya itu. "Hahahaha.... belajar Garrix,belajar. Jangan jadi pria polos,di per-kosa nangis nantinya". Ledek Zeno,yang tak di hiraukan oleh Garrix.