
Frans dan Melda, mengendap-endap mendekati Huda dengan seorang wanita cantik.
Mereka berdua, seakan-akan seperti menguntit di bayar.
"Pantesan saja,aku gak pernah memergoki, Huda selingkuh? Ternyata, selingkuhan di kebun teh". Bisik Melda, menahan dirinya.
"Lalu,kamu tidak menghubunginya apa? Yah, menanyakan dia dimana? Sama siapa,aja? Atau, mengikutinya". Tanya Frans, terheran-heran. Biasanya, wanitalah yang lebih posesif dan curigaan kepada pasangannya. Meskipun,hilang hanya beberapa detik. Sudah panjang kali lebar,cerocosnya. Belum lagi, kecurigaannya.
"Gak! Soalnya ,aku jarang koneksi dengannya. Jadi, perasaanku biasa-biasa saja. Aku, ingin sekali mengakhiri hubungan antara kami. Tapi,aku tidak bisa! Kamu tahu,kan. Orangtuanya Huda, sangat menyukaiku. Lalu,aku tidak tega menyakiti perasaan mereka". Kata Melda, tersenyum.
Oh,ini alasannya untuk tetap bertahan dengan Huda. perkataan Melda,memang benar sih? Orangtuanya Huda, sudah menganggap Melda seperti anaknya sendiri. batin Frans, manggut-manggut saja.
"Ngapain bertahan,jika menyiksa kebahagiaan mu. Lakukanlah,apa yang kamu inginkan". Frans, mencoba memahaminya.
Astaga, susah yah. Kalau, mainnya tidak menggunakan perasaan. Mana mungkin, Frans paham masalah pacaran. Dia, juga tidak pernah pacaran. "Yeee...Itu, perkataan mu". Decak Melda,masih mengintip kemesraan kekasihnya itu.
"Nyesal,aku memberitahu perselingkuhan Huda? Aku kira,kamu ke sana langsung. Terus,main jambak-jambakan. Nangis-nangis segala,beehhh...apa lagi,main tendang-tendangan dan tampar-tamparan". Ucap Frans, terlihat kecewa. Yah...tak sesuai apa,yang aku harapkan. Melda,nampak biasa saja. Gerutu Frans,ikut mengintip Huda dan selingkuhannya tengah berciuman dengan mesra.
Ha..? Jangan bilang,dia ingin menonton aksi ku. Enak saja,emangnya aku cewek apaan? Segala main kekerasan, keenakan cowok nya dong. berasa di rebut kan, dengan dua wanita cantik.Melda, cekikikan menahan tawanya. Melihat Frans,membuang mukanya. "Wajahmu, memerah Frans. Malu,yah....lihat mereka berciuman, bagaimana kalau kita". Kedip mata Melda, menggodanya.
"Hussssttttt....jangan macam-macam,aku bisa memperkosa mu di sini juga". Ancam Frans, penuh penekanan. Huuuff... terpaksa, harus mengancam dia seperti ini. Untuk tidak,nekat menciumi ku.
Melda,hanya berdecak sebal. Tak lupa memotret dan merekam aksinya Huda. Untuk bukti yang,kuat. "Untuk apa juga,nangis kejer dan main kekerasan. Sekarang, waktunya main cantik Frans. Aku,bodo amat dia selingkuh. Berarti,dia tidak serius dengan ku". Melda, masih tersenyum manis. "Aku, memang memiliki hubungan dengan Huda. Tapi,di hatiku mencintai seorang pria lain".
Mencintai pria lain? Jangan bilang,aku. Tebak Frans,akan tetapi dia menepis pikirannya.
"Ck, ternyata kamu sama saja dengan Huda". Gumam Frans,masih terdengar oleh Melda.
Sampai kapan, Frans? Kamu, seakan-akan tidak menyadari perasaan ku. Batin Melda, melirik sekilas ke arah Frans. Yang masih fokus, melihat dua sejoli tengah bermesraan.
__ADS_1
"Sudahlah, capek sembunyi-sembunyi. Waktunya, melabrak kekasih yang tengah berselingkuh". Melda, langsung melenggang pergi ke arah Huda.
"Eeee.. sekarang kah! Sudahlah,aku tinggal di sini saja. tiba waktunya,aku keluar". Gumam Frans,masih bersembunyi.
Prokkk.... Prokkk... Prokkk...
Melda, bertepuk tangan sambil berjalan. Sontak membuat Huda, langsung melepaskan pelukannya pada selingkuhan.
"Hebat, sangat hebat! Berselingkuh,di atas pegunungan kebun teh. Wowwww.... sangat romantis,apa lagi suasana begitu sejuk". Ucap Melda, tersenyum smrik. "Loh, kenapa dilepas pelukkannya? Oups... ketahuan yah, lanjutkan saja. Jangan hiraukan, keberadaan ku".
Sial,kenapa sudah ketahuan? Bagaimana ini, sudah ketangkap basah. Berbohong dan beralasan pun, tidak mampu. Huda, gelabakan karena ketahuan.
"Me-melda... Ak-aku minta maaf, kepada mu. Sebenarnya, iy-iya ak-aku... huuff,kau benar Melda. Aku, mengkhianati cinta kita". Huda,yang sudah di tangkap basah. Tidak bisa, menyembunyikan kebohongannya
Hemmm... pria memang seperti,itu. Jika ketahuan, baru mengaku. Coba saja, tidak ketahuan. Mana mungkin, mengakuinya. Gerutu Melda, di dalam hati. Muak melihat,ke arah wanita itu."Tentu, kau mengakuinya Huda. Karena, ketangkap basah kan. Kapan,kalian menjalin hubungan di belakang ku. Oh,tentu sudah lama kan". Tanya Melda, dengan santainya.
"Namaku,Jenni. Mantan kekasihnya, Huda. Maaf,aku tidak bermaksud untuk mengusir hubungan antara kalian. Tapi, kami saling mencintai". Lirih seorang, wanita di sampingnya Huda. Asalkan kamu,tahu! Huda, selalu mengutamakan diriku di bandingkan dengan mu.
Coba aku,tebak. Pasti,ada sesuatu yang tidak beres. Hingga akhirnya,dia tidak berani mengakhiri hubungan ini.batin Melda,masih tersenyum.
"Lantas,kenapa kamu tidak memutuskan hubungan kita? Atau,karena kedua orangtuamu ha? Jangan-jangan,cinta kalian tidak di restui ha. Oh, ini alasannya untuk menunda pernikahan kita". Melda,masih berusaha tertawa dan tersenyum.
"Iya,kau benar Melda". Jawab Huda, ingin mendekatinya. Akan tetapi, Melda langsung memberikan kode agar tidak terlalu dekat. "Sebenarnya,aku ingin mengakhiri hubungan kita. Tapi,karena orangtuaku sangat menginginkan dirimu sebagai menantu. Itu,yang membuatku bingung". Aku yakin, kedua orangtuaku. Akan marah dan kecewa,karena kehilangan Melda. Hanya Melda,yang mereka inginkan menjadi menantu.
Baiklah,aku akan memberikan kalian kebebasan. Tanpa, bersembunyi lagi dan takut."Oke, sekarang kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Satu hal, katakan bahwa kau memutuskan hubungan kita. Kamu, harus memberitahu kepada kedua orangtuamu ". Tegas Melda, dia yakin Huda tak sanggup.
Sial,sial, jabatan di kantor bisa di turunkan oleh papah. Aku yakin,anak pungut itu yang berkuasa nantinya. Gerutu Huda,di dalam hati.
"Melda,aku mohon. Beri aku, walaupun sedikit. Aku,masih belum siap memberitahu semuanya. Plissss....". Pinta Huda, terlihat jelas wajahnya bersedih
__ADS_1
"Tidak,kau harus memberitahu secepatnya. Karena aku, memiliki bukti-bukti tentang perselingkuhan mu". Ancam Melda,tak main-main. "Lebih cepat, lebih baik. rasanya,muak menjalin hubungan tanpa ada cinta seperti ini. Apa lagi,kamu berselingkuh di belakang ku ha? Pernahkah,kamu memikirkan perasaan ku. Tentu saja, tidak kan. Apa lagi, wanita di sebelah mu itu". Sindir Melda.
"Cukup, Melda! Jenni, tidak bersalah apapun. Ini semua,aku". Huda, langsung membela Jenni. Mendengar ucapan Huda, membuat Melda tertawa renyah.
Frans,juga keluar dari persembunyiannya. Membuat Huda,kesal dan geram kepadanya. "Brengseeekk.... Ternyata,kamu memberitahu kepadanya ha". Huda, langsung menarik kerah kemeja Frans.
Akan tetapi, Frans lebih kuat dari Huda. Dengan mudah, Frans melepaskan cengkraman Huda dan menghempaskannya. "Jangan main-main, denganku. Sudah sewajarnya,aku melindungi keluarga Fernandez. Termasuk,orang di dekatnya". Tegasnya,nyali Huda langsung ciut.
Sial, dia lebih kuat daripada aku. Kurang ajar sekali, main-main denganku. Awas kamu, Frans. Batin Huda,dia menaruh rasa dendam.
"Awas kau, Frans. Ini adalah urusan kami, kau tidak berhak mengusiknya". Huda, menunjukkan kepada Frans. Dia, benar-benar marah sangat marah.
Rupanya, Huda ingin membalas dendam kepada Frans. Oh, tidak akan aku biarkan.
"Huda! Dia, tidak bersalah. Aku, yang memintanya untuk menemani ku". Melda, langsung membantah perkataan Huda.
"Ingatlah,jika kamu berani macam-macam dengan Frans. Bukti tentang perselingkuhan mu,aku sebarkan". Ancam Melda, tak main-main. Astaga,aku melihat secara langsung. Bagaimana, kekar dan kuatnya Frans. Jadi, tambah cinta dan sayang aku. Melda, mengerjapkan matanya beberapa kali. tentu saja,ke arah Frans.
Astaga, kenapa masih memikirkan wanita itu sih. Batin Jenni, terlihat cemburu.
"Huda, sudahlah. Jangan mempersulit keadaan,". Jenni, menenangkan pikiran Huda.
"Ayo,kita pergi ". Ucap Melda, menggandeng lengan Frans.
Tentu saja, Frans tersenyum dan mengangguk pelan.
Huda dan Jenni, menatap kepergian mereka.
Beberapa kali, Jenni menenangkan hati Kekasihnya itu.
__ADS_1