
Frans, menatap tajam ke arah jalan raya. Pikirannya, berkecamuk kemana-mana. Mobilnya berhenti,tepat di lampu merah.
Sesekali memandangi jam tangannya, sudah menunjukkan pukul lima sore. Matanya tertuju pada mobil,yang di kenalnya.
"Mobil, Huda. Benar sekali". Gumam Frans,dia tidak mengetahui jika di dalam mobil Huda. Ada Melda,tengah berbaring lemah dan tidak sadarkan diri.
Mata tajam Frans, melihat sekilas sebuah tas yang di kenalnya. Akan tetapi, lampu merah sudah berwarna hijau. Mobil lainnya, beberapa kali membunyikan klakson.
"Sial,dia belok kiri". Gerutu Frans,dia ingin memastikan bahwa bukan tas Melda. "Ck, palingan aku salah lihat. Tas seperti itu, banyak sekali orang memilikinya.Tapi,kemana pemilik tas tadi? Seandainya, Huda bersama wanita lain. Pasti, terlihat jelas ada di sampingnya. Sedangkan tadi, tidak ada sama sekali. Atau, jangan-jangan". Frans, langsung menghubungi Melda.
Beberapa kali, telponnya tidak di angkat. Lalu, tidak aktif lagi. "Sialan, ponselnya di nonaktifkan". Kecurigaan di mobil Huda,memang benar adanya Melda.
Dengan cepat Frans, mengambil laptop dan melacak keberadaan Melda. skill Frans, tidak bisa di ragukan lagi.
Sebuah titik merah, menandakan keberadaan Melda. Akan tetapi,titik merah itu selalu bergerak ke tujuan. " Sepertinya,ke villa. Jangan-jangan, Melda di culik Huda". Frans, langsung menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia, segera menyusul mobil Huda.
Secepat mungkin, Frans harus bisa menyelamatkan Melda. Jangan sampai terlambat,dia sudah berjanji kepada keluarga Fernandez akan melindunginya.
"Sialan,kau Huda". Gerutu Frans, menelpon V agar dia mengetahui jika Melda dalam bahaya.
(Ada apa, Frans). V.
"Bos, menjauhlah dari Nona Jacqueline. Ini sangat penting,". Pinta Frans,agar Jacqueline tidak mengetahui sahabatnya dalam bahaya. Kemungkinan Jacqueline,marah besar.
__ADS_1
(Hemmm...Aku sudah menjauh dari istriku, sekarang katakan). V
"Bos, Melda di culik oleh Huda. Sekarang aku,tengah menyusulnya ke sana. Jika tidak percaya,bos lacak saja keberadaan Melda dan Huda. Mereka, dalam titik yang sama. Sepertinya, Melda tidak sadarkan diri". Frans, langsung memberitahu apa yang terjadi.
(Baiklah, aku akan melakukannya. Kau tahu, apa yang harus kamu lakukan. Selamatkan Melda,jangan sampai kenapa-kenapa. Ingatlah, jangan ada yang tahu! Cukup kita,kau paham). Perintah V, dengan nada tegas.
Frans, memutuskan panggilan telponnya. Dia,fokus menyetir mobil.
Pepohonan menjulang tinggi,di lewati. Suasana sangat sepi dan sejuk. Tidak dengan Frans,dia semakin gelisah karena Huda sudah sampai di villa. Takutnya, Huda melancarkan aksinya dengan Melda. Entah, apa yang terjadi di saat Melda sadar dan melihat kondisinya seperti tak wajar.
Frans, menghentikan mobilnya agak jauh dari villa. Dia, mengendap-endap mendekati Villa tersebut. Tidak mungkin,dia melakukan gegabah dalam misinya.
Saat tiba di pintu,dia sedikit mengintip. Matanya tertuju kepada Melda, tengah duduk santai di ruang tamu. Keningnya mengerut, Frans tampak kebingungan. Karena Melda, tidak kenapa-kenapa. Bukankah, Melda tidak sadarkan diri? Lalu, kenapa dia terlihat tidak apa-apa. Jangan bilang, Melda sudah sadarkan diri.Batin Frans,hanya menebak saja.
"Melda,kamu marah kepada ku". Tanya Huda, memandang wajah cantik Melda. Gagal,gagal lagi. Tidak,aku tidak akan menyerah.
"Apa, maksud semua ini? Kamukan, menaruh obat di minuman ku. Lalu, untuk apa lagi? Kamu, membawaku ke sini. Ck,bedebah". Melda, menepis tangan Huda. Kenapa,aku tiba-tiba ceroboh? Tidak seperti biasanya,aku selalu berhati-hati. Kenapa, Huda ada di pesta ulangtahun temanku? Hemmm....
"Mel,aku benar-benar minta maaf kepada mu. Sumpah,bukan aku melakukan hal itu. Ada seseorang,yang berniat jahat kepadamu. Makanya,aku membawa mu ke sini". Huda, membantah atas tuduhan Melda. Sialan,kenapa reaksi obatnya hanya sebentar. Ck,awas kamu sudah membohongi ku.
"Aku, tidak mempercayai perkataanmu,Huda. Jangan-jangan,kamu ingin melakukan hal yang tidak baik kepadaku. Ingatlah, jangan macam-macam dengan ku. Jika itu terjadi, tanggung sendiri akibatnya". Tegas Melda, dengan tatapan tajam. Sialnya, kenapa kamu tiba-tiba datang di kehidupan damaiki. Tidak lama lagi, orangtuamu akan datang kepadaku. Suka sekali, membuat diriku pusing.
"Mel,aku minta maaf sebesar-besarnya kepada mu. Sumpah, bukan aku pelakunya. Jujur Melda,aku menyesal sudah kehilanganmu. Dia, meninggalkan ku Melda. Karena hubungan kami, tidak di restui. Aku,mohon kembalilah padaku". Pinta Huda, dengan tatapan sendu. Ayolah, terimalah ajakanku. Apa susahnya, Melda. Mana mungkin,kamu menolak pesona ketampanan ku ini.
__ADS_1
Frans, bersandar di dinding dan menghela nafas beratnya. Dia, menunggu apa jawaban dari Melda.
"Huda,aku tidak bisa kembali kepadamu". Melda, langsung menolaknya. Hahahaha.... Ingin sekali, aku tertawa terbahak-bahak. Akan tetapi,kepalaku masih sakit. Jangankan ketawa, berbicara pun aku malas.
"Mel, sekarang hanya aku dan kamu. Tahukan,jika aku berbuat apa-apa". Huda, terdengar seperti mengancam Melda. Aaaakkhh....Padahal, tinggal sedikit lagi. Aku,bisa membuat Melda bertekuk lutut kepadaku.
"Kamu kira,aku takut dengan ancamanmu ha". Melda,tak mungkin takut melawan Huda. Cowok brengsek, kaya kamu. Tidak membuatku takut, lumayan aku bisa memberikan bogem mentah di wajah mu.
"Oke,aku minta maaf. Plissss.. Berilah,aku kesempatan lagi Melda. Aku mohon,jika kamu tetap menolakku. Aku, akan berusaha untuk mengejar cintamu lagi". Huda, tersenyum manis.
Namun Melda, memalingkan wajahnya ke arah lain. "Antarkan aku,pulang. Sekarang juga, Huda". Pintanya, langsung di angguki Huda. Malas sekali, meladeni pria brengsek seperti ini. Mending, pulang dan bobo cantik lagi.
Untuk kali ini,aku biarkan kamu lolos Melda. Kamu, harus menjadi milikku. Batin Huda, tersenyum smrik. "Baiklah,Ayo". Lirih Huda, terlihat lesu.
Frans, langsung berlarian ke arah mobil dan berlindung di persimpangan jalan. Agar mereka, tidak mengetahui keberadaannya. Tak lupa juga, Frans menghubungi V. Lalu, menceritakan yang sebenarnya.
Terlihat Melda dan Huda, keluar dari villa. Tentunya, Huda membuka pintu mobil dan Melda masuk.
Tidak ada kata-kata, apapun yang keluar dari mulut Melda. Kepalanya,masih nyut-nyutan. Dia juga,masih curiga kepada Huda.
Untung saja,aku secepatnya siuman tadi. Jika tidak, kemungkinan aku akan menyesal. Aku yakin, Huda ingin melakukan tak senonoh kepadaku. Batin Melda, menoleh sekilas ke arah Huda. "Kenapa,kamu ingin belikan kepadaku". Tanya Melda, sebenarnya dia menaruh rasa curiga kepada Hudaya.
Apakah Huda, mampu memberikan penjelasan untuk meyakinkan perasaan Melda. Atau,dia beralasan tak masuk akal.Ada senyum manis di sudut bibir Huda, membuat Melda curiga.
__ADS_1